Desa Gentengan Penghasil Genteng Yang Tinggal Kenangan

Desa Gentengan Penghasil Genteng Yang Tinggal Kenangan

SHNet, Jakarta – Desa ini namanya Desa Gentengan, Kelurahan Pengantigan, Kabupaten Banyuwangi.
Tapi siapa sangka, seperti nama lingkunganya, ‘Gentengan’ yang dalam bahasa lokal berarti tempatnya genteng, dulu disini adalah sentra perajin genteng.

Namun, dengan semakin sempitnya lahan pesawahan imbas pembangunan perumahan, jumlah para perajin semakin turun, hingga akhirnya hanya tinggal nama.

“Dulu, tahun 1969, sepanjang jalan mulai dari Kelurahan Pengantigan sampai Kelurahan Giri, berjajar orang jualan genteng,” ucap Ahmad, warga setempat.

Dikisahkan, kala itu kota Banyuwangi belum banyak berdiri gedung seperti sekarang. Jalanan dilingkungan Gentengan pun masih belum beraspal. Kendaraan yang melintas didominasi dokar atau kereta kuda.

“Para laki – laki membuat genteng, kita para wanita membuat cobek dan gerabah,” katanya.

Genteng produk lingkungan Gentengan, Kelurahan Pengantigan, Banyuwangi, saat itu sangat diminati. Bukan hanya oleh konsumen lokal, tapi juga pembeli dari Bali.

Dizaman kejayaan industri kerajinan genteng, daerah setempat menjadi jujugan perantauan asal Pasuruan.

Usaha tersebut banyak ditekuni karena memang cukup menjanjikan. Hingga mereka akhirnya menetap. Seperti yang dilakukan nenek Supiah dengan sang suami, Salim.

“Saya dan istri ya bertemunya juga disini, tapi para perajin genteng lain kini hampir semuanya sudah berganti profesi, ada yang jadi kuli, tukang becak dan lainya sudah meninggal,” cetusnya.

Tergerusnya lahan pesawahan, menjadi penyebab utama redupnya kerajinan genteng setempat. Karena, bahan utama pembuatan genteng adalah tanah liat berwarna hitam yang sering muncul dipesawahan pada pasca panen.

Munculnya genteng dari bahan semen dan aluminium, makin membuat lesu bisnis genteng tanah liat.

Akhirnya satu peratu perajin genteng lingkungan Gentengan pun gulung tikar. Dan kini yang tersisa hanya nama lingkungan Gentengan. (maya)