Melalui TR, Polri Tangani Tiga Penghinaan Presiden

Melalui TR, Polri Tangani Tiga Penghinaan Presiden

 

SHNet,  JAKARTA –  Dengan adanya  pandemi  virus corona ini, Polri menerbitkan surat telegram terkait tindakan pelanggaran saat penanganan virus corona di Indonesia. Telegram yang paling mendapat sorotan ialah, menghina Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan pejabat pemerintah bisa dihukum.

Penerbitan TR bernomor ST/1100/IV/HUK.7.1/2020 tanggal 4 April 2020 ini demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat selama pendemi corona.

Setidaknya ada tiga point yang ditekankan  dalam surat telegram tersebut. Pertama‎ penyebaran hoax terkait virus corona bakal ditindak.

Kedua orang yang menghina presiden dan pejabat pemerintah serta penipuan penjualan alat kesehatan secara online juga ditindak.

Disisi lain, berita hoax terkait corona yang ditangani jajaran Polri terus bertambah. Hampir di setiap Polda menangani kasus ini.

Berikut cacatan Tribunnews.com terkait postingan penghina Presiden Jokowi dan pejabat pemerintah dalam beberapa hari terakhir atau awal April 2020 :

1. Satreskrim Polres Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) pada Sabtu (4/4/2020) malam menangkap seorang pria inisial WP (29) yang adalah buruh harian lepas atas dugaan melakukan ujaran kebencian dan penghinaan pada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pelaku disangka menyebarkan meme atau gambar yang dinilai menghina Presiden melalui media sosial Facebook di akun Agus Ramhdah yang dapat menimbulkan permusuhan individu atau kelompok berdasarkan antargolongan.

Pada penyidik, pelaku mengaku tujuan menyebar meme itu hanya lelucon untuk menyindir kerja Presiden dan karena ketidaksukaan pada Presiden.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 45a ayat 2 Jo Pasal 28 ayat 2 UU‎ RI No 19 tahun 2016 tentang ITE dan Pasal 208 ayat 1 KUHP  dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 6 tahun.

Pelaku WP sudah menyampaikan permintaan maafnya kepada Presiden Jokowi dan semua lapisan masyarakat Tanjungpinang terkait perbuatannya. Permintaan maaf disampaikan di Kantor Polres Tanjungpinang melalui video singkat yang diunggah ke media sosial.

2. ‎Direktorat Siber Bareskrim Polri menangkap tersangka ujaran kebencian sekaligus penghina Presiden Jokowi, Ali Baharsyah alias AL pada Jumat (3/4/2020) pukul 20.30 WIB di Cipinang, Jakarta Timur.

Ali kini ditahan dan dijerat Pasal 28 ayat e U‎U ITE berkaitan dan Pasal 207 KUHP tentang penghinaan pada penguasa negara. Karena kedapatan menyimpan video pornografi, Ali juga dikenakan pasal berlapis UU Pornografi.

Tersangka memposting unggahan penghinaan pada 31 Maret 2020, dia berkomentar mengenai kebijakan Jokowi terkait penanganan corona. Ali menyebut, pemerintah menerapkan darurat sipil menangani wabah corona.

Padahal diketahui pemerintah mengambil kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bukan darurat sipil seperti yang dipostingnya. Atas postingan itu, Ali dilaporkan ke Bareskrim oleh Ketua Cyber Indonesia, Muannas Alaidi pada Rabu (1/4/2020).

3. Polres Metro Jakarta Utara menangkap seorang pengemudi ojek online inisial MAA (20) pada Jumat (3/4/2020) karena melakukan penghinaan kepada kepala negara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan menyerang Habib Luthfi bin Yahya melalui media sosial facebook miliknya.

Polisi menangkap MAA karena adanya laporan polisi ke Polres Jakarta Utara terkait penghinaan kepala negara. Pelapor melihat akun facebook tersangka MA membuat status penghinaan pada 30 Maret 2020.

MAA ditangkap di kediamannya, Jakarta Utara. Motif tersangka membuat status itu untuk mengingatkan Habib Lutfi bin Yahya agar bertindak terhadap kebijakan Presiden Jokowi yang menyuruh masyarakat jaga jarak satu meter dalam salat berjamaah. Dimana menurut keyakinan pelaku, penyakit itu merupakan ujian dari Allah.

Motif lainnya karena pelaku tidak suka pada sikap pemerintah yang‎ membiarkan para peninsta agama berkeliaran dan tidak ditangkap. Tersangka dikenakan Pasal 28 ayat 2 Jo Pasal 45a ayat 2 UU RI No 19 tahun 2016 tentang ITE dengan ancaman hukuman enam tahun penjara.

Berikut postingan tersangka :

Eh Habib Luthfi Pekalongan elu terang-terangan aja tentang Jokowi bahwa Jokowi tuh bejat gk pantes mimpin dengerin nih Habib Luthfi bersuara lu terang terangan jng begitu ceritanya bib ente ‎kan sebagai pimpinan kami di negri pertiwi ini tapi jangan sampe lu mengkhianati kami bahwasanya hukum riba tu begimane maksial dll nya begimana dzikir tu bukan hanya di lidah saja membela yang benar juga itu yang namanya dzikir jadi jangan seakan akan dirilu selalu benar di penglihatan alloh sadarilah bahwa kita pendosa berat dengerin nih Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan baca baik baik jgn maen emosian soalnya biar kgak gagal faham atau salah faham kan ente penasehat presiden Jokowi #habiblutfibinyahya.

Jauh sebelumnya pada akhir Maret 2020, jajaran Polri sudah menangkap dua pelaku penghinaan ‎terhadap presiden dan Ibunda Presiden.

Pertama Direktorat Siber Bareskrim menangkap BT (53) seorang ibu rumah tangga di Bandung atas dugaan melakukan penghinaan terhadap mendiang Ibunda Presiden Jokowi melalui akun whatsapp.

Kedua, anggota Polres Sawah Lunto Polda Sumbar mengamankan PP (54) yang mengunggah penghinaan pada presiden dan almarhumah Ibundanya.

Ada pula penangkapan oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim ‎pada penyebar informasi atau hoax Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkena virus corona.

Penangkapan ini merupakan hasil patroli siber yang dilakukan penyidik lalu menemukan akun atas nama Rizal Chanief Young yang pada 15 Maret 2020 memposting berita hoax.

Akun tersangka mengunggah tangkapan layar pemberitaan media online nasional yang sudah dimanipulasi dengan judul : Hasil Pemeriksaan Presiden Jokowi Positif Corona.

Saat dilakukan pengecekan di media online tersebut, ternyata berita itu bohong. Judul aslinya ialah : Presiden Jokowi Jalani Tes Virus Corona Sore Ini.

Akhirnya penyidik menangkap pemilik akun bernama Khoerurizal Takwa (51) di Payakumbu Timur, Sumbar. Pelaku mengaku ‎memposting itu karena ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi. Pasalnya hingga kini pelaku masih miskin dan pembangunan tidak merata.

Pelaku diancam pasal berlapis yakni pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 serta Pasal 15 UU No 1 tahun 1946 dan atau Pasal 207 KUHP dengan ancaman tiga tahun penjara. (maya)