Jejak Jangkar Tua di Kampung Malisu

Jejak Jangkar Tua di Kampung Malisu

Jangkar di Kampung Malisu. (foto: cagar budaya, kemendikbud)

Pulau Sumba berada di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau yang berada di bagian selatan Pulau Flores ini memiliki sejarah panjang, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Wangi kayu cendana telah menarik minat pedagang asing untuk melakukan perdagangan. China sudah memperoleh pasokan cendana sebelum menemukan jalur untuk berdagang sendiri ke kepulauan Timor. Pada abad ke-13 dan ke-14, pedagang China mencari sendiri kayu cendana tanpa melalui perantara.

Dalam referensi klasik China, karya Chau Ju-kua (pejabat urusan perdagangan dengan negara-negara asing di Tshuan-chou/Guangzhou) mencatat dengan baik dalam laporan pedagang dan pelaut Cina antara tahun 1178-1225, termasuk kontak dagang dengan Kepulauan Timor.

Catatan lain ditemukan dalam Robin A Donkin mengutip WW Rockhill (1915), pada 1349, dapat dibaca: [Timor] tidak memiliki produk langka selain cendana, yang sangat berlimpah, dan yang dibarter dengan perak, besi, gelas [atau porselen], kain dan taffetas berwarna. Sekali lagi pada tahun 1436: “(Ki-li Ti-men) hanya memiliki hutan mewah atau kayu cendana; tidak menghasilkan apa-apa lagi. Ada dua belas pelabuhan dagang.”

Bisa jadi dari 12 pelabuhan dagang itu, Mamboro menjadi salah satunya, kalau dikaitkan dengan syair adat untuk wilayah di Mamboro sebagai “Mananga Lele, Mananga Rewa” secara harafiah berarti “Muara Gelang, Muara Manik-manik”.

Warisan gelang dan manik-manik dari masa silam itu masih sangat mudah ditemukan dalam abad milineal ini. Bahkan, gelang gading dan beberapa jenis manik-manik (mutisalah) ini menjadi mas kawin dalam upacara perkawinan orang Sumba. Gelang gading ini biasanya dikenakan pengantin perempuan ketika pindah ke rumah keluarga pria. Padahal, Pulau Sumba tidak pernah memiliki gajah, sehingga diperkirakan gading gajah ini dibawa pedagang asing untuk berdagang di Pulau Sumba, termasuk berdagang di Pulau Timor dan sekitarnya.

Kalau asal muasal gading gajah, tentu mudah ditelusuri dengan mengidentifikasi daerah atau negara yang memiliki gajah, seperti sejumlah pulau di Indonesia dan sejumlah negara. Sedangkan, asal-muasal mutisalah di Sumba dan sekitarnya belum jelas. Pada tahun 1899, seorang ilmuwan G.P. Rouffaer pernah menulis artikel “Waar Kwamen de Raadselachtige Moetisalah’s (Aggri-Kralen) in de Timor-Groep Oorspronkelijk van daan?” (Darimana datangnya misteri Mutisalah di Grup Timor?”). Hanya saja, isi  tulisan tidak memberikan jawaban seperti judul tulisan. Rouffaer hanya menggambarkan, tempat terakhir yang dikenal adalah wilayah yang hebat dalam memproses batu akik untuk Eropa. Namanya Cambay di India. Suku Bhils merupakan pedagang dan pembuat manik-manik carnelian untuk orang Cambay.

Namun, Nasrudin dalam tulisannya di Jurnal Papua pada tahun 2016, mengutip sejumlah ahli yang memperkirakan manik-manik polikrom yang beredar di Nusantara pada abad sejarah (sekitar abad ke-5 Masehi), hingga masa kolonial, yaitu berasal dari beberapa tempat antara lain India Utara, Asia Barat melalui jalur sutra, dan yang cukup dominan adalah Cina. Ketika ekspansi orang-orang Eropa pada sekitar abad ke-16 hingga 17 Masehi, perdagangan manik-manik kaca di Nusantara mencapai puncaknya untuk ditukarkan dalam bentuk barter dengan kekayaan alam atau rempah.

Hanya saja, kedatangan VOC (kompeni) di Hindia Timur (Indonesia), ternyata Sumba tidak menarik minat pedagang kompeni. Bahkan, nama Pulau Sumba pada abad ke-19 masih berubah-ubah meski lebih dikenal sebagai Pulau Cendana. Tidak banyak referensi tertulis mengenai Sumba pada masa VOC. Berbeda dengan Solor, Timor, Kepualaun Maluku, Jawa dan sebagainya. Pengaruh VOC di Sumba nyaris tidak ada dan memang VOC enggan untuk menjalin hubungan dagang dengan Sumba.

Pada masa VOC, hanya tulisan administrasi dagang di Pulau Onrust, Willem van Hogendorp pada tahun 1775. Hogendorp  menjelaskan,  Pulau Sumba merupakan pulau terakhir Belanda pada masa VOC.  Dalam tulisan ini, juga menyinggung keberadaan kuda Sumba untuk pertama kali. Hogendorp membuat satu kesimpulan yang sangat tepat di akhir tulisannya. Pada tahun-tahun terakhir Compagnie (VOC), orang-orang di Sumba sepenuhnya diabaikan.

Deskripsi kedua mengenai Sumba atau yang pertama dalam masa Hindia Belanda merupakan karya J.D. Kruseman pada 1834 yang berjudul Beschrijving Van Het Sandelhout Eiland. Cukup menarik karena Kruseman tidak pernah mampir di Pulau Sumba, tetapi mampu membuat deskripsi mengenai Sumba.

J.D. Kruseman merupakan Komisaris Pemerintah Belanda di Batavia yang melakukan penyelidikan perdagangan dan industri di Timor, Sabu, Rote dan Solor pada tahun 1824. Sebenarnya, dia ingin pergi ke Sumba, tapi dibatalkan karena waktu yang tidak cukup. Kruseman tidak kehabisan akal, dia memanfaatkan informasi dari JA Batiest untuk menulis tentang Sumba. JA Batiest adalah Kapten Kapal Pamanoekan, yang berlayar dari Jawa ke Makassar dan terdampar di Sumba pada tahun 1820 di dekat lanskap di bagian barat laut, disebut “Labaija Patjallang” (Lamboya Patiyala).

Dalam catatan Roo Anderwelt (1906), Kapten Batiest dan awaknya ditahan penduduk. Mereka mengambil barang yang dapat diselamatkan dari bangkai kapal dan menuntun mereka ke gunung seperti budak. Selama berbulan-bulan ia harus melepaskan semua harapan untuk kebebasannya sampai akhirnya ia dibawa Kapal Ende ke Makassar.

Kesan Batiest terhadap orang Sumba ternyata tidak seperti yang tampak ketika orang Lamboya merusak kapal dan mengangkut semua yang bisa dibawa ke perkampungan dan menggiring awak kapal seperti budak. Kesan Batiest bisa jadi berubah 180 derajat setelah menyaksikan keramahan orang Sumba, yang mungkin memiliki kesan sangar.

Kruseman, antara lain menulis, orang Sumba sangat aktif, mereka tidak pernah terlihat kosong, bahkan di pesta dan pertemuan, semua orang membawa pekerjaan mereka dan memintal tali pengikat, jaring ikan atau apa pun yang bisa dilakukan sambil duduk. Keramahan adalah hal yang sakral.

Siapa pun yang memasuki rumah pada saat keluarga mau makan, semua dipaksa untuk ikut menikmati makanan, dan meskipun makanan yang disiapkan seringkali tidak mencukupi untuk teman serumah sendiri, pembagian diutamakan untuk para tamu, dan sering terjadi, mereka memberikan miliknya kepada orang asing.

Dalam kejujuran dan itikad baik dia melihat orang-orang ini sangat berbeda. Pria yang tidak hanya merampok orang-orang Pamanukan (Kapal) yang dirusak kapal dari segala hal yang bisa diselamatkan dari bangkai kapal, tetapi bahkan memotongnya, dan membawa mereka ke gunung seperti budak, ternyata mereka tidak akan mencuri sepotong kayu bakar dari tetangganya. Mereka juga mengundangnya untuk menikmati makanan.

Selain itu, Kruseman juga menggambarkan kebiasaan orang Sumba sehari-hari dan adat-istiadatnya, meski tidak pernah tinggal di Sumba, tetapi Kruseman mampu memberikan gambaran yang cukup detail, seperti upacara adat, potensi pertanian, dan bahkan menyertakan beberapa kosa kata dalam Bahasa Lamboya. Tulisannya diterbitkan pada 1934 atau sekitar 14 tahun setelah Kapten Batiest tinggal di Lamboya.

Untuk itu, keberadaan jangkar (sauh) besi di Kampung Malisu sampai saat ini hampir pasti merupakan jangkar dari Kapal Pamanoekan. Artinya, keberadaan jangkar itu di Kampung Malisu sejak 1820, sehingga pada 2020, jangkar itu sudah berusia sekitar dua abad atau 200 tahun.

Dalam catatan Cagar Budaya, Kemendikbud, Kampung Malisu merupakan situs adat. Jangkar ini merupakan inventaris Nomor:  1/16-16/BND/02 dengan panjang 3,40 meter, yang dideskripsikan bagian atas berbentuk seperti tanda panah yang melengkung, sedangkan di bagian bawahnya terbelah dan retak.

Memang, bukan hanya Kapal Pamanoekan yang terdampar di pantai selatan Sumba, tapi tidak ada catatan lain mengenai barang yang diangkut ke Patiyala, selain Kapal Pamanoekan. Pada masa lalu, pantai selatan dianggap sangat rawan dengan perampokan pantai. Bahkan, Kapal Waterloo tahun 1861 yang mengalami kerusakan di pantai selatan Sumba enggan untuk bersandar dan memaksakan diri ke Nangamesi (Waingapu) sebelum mendapat bantuan dari Kupang.

Sebenarnya dengan usia dua abad (jangkar Malisu) pada 2020 ini,  merupakan momentum untuk event budaya atau pariwisata di wilayah Lamboya. Kiranya Kampung Malisu menjadi satu destinasi wisata di wilayah Selatan Sumba. (daniel tagukawi)