BNN Masih Butuh Arman Depari

BNN Masih Butuh Arman Depari

 

SHNet, Jakarta–Perpindahan Irjen Pol Arman Depari dari Deputi Pemberantasan BNN menjadi Komisaris di Prlindo I disayangkan berbagai pihak.

Keberadaan Arman di BNN dinilai masih sangat dibutuhkan untuk memerangi peredaran narkoba di tanah air.

Apalagi bila melihat aksi ‘gila’ para gembong narkoba ditengah pandemi virus Corona ini.

Rabu (3/6), Polisi menemukan sabu sebanyak 402 kilogram disebuah rumah di Villa Taman Anggrek, Sukabumi, Jawa Barat.

Seminggu sebelumnya BNN menggerebek sebuah gudang di Desa Mekarmukti, Cikarang dan menemukan sekitar 100 kilogram sabu yang disimpan dalam karung beras.

Sabtu (23/5) Satgasus Bareskrim Mabes Polri menyita 821 kilogram sabu dari sebuah gudang penyimpanan Narkoba di Kota Serang

Keberadaan jenderal bintang dua yang selama 20 tahun ‘malang melintang’ menggerus peredaran narkoba di Indonesia sangat sulit digantikan.

Ia mungkin sudah menjadi momok bagi banyak bandar narkoba di bawah kolong langit Bumi Pertiwi ini. Dan tidak berlebihan jika dikatakan, namanya seakan menjadi ikon pemberantasan narkoba di Negara Kesatuan ini. Itu artinya, tidak perlu diragukan dedikasi Arman yang tinggi untuk menjaga Indonesia dari ‘serangan’ para sundikat narkotika.

Namun, April lalu, Menteri BUMN Erick Tohir mengeluarkan pernyataan bahwa Sang Jenderal akan ditarik menjadi Komisaris di Pelindo I.

Sepak terjangnya memburu para bandar dan pengedar narkoba, para perusak anak bangsa melalui BNN, tentu saja akan berakhir.

Adalah Jefry Tambayong, Ketua Umum Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba (Fokan) ini menyayangkan keputusan itu. Menurut Jefry, sampai saat ini belum ada sosok yang tepat untuk menggantikan Arman. Kinerja jenderal gondrong itu dinilainya masih diperlukan untuk memberantas peredaran narkoba di Indonesia.

“Berapa banyak upaya penyelundupan yang digagalkan, banyak juga bandar yang ditindak selama ini, di bawah kepemimpinan pak Arman,” tandasnya baru-baru ini di Jakarta.

Jefry menyatakan, pengalaman nyaris 20 tahun menangani kejahatan tindak pidana narkoba membuat Arman paham cara kerja para gembong narkoba.

“Kiprahnya pun terbilang moncer sejak memimpin Dirtipid Narkoba Bareskrim Polri hingga BNN sekarang. Dan sampai saat ini belum ada yang bisa menggantikan sosok beliau dalam upaya pemberantasan narkotika di Indonesia,” tandasnya.

Selain tak kenal ampun terhadap gembong narkoba, Arman juga gencar memberantas peredaran narkoba di tempat hiburan malam.
Karena itu, Jefry mengharapkan pemerintah harus berpikir ulang sebelum melepas Arman ke jabatan barunya sebagai Komisaris Pelindo I.

“Kami berharap bapak Presiden dan pak Kapolri mempertimbangkan segala hal,” tutur Jefry lagi.

Sementara itu, Fauka Noer Farid, Direktur Eksekutif Institute Kajian Pertahanan dan Intelijen Indonesia (IKAPII), memberikan pandangan yang serupa. Arman yang tahun ini pensiun, menurut Fauka, lebih tepat mengisi jabatan sebagai Dirjen Imigrasi.

Ia menyatakan alasannya, selama mengusut kasus narkoba Arman sudah berhubungan dengan banyak negara dan memahami kasus kejahatan internasional.

Mantan anggota Kopassus itu menilai kemampuan Arman masih diperlukan agar Indonesia lepas dari status darurat narkoba.

“Dikhawatirkan bila sosok itu hilang penyelundup narkoba semakin merajalela. Di satu sisi pastinya peredaran narkoba yang akan masuk ke Indonesia bisa lebih terpantau,” ujarnya.

Sesuai UU, Arman Depari, meski pensiun sebagai anggota Polri, ia masih bisa mengabdi di BNN.

Sebelumnya, Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol (Purn) Benny Mamoto yang sudah pensiun dari Polri sejak 2013 ternyata masih tetap mengabdi di BNN.

Alasannya, Benny Mamoto diangkat sebagai Deputi Pemberantasan dengan keputusan presiden (Keppres), bukan surat keputusan (Skep) Kapolri. BNN berada langsung di bawah Presiden. Proses pemilihan pejabatnya melalui sidang TPA (Tim Penilai Akhir) yang dipimpin wakil presiden.

Berdasarkan hal itu, pergantian pejabat BNN tidak mengacu pada Polri.

Mengingat BNN di bawah presiden maka bisa saja jabatan diperpanjang meski sudah pensiun dari Polri.

Bahkan, kalau presiden Jokowi jeli melihat persoalan narkoba di Tanah air, ia bisa saja memilih Arman menjadi Kepala BNN. Kenapa tidak ?

Tidak ada bedanya dengan Komjen Pul Purnawirawan Budi Gunawan yang tetap dipertahankan di BIN hingga hari ini.

Presiden juga pernah memperpanjang jabatan Kepala BNPT Ansaaf Mbay. Ansaad yg sudah pensiun dari Polri tetap menjabat Kepala BNPT. (Tra Ginting)