IGI: Jangan Cabut Jalinan Pembelajaran Siswa dan Guru karena Corona!

IGI: Jangan Cabut Jalinan Pembelajaran Siswa dan Guru karena Corona!

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim. [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Program pembelajaran di rumah yang berlangsung seiring upaya pemerintah membatasi penyebaran Covid-19, mendapat tanggapan dari Ikatan Guru Indonesia (IGI). Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim menilai aturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama beberapa pemerintah daerah berupa program belajar di rumah tersebut telah mencabut jalinan pembelajaran antara guru dan siswanya.

Ramli berpandangan program pembelajaran yang berjalan dan diarahkan oleh Kemendikbud merupakan pembelajaran dari guru tertentu untuk banyak siswa di seluruh Indonesia, ini termasuk melibatkan portal atau platform pendidikan, seperti Ruang Guru, Zenius, dan lain-lainnya.

“Aturan Kemendikbud bersama beberapa pemerintah daerah di hampir seluruh daerah di Indonesia berupa program belajar di rumah dalam pandangan kami dari IGI mayoritas telah mencabut jalinan pembelajaran antara guru dan siswanya. Karena program pembelajaran yang berjalan dan diarahkan Kemendikbud adalah pembelajaran dari guru tertentu untuk banyak siswa di seluruh Indonesia, termasuk melibatkan portal atau platform pendidikan seperti Ruang Guru, Zenius dan lain-lainnya,” kata Ramli dalam keterangannya kepada media melalui media sosial, Jumat (3/4).

Baca juga:
IGI: Guru Anggota Siap Hadapi Kondisi Belajar di Rumah
IGI: Program Guru Penggerak Harus Punya Ukuran Sukses
IGI: Harus Dipastikan RS yang Jadi Rujukan Sekolah

Menurutnya, sistem belajar yang berlangsung seperti tersebut di atas sesungguhnya telah menghilangkan proses pembelajaran antara guru dan siswa secara langsung, walaupun harus melalui dunia maya.

Guru dan Siswa Bertatap Muka
“Maka itu, seharusnya yang dipikirkan bukan bagaimana start-up pendidikan atau platform pendidikan tersebut didorong untuk membantu siswa dalam kondisi Covid-19, melainkan, yang seharusnya dilakukan adalah bagaimana agar guru-guru tersebut tetap menyelenggarakan proses pembelajaran dengan siswa-siswa mereka dengan tatap muka secara langsung melalui dunia maya,” ujar Ramli.

“Hasil pantauan kami dari IGI, masalah kuota data adalah masalah utama dalam pembelajaran kelas jauh di dunia maya. Selain itu, masalah rendahnya kemampuan guru juga menjadi problem utama dalam penyelenggaraan kelas maya ini,” tambahnya.

Masalah berikutnya, menurut Ramli, program-program Kemendikbud untuk meningkatkan kompetensi guru selama ini tidak begitu berarti dan tidak banyak mengubah pendidikan kita.

Ia mempertanyakan hasil PPG dan PLPG yang lebih dari 10 tahun dijalankan Kemendikbud. Ia juga mempertanyakan anggaran ratusan miliar rupiah yang setiap tahun digelontorkan Kemendikbud untuk menjalankan berbagai pelatihan bagi guru. Menurutnya, pelatihan bagi guru tersebut juga tidak mampu membantu guru-guru kita untuk memiliki kemampuan yang lebih tinggi.

Baca juga:
IGI: Ini Dia, Hal Negatif dari Konsep Merdeka Belajar
IGI: Dana Bos “Merdeka Belajar” Lahirkan Masalah Baru
IGI: Perjuangan Mengakomodasi “Seluruh” Guru Honorer, Lebih Bersifat Politis

“Lalu, kita pun tentu bertanya anggaran ratusan miliar yang setiap tahun digelontorkan Kemendikbud dengan berbagai pelatihan bagi guru–juga tidak mampu membantu guru-guru kita memiliki kemampuan yang lebih tinggi, terutama dalam menghadapi masalah mendadak, seperti Pandemi Covid 19 ini,” katanya

Ramli juga menyinggung soal ketersediaan kuota data yang seharusnya dimiliki oleh siswa dan guru dalam kondisi diharuskan menggunakan pembelajaran kelas jauh di dunia maya. Menurutnya, seharusnya anggaran Kemendikbud sebaiknya diarahkan untuk memenuhi kuota data, baik untuk siswa maupun untuk gurunya.

Interaksi Siswa dengan Platform Pendidikan
“Kami sesungguhnya menyesalkan kerja sama antara Telkomsel sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan Ruang Guru yang notabene pendirinya adalah salah satu staf khusus Presiden. Telkomsel menggratiskan penggunaan kuota data untuk Ruang Guru yang sebenarnya mencabut interaksi antara guru dengan siswanya dan mengalihkannya menjadi interaksi antara siswa dengan Ruang Guru atau Platform pendidikan lain,” kata Ramli.

Menurutnya, seharusnya jika ingin membantu siswa-siswa di seluruh Indonesia, yang dilakukan Telkomsel adalah menggratiskan kuota data untuk siswa dan guru dengan cara menggunakan nomor induk siswa dan Nomor Unik Pegawai Tenaga Kependidikan (NUPTK) guru sebagai password masuknya.

“Namun, jika Telkomsel sebagai BUMN tidak mampu melakukan itu, sebaiknya Kemendikbud turun tangan untuk menyediakan kuota data,” usul Ramli.

Dengan demikian menurutnya, guru-guru dan siswa-siswa kita akan mampu secara bersemangat tetap menyelenggarakan proses pembelajaran tatap muka melalui dunia maya.

“Tidak dengan pembelajaran yang terkoordinasi dari satu portal pendidikan tertentu, yang sesungguhnya mencabut komunikasi antara guru dengan siswanya,” ujar Ramli.

IGI: Batalkan Organisasi Penggerak, Alihkan Anggarannya
Menurutnya, jika kemudian negara kesulitan terkait anggaran, IGI mengusulkan agar pemerintah menggunakan anggaran Organisasi Penggerak atau Guru Penggerak yang jumlahnya lebih dari Rp 595 miliar. Menurut IGI, Kemendikbud dapat menggunakan anggaran Organisasi Penggerak dan Guru Penggerak untuk menyediakan kuota data bagi guru dan siswa.

“Karena kami pun sesungguhnya yakin program ini tidak akan mampu meningkatkan kemampuan guru secara signifikan secara merata di seluruh Indonesia,” tutur Ramli.

Baca juga:
IGI Menuntut Kapolri Mundur
IGI: Dosa Besar Pendidikan versi Nadiem, Bukan Akar Masalah
IGI: Guru Produktif di Sulbar Keluhkan Minim Pelatihan

Menurut IGI, kompetensi guru hanya akan bisa dimaksimalkan dengan cara mendorong guru meningkatkan kemampuannya secara mandiri.

“Dan itu tidak membutuhkan anggaran dari Kemendikbud,” ujar Ramli.

“Jika Kemendikbud memberikan kepercayaan kepada IGI untuk meningkatkan kemampuan guru secara mandiri, maka sesungguhnya IGI sangat siap untuk menjalankan itu. Syaratnya hanya satu, berikan legalitas itu kepada IGI,” usulnya.

Ramli menuturkan, selama masa penanggulangan Covid-19, ratusan pengurus dan anggota IGI di seluruh Indonesia tanpa pamrih memberikan pelatihan, baik kepada guru maupun siswa dalam membekali diri dalam pembelajaran kelas maya.

“Dan itu tanpa harus diberi anggaran oleh Kemendikbud,” pungkasnya. (whm/sp)