Begini Stimulus UMKM Hadapai COVID-19

Begini Stimulus UMKM Hadapai COVID-19

SHNet, JAKARTA – Sektor UMKM bisanya sangat kuat dalam bertahan menghadapi krisis ekonomi. Hal itu terbukti pada saat Indonesia mengalami krisis ekonomi tahun 1997-1998. UMKM adalah penopang utam ekonomi Indonesia.

Sebagian besar pelaku usaha Indonesia juga bergerak di sektor ini. Pekerja Indonesia ssetidaknya 98 persen bekerja di sektor UMKM. Sangat besar pengaruh UMKM bagi kemajuan ekonomi Indonesia.

Adanya pandemi COVID-19 atau Coronavirus yang melanda dunia, termasuk Indonesia adalah salah satu pukulan bagi sektor UMKM. Menjaga jarak aman antara sesama manusia, termasuk berbagai media penularannya, sangat memukul sektor ini. Pelaku usaha di sektor UMKM terpaksa meliburkan semua pekerjanya demi keselamatan dan kesehatan.

Karena itu, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, mengajak semua pihak termasuk swasta, BUMN, dan masyarakat untuk membantu UMKM tetap berproduksi sebagai sektor yang menumpu sektor riil level terbawah di Indonesia di tengah situasi sulit saat ini. “Perlu saya jelaskan pelaku UMKM terutama yang sektor mikro ada 64 juta unit usaha, ini bukan persoalan kecil, persoalan besar jadi memang bukan tanggung jawab pemerintah saja tapi swasta dan masyarakat,” kata Teten Masduki dalam acara di Jakarta, Kamis (26/3).

Teten mengatakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah stimulus khusus untuk menjaga daya beli terhadap produk UMKM. “Untuk mengantisipasi dampak ekonomi akibat COVID-19, Kementerian Koperasi dan UKM sedang menyiapkan beberapa program. Salah satunya adalah, memberikan stimulus bagi peningkatan daya beli UMKM dan disetujui oleh Presiden dengan anggaran Rp 2 triliun,” kata Teten.

Ia mengharapkan stimulus tersebut mampu mendongkrak penjualan produk-produk UMKM dan dengan anggaran Rp 2 triliun dan diskon 25 persen untuk konsumen 2 juta orang diharapkan akan memberikan stimulus terhadap daya beli UMKM sebesar Rp 10 triliun.

Stimulus yang kedua dalam bentuk bantuan tunai, untuk sektor mikro. “Teknisnya ada beberapa model yang sedang kami persiapkan. Kami sedang memberikan stimulus bagi jasa antar termasuk tukang ojek online,” katanya. Menurutnya, pemerintah perlu kerja sama dengan e-commerce. “Untuk mengefektifkan social distancing, harus dicarikan solusinya agar social distancing ini produktif,” katanya.

Stimulus bantuan tunai dicontohkan berupa dana Rp 3 juta untuk usaha mikro/ultra mikro yang sudah terdampak COVID-19 dari data yang diusulkan dinas di daerah. Kemudian juga bantuan sebesar Rp 2 juta kepada individu yang memiliki usaha mikro, skema bantuan Rp 4 juta bekerja sama dengan BUMN pangan seperti Bulog, serta dalam bentuk subsidi biaya pengantaran usaha mikro yang belum masuk ke platform digital. Koperasi di daerah yang terdampak.

“Kami sudah berkoordinasi dengan BUMN pangan yang siap menjadi off taker untuk mendistribusikan produk pangan ke warung-warung tradisional,” katanya.

Berbeda dengan 1998

CEO Tokopedia, William Tanuwijaya, mengatakan pihaknya akan membantu UMKM untuk memasarkan produknya dengan “fair price” atau dengan harga yang adil. Sementara CEO BenihBaik.com, Andy Flores Noya, mengatakan krisis yang saat ini sedang terjadi karena wabah corona berbeda dengan krisis pada 1998.

“Kalau pada 1998 yang terpukul perbankan, saat ini sektor UMKM yang paling rentan, krisis karena wabah yang membuat lumpuh perdagangan di level bawah,” katanya. Pihaknya bersama Tokopedia kemudian sepakat merancang program khusus yang membuka donasi masyarakat untuk para pelaku usaha di sektor mikro.

“Saat ini sudah terkumpul hampir Rp 1 miliar, semoga bisa menjadi sumbangsih masyarakat untuk membantu UMKM,” katanya. Ia juga bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM dalam hal pemetaan dan pendataan UMKM yang terdampak COVID-19.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya telah memberi perhatian khusus terhadap sektor UMKM karena coronavirus ini. Kepala Negara meminta semua jajaran pemerintah melakukan relokasi anggaran dan refocusing kebijakan guna memberi insentif ekonomi bagi pelaku UMKM dan informal sehingga tetap dapat berproduksi dan beraktivitas juga tidak melakukan PHK.

Negara juga memastikan akan terjadi relaksasi kredit bagi UMKM terutama untuk nilai kredit di bawah Rp 10 miliar sebagai upaya meminimalisasi dampak wabah COVID-19. Kredit itu terinci baik kredit perbankan maupun industri keuangan nonbank. Relaksasi yang diberikan bisa berupa penundaan cicilan sampai satu tahun dan penurunan bunga.

Hal itu dilakukan agar usaha tetap bisa berjalan pasca wabah coronavirus. (ij)