Mengapa Kematian di Jerman Akibat Corona Lebih Rendah dari Negara Lain?

Mengapa Kematian di Jerman Akibat Corona Lebih Rendah dari Negara Lain?

SHNet, Jakarta – Eropa menjadi epicenter pademi global virus corona. Ampat negara Eropa memiliki angka infeksi tertinggi, yaitu Italia, Spanyol, Perancis, dan Jerman.

Hingga 25 Maret, Jerman memiliki 34.055 kasus. Namun, angka kematian sebanyak 175. Jumlah ini berbeda jauh dari Italia yang mencatat sekitar 6000 kasus, Spanyol sekitar 3400 kasus, dan Perancis lebih dari 1000 kasus.

Apa yang membuat angka kematian di Jerman lebih rendah dibandingkan negara-negara lain di dunia. Tingkat kematian Italia sekitar 10%, Perancis 5%, sementara Jerman hanya 0,5%.

Laman NPR melansir, saat kasus di Jerman melonjak hingga 10.000 pada pekan lalu, ratusan warga Berlin memadati Volkspark am Friedrichshain untuk bermain sepak bola dan bola basket. Mereka juga membiarkan anak-anak mereka berkeliaran di banyak pusat kebugaran di hutan taman itu. Kondisi itu tampaknya ideal untuk penyebaran virus yang lebih banyak. Tetapi toh angka kematian tetap rendah.

“Saya percaya bahwa kami menguji jauh lebih banyak daripada yang dilakukan di negara lain, dan kami mendeteksi wabah kami lebih awal,” kata Christian Drosten, direktur institut virologi di rumah sakit Charite di Berlin.

Drosten, dimana tim penelitinya mengembangkan tes COVID-19 pertama yang digunakan publik mengatakan, tingkat kematian Jerman yang rendah adalah karena kemampuan negaranya untuk melakukan tes awal dan sering.

Dia memperkirakan Jerman telah menguji sekitar 120.000 orang per minggu selama periode sebulan, dari akhir Februari hingga sekarang. Ini membuat Jerman sebagai negara yang paling luas melakukan pengujian.

Itu juga berarti, angka kasus yang tak terdeteksi lebih rendah dibandingkan negara lainnya, dimana test dilakukan lebih minim. Lantas mengapa Jerman begitu banyak menguji?

“Kami memiliki budaya di sini di Jerman yang sebenarnya tidak mendukung sistem diagnostik terpusat, sehingga Jerman tidak memiliki laboratorium kesehatan masyarakat yang akan membatasi laboratorium lain untuk melakukan tes. Jadi kami memiliki pasar terbuka dari awal.”

Dengan kata lain, Robert Koch Institute yang setara dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS membuat rekomendasi tetapi tidak melakukan pengujian untuk seluruh negara. 16 negara bagian Jerman membuat keputusan sendiri tentang pengujian virus corona karena masing-masing dari mereka bertanggung jawab atas sistem perawatan kesehatan mereka sendiri.

Lebih cepat, lebih awal

Ketika pusat medis universitas Drosten mengembangkan panduan tes yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, mereka langsung meluncurkan tes ini kepada rekan-rekan mereka di seluruh Jerman pada bulan Januari.

“Dan mereka tentu saja ke laboratorium yang mereka tahu di pinggiran dan laboratorium rumah sakit di daerah di mana mereka berada,” kata Drosten. “Ini menciptakan situasi dimana, katakanlah, pada awal atau pertengahan Februari, pengujian sudah dilakukan, secara luas.”
Drosten mengatakan itu berarti pengujian lebih cepat, lebih awal dan lebih luas untuk COVID-19 di Jerman daripada di negara lain.

Lothar Wieler, kepala Robert Koch Institute, mengatakan pada konferensi pers pekan lalu bahwa infrastruktur pengujian Jerman berarti pihak berwenang memiliki pembacaan yang lebih akurat tentang kasus-kasus virus yang dikonfirmasi.

“Kami tidak tahu persis berapa banyak kasus yang tidak diketahui, tetapi kami memperkirakan bahwa jumlah yang tidak diketahui ini tidak terlalu tinggi,” kata Wieler. “Alasannya sederhana. Kami mengeluarkan rekomendasi pada pertengahan Januari tentang siapa yang harus diuji dan siapa yang tidak boleh diuji.”

Tetapi beberapa warga Berlin tidak percaya diri seperti Wieler. Nizana Nizzi Brautmann mengatakan dia khawatir ketika seorang guru di sekolah putranya dinyatakan positif COVID-19 dan keesokan hari dia dan putranya bangun dengan demam dan batuk terus-menerus. Dia bilang dia tidak bisa menghubungi hotline coronavirus Berlin, yang terus-menerus sibuk.

Drosten mengatakan pengalaman seperti itu mungkin ada, tapi bukan aturannya. “Saya tahu sedikit komunitas diagnostik di Jerman,” kata Drosten. Namun, Drosten mengatakan, meningkatnya jumlah kasus di Jerman akan segera melebihi kapasitas pengujian.

Tetapi untuk saat ini, ia berpikir negara itu telah memiliki respons yang kuat terhadap pandemi virus corona. Dia justru khawatir krisis akan datang di Afrika karena negara-negara di sana pengujiannya tidak diatur dengan baik untuk ini. (Tutut Herlina)