Cegah Hoaks dengan Membaca

Cegah Hoaks dengan Membaca

SHNet, Jakarta–Berita palsu atau hoaks bukanlah barang baru. Sejak manusia diciptakan, virus hoaks sudah ada dan terus berkembang seiring zaman.

Sejak virus Covid-29 mewabah, banyak sekali ditemukan berita maupun informasi terkait hal tersebut yang ternyata palsu (hoax). Penyebaran hoaks bisa dicegah sedini mungkin agar tidak memberikan efek berbahaya bagi publik, salah satunya dengan membaca.

Dalam suatu literatur, hoaks sudah muncul pada abad ke-17 dan terus berkembang seiring kemajuan teknologi informasi komunikasi.

“Manusia cenderung ingin terlihat eksklusif. Menjadi yang pertama membagikan informasi. Apalagi jika informasi tersebut diperoleh dari lingkungan terdekat, seperti keluarga atau teman dekat,” jelas Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Woro Titi Haryanti, pada gelaran Webinar ‘Mencegah Hoax Dengan Membaca’, kemarin.

Lebih jauh Woro Titi menjabarkan, ada beberapa jenis hoaks yang biasa beredar di masyarakat seperti pesan berantai, penipuan online, pencemaran nama baik, kisah yang sedih atau memilukan, hingga hoaks seputar tentang mitos-mitos (urban legend).

Agar tidak terpapar berita atau informasi hoaks, Woro Titi meminta siapapun ketika mendapatkan informasi yang ganjil untuk mendiamkan sejenak, kemudian telusuri melalui sumber atau portal yang terpercaya. Bisa juga merujuk kepada perpustakaan sebelum men-share kembali.

“Kita kumpulkan bahan-bahan bacaan dan memahami arti yang tersirat dari apa yang tersurat. Ciptakan inovasi baru dari hasil bacaan menjadi sesuatu yang positif. Sehingga, hasil literasi kita akan membawa SDM Indonesia maju dan siap bersaing,” tuturnya.

Banjir bandang informasi menyebabkan masyarakat sulit membedakan informasi mana yang benar dan bohong. Ini tantangan dalam mengelola informasi.

“Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang suka ngobrol. Lebih-lebih di media sosial, dimana pengguna Facebook dan Instagram di Indonesia menyentuh angka puluhan juta,” beber Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab.

Ia mengakui ada beberapa alasan kenapa hoaks bisa beredar cepat. Pertama karakter masyarakat Indonesia yang suka ngobrol, sehingga lebih rentan terkena hoaks. Kedua, masyarakat Indonesia juga lebih percaya jika mendapatkan informasi dari orang-orang terdekat. Ketiga, situasi yang mempengaruhi terlebih di saat pandemi.

“Ini yang membuat hoaks tumbuh subur karena masyarakat masih sulit mencari referensi Covid-19 yang terhitung baru,” tambah Najwa.

Najwa berpesan agar berhati-hati dengan judul berita yang provokatif, cermati alamat situs, abal-abal atau tidak. Lalu, cek keaslian foto. Saat ini sudah banyak aplikasi yang disediakan untuk mengecek keaslian sumber informasi, gambar, dan foto-foto.

Mewabahnya hoaks di Indonesia salah satu sebabnya adalah belum ajegnya budaya baca secara fisik dengan buku-buku, lalu dengan cepat beralih ke budaya baca digital.

Budaya baca digital memerlukan kemampuan literasi yang kuat. Dan masyarakat Indonesia masih rentan karena belum mampu memilih serta memilah informasi yang tepat dan sesuai kebutuhan.

“Membaca buku secara fisik akan membawa karakter yang tidak mudah percaya dengan kiriman informasi. Punya rasa penasaran, berhati hati dalam mengambil keputusan, dan terbiasa mencari benang merah dari yang dibacanya. Tidak mudah dibohongi. Sedangkan membaca buku secara digital, biasanya yang dibaca hanya poin-poin atau sepotong-potong,” urai Nana, sapaan akrab Najwa Shihab. (Stevani Elisabeth)