PLTMH Mampu Memasok Kebutuhan Listrik di Ekowisata Boon Pring

PLTMH Mampu Memasok Kebutuhan Listrik di Ekowisata Boon Pring

Ekowisata Boon Pring, Malang (Dok.www.travelspromo.com)

SHNet, Jakarta- Ekowisata Boon Pring di Kabupaten Malang, Jawa Timur terkenal dengan wahana air dan bambu.

Ada sekitar 65 jenis bambu di destinasi wisata ini. Para wisatawan juga bisa menikmati telaga yang dikelilingi aneka macam jenis bambu.

Terletak di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, ekowisata Boon Pring memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH)

Pendirian PLTMH ini adalah langkah awal untuk mewujudkan rencana paket wisata malam di Ekowisata Boon Pring. PLTMH Boon Pring sudah mampu menghasilkan listrik sebanyak 5.000 volt.

Pembangunan PLTMH sudah dimulai sejak 2018 dengan biaya pembangunan PLTMH ini sendiri memakan biaya Rp 465.000.000,- dari dana CSR (Corporate Social Responsibility) BNI. PLTMH akan memasok kebutuhan listrik di kawasan Ekowisata Boon Pring. PLTMH itu sudah dimanfaatkan untuk listrik 66 unit kios PKL dan 25 lampu penerangan/jalan di wisata Andeman Boonpring.

Untuk pengoperasian PLTMH, pengelola Ekowisata Boon Pring telah menyiapkan tenaga khusus yang dilatih oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Selain sebagai sumber energi listrik, PLTMH ini juga bermanfaat untuk mengalirkan air dari Sungai Sumber Andeman ke dusun yang terletak di atas ekowisata Boon Pring. Dusun itu akan mengembangkan wisata petik buah..

Pada 2019, Ekowisata Boon Pring meraih penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Awards (ISTA) 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Desa Sanankerto memperoleh Green Bronze untuk kategori manfaat ekonomi.

Inovasi yang dilakukan Desa Sanankerto mendapat apresiasi positif dari pemerintah Kabupaten Malang. Pemkab Malang berharap desa-desa lain dapat meniru terobosan yang dilakukan oleh Desa Sanankerto. PLTMH dapat mewujudkan mimpi desa energi mandiri. Desa-desa yang ingin membangun PLTMH akan disurvei oleh UMM dan akan dibiayai oleh CSR Bank BNI.

Pendekatan inovasi dan kreativitas yang dilakukan di desa terbukti membawa dampak positif bagi perbaikan tata kelola desa. Hal itu menjadi wujud dari Gerakan Desa Membangun untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. (Stevani Elisabeth)