Pesona Ranu Klakah di Lumajang

Pesona Ranu Klakah di Lumajang

Ranu Klakah di Lumajang, Jawa Timur. (Dok.www.pariwisatalumajang.blogspot.com)

SHNet, Jakarta- Selain Ranu Kumbolo, Ranu Pane, dan Ranu Regulo yang terdapat di lereng Gunung Semeru, ada juga ranu atau danau yang wajib dikunjungi ketika datang ke Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, yaitu Ranu Klakah.

Danau dengan luas 22 ha dan kedalaman 28 meter ini, memiliki daya pikat tersendiri. Salah satunya, kita dapat menyaksikan Gunung Lamongan yang menjulang sebagai latar belakang dari danau tersebut.

Tak heran bila banyak wisatawan lokal menyebutnya Gunung Fuji van Java. Selain Ranu Klakah, terdapat dua danau lain yang tak jauh dari Ranu Klakah, yaitu Ranu Pakis dan Ranu Bedali.

Ranu Klakah memiliki air danau berwarna hijau yang dikelilingi perbukitan dan pepohonan. Tempat yang pas untuk melepas penat selama perjalanan. Suhu di sekitar danau ini tergolong sejuk.

Selain itu, wisatawan yang ingin menikmati keindahan danau bisa mencoba berbagai sarana yang telah disediakan oleh Dinas Pariwisata setempat, yaitu berupa sarana permainan air seperti perahu kayak, perahu, motor air, banana boat, dan masih banyak lagi. Selain itu, dipinggir danau terdapat villa dan taman yang cocok digunakan untuk piknik sembari menikmati panorama danau.

Saat ini wisatawan yang berkunjung ke Ranu Klakah masihlah wisatawan dari sekitar Kota Lumajang. Jarang sekali wisatawan dari luar kota.

Dikutip dari www.travelingblog.id berbeda dengan Ranu Kumbolo dan Ranu Pane yang lebih dulu eksis, ternyata keindahan Ranu Klakah ini pernah dikutip di beberapa buku lho, seperti buku Api Tauhid karangan Habiburrahman El Shirazy dan buku Serat Centhini yang ditutur ulang oleh Agus wahyudi. Dengan itu, sudah pasti keindahan pesona Ranu Klakah tidak bisa diragukan.

Hal unik lainnya dari Ranu Klakah adalah air danau yang berubah menjadi kuning kehijauan ketika musim koyok di mana air danau mengandung banyak belerang.

Pada musim ini, ikan dari berbagai ukuran, dari kecil hingga sebesar meja, akan merasa ‘mabuk’ atau ‘teler’ dan akan menuju permukaan.

Ketika musim koyok, cara menangkap ikan masyarakat sekitar berbeda dari biasanya. Yang mulanya menggunakan jaring dan pancing, sekarang menggunakan tombak untuk menangkap ikan yang muncul kepermukaan.

Akses untuk menuju Ranu Klakah sangatlah mudah. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit dari Stasiun Klakah dan sekitar 30 menit dari Terminal Minak Koncar. Jika dari Kota Lumajang kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 45-50 menit.

Wisatawan bisa memarkirkan kendaraan di parkiran yang telah disediakan. Biaya masuk Ranu Klakah cukup murah, masing-masing pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp 4000 per orang. Dengan harga tersebut, wisatawan sudah mendapat berbagai fasilitas seperti musholah, taman, toilet, dan deretan warung yang menyuguhkan berbagai macam olahan ikan air tawar. (Stevani Elisabeth)