Mendikbud: Saya Ingin Tersebar Paradigma Baru

Mendikbud: Saya Ingin Tersebar Paradigma Baru

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim saat Konferensi Pendidikan dalam rangka Peluncuran Program Akademi Edukreator melalui telekonferensi di Jakarta, Rabu (6/5).[SHNet/Ist]

SHNet, Kediri – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makariem mengatakan, dirinya menginginkan sebuah paradigma baru tersebar. Paradigma yang dimaksudnya, di mana siswa, guru, dan orang tua merdeka untuk mencoba hal-hal baru.

Mendikbud menyampaikan hal ini saat menjadi pembicara dalam Konferensi Pendidikan dan Peluncuran Program Akademi Edukreator yang bertemakan “Membangun Dunia Pendidikan Baru” secara telekonferensi di Jakarta, Rabu (6/5).

Ia menyampaikan pandangannya, bahwa penting untuk mengenalkan paradigma baru pendidikan yang lebih kolaboratif. Menurutnya, kreativitas dan inovasi yang muncul dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

“Saya ingin tersebar sebuah paradigma baru di mana siswa, guru, dan orang tua merdeka untuk mencoba hal-hal baru. Banyak bertanya, mencoba, dan berkarya,” tuturnya.

Baca juga:
Tujuh Tips Mendikbud untuk Pembelajaran Jarak Jauh
IGI: Hardiknas 2020, Era Kebangkitan Guru Milenial!

Sebelumnya, Mendikbud menjelaskan bahwa prinsip Merdeka Belajar adalah memberikan otonomi, transparansi, efisiensi, dan fleksibilitas. Sehingga upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di dunia pendidikan dapat lebih optimal dan berdampak.

Pendidikan Milik Masyarakat Bukan Hanya Pemerintah
“Esensi Merdeka Belajar bahwa pendidikan itu bukan hanya milik pemerintah. Pendidikan itu adalah miliknya masyarakat, dari masyarakat, untuk masyarakat. Tentunya dengan kurasi kualitas yang baik. Tetapi pendidikan itu bisa dalam format yang sangat variatif dan bisa didapatkan dari berbagai macam pihak,” ujarnya.

“Dengan teknologi yang kita miliki sekarang, kita bisa akses itu dari mana pun. Jadinya inilah yang namanya Merdeka Belajar,” tambahnya.

Untuk itulah, menurut Nadiem, Kemendikbud mendorong terciptanya perubahan mendasar di dunia pendidikan. Salah satunya adalah mendorong partisipasi publik yang lebih besar dalam gotong-royong membangun pendidikan nasional.

Ia mencontohkan, semakin menguatnya peranan komunitas dan organisasi pendidikan dalam kemitraan bersama pemerintah pusat ataupun daerah.

“Itu yang akan menciptakan transformasi oganik budaya pendidikan kita,” ujarnya.

Mendekatkan Pendidikan dengan Dunia Nyata
Mendikbud Nadiem mengakui bahwa salah satu semangat Merdeka Belajar adalah untuk mengaitkan sistem pendidikan dengan kebutuhan di dunia nyata atau dunia profesional tempat berkarya. Ia mencontohkan, ketika terjadi wabah maka penelitian di bidang kesehatan sangat dibutuhkan. Melalui penelitian, kita bisa mengidentifikasi wabah dan mencari solusinya.

Lebih lanjut, Nadiem mengatakan yang dimaksud dunia nyata bukan hanya industri, tetapi juga sektor pemerintahan maupun sektor sosial atau nonprofit.

Baca juga:
KPAI dan FSGI: Guru Masih Targetkan Capaian Kurikulum
PGRI Rapat Virtual di Tengah Pandemi Covid-19

“Bagaimana kita meningkatkan relevansi pembelajaran kepada dunia nyata. Jadi, kita membuat pendidikan kita serelevan mungkin terhadap apa yang terjadi di dunia nyata, bukan hanya dunia akademik,” ujar Nadiem.

Oleh karena itu, menurutnya, tugas Kemendikbud adalah menciptakan sistem pendidikan yang memerdekakan potensi guru, kepala sekolah, dan siswa.

“Kemendikbud selalu konsisten dalam menjalankan konsep (Merdeka Belajar) ini,” ujarnya.

Saat ini, Indonesia membutuhkan guru-guru penggerak yang fokus kepada peserta didiknya. Guru yang memiliki motivasi atau panggilan jiwa menjadi pendidik dan fokus pada kepemimpinan.

“Jika ingin menciptakan sekolah berkelas dunia misalnya, maka ekosistem pendidikan kita harus mengikuti standar dunia. Perubahan itu harus terjadi. Mendekatkan pendidikan kita dengan dunia nyata,” ujar Mendikbud.

Kemudian, kualitas kepala sekolah yang menentukan perubahan ekosistem pendidikan.

“Kepala sekolah harus memiliki kapabilitas untuk menjadi mentor guru-guru di lingkungannya dengan kualitas pembelajaran yang memadai. Ia juga harus bisa menghadirkan guru-guru penggerak yang akan membantu memajukan pendidikan,” ujarnya. (whm/sp)