Yuuk, Nonton The last IDEAL PARADISE

Yuuk, Nonton The last IDEAL PARADISE

SHNet, JAKARTA – Claudia Bosse, koreografer dan artis ternama di kancah internasional—yang terkenal karena karya-karya radikalnya dengan tubuh dan ruang— berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung menghadirkan karya spesifik-lokasi mengenai terorisme, teritori, serta ke(tidak)sadaran kultural dan politik di Indonesia.

Pementasan perdana di Asia ini berlangsung di Perum Produksi Film Negara (PFN) di Jakarta. the last IDEAL PARADISE merupakan karya lintas disiplin pada titik singgung performa dan seni visual di latar terbuka, di mana penonton dipersilakan bergerak dengan bebas, memilih sudut pandang masing-masing, serta mengembangkan dramaturgi sendiri. the last IDEAL PARADISE merupakan instalasi, koreografi, dan performa sekaligus – suatu inventaris proses kerja yang menggabungkan masa kini dan masa lalu politik dengan ritual dan mitos. Karya ini mempertanyakan rezim-rezim saat ini dan kemungkinan untuk hidup berdampingan.

Dengan mengamati konstelasi kontemporer dan historis melalui lensa malapetaka, keguncangan, serta pergolakan pribadi dan politik, karya ini secara puitis menjelajahi perpotongan antara politik, agama, serta hubungan antara negara dan individu. Dikemas sebagai permainan kata dan komposisi yang absurd, judul the last IDEAL PARADISE menyiratkan suatu kiasan inti penampilan ini: Surga dengan beragam makna dan fungsinya.

the last IDEAL PARADISE versi Jakarta dipersembahkan Goethe-Institut Indonesien bekerja sama dengan PFN dan didukung Kementerian Luar Negeri Jerman serta Kedutaan Besar Austria di Jakarta. Adaptasi khusus Jakarta dari karya ini lahir melalui proses riset, wawancara dan, perjumpaan oleh Claudia Bosse yang berlangsung di Jakarta pada tahun 2018 dan 2019. Karya ini kemudian direalisasikan dalam kolaborasi dengan ansambel multilingual penari, aktris, penampil, dan orang awam dari berbagai generasi berbeda.

Instalasi dan performa berdurasi 2,5 jam ini memuat materi yang menyoroti pergolakan sosial dan arsip etnografis, mentransformasi semuanya dan menciptakan komunitas sementara yang rapuh dengan dan untuk penonton.

“Ketika melihat performa ini di Tanzplattform 2018, sebuah festival yang setiap dua tahun mempertemukan produksi-produksi paling menonjol dalam tari kontemporer di Jerman, kami tertarik oleh konsep yang unik dan pendekatan lintas disiplin yang khas dari the last IDEAL PARADISE,” kata Anna Maria Strauss, Kepala Bagian Program Budaya di Goethe-Institut Indonesien.

“Performa ini menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai masa kini kita dan memberi tempat untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini, baik secara individual maupun kolektif. Kami merasa bahwa tema-tema yang diangkat – dan juga caranya tema-tema itu diangkat – sangat beresonansi dengan konteks di Indonesia. Kami bergembira bahwa ada begitu banyak pihak dari seluruh Indonesia yang turut berkolaborasi untuk membentuk edisi Jakarta dari the last IDEAL PARADISE. Terhadap karya yang spesifik-lokasi, tempat berlangsungnya performa menjadi sangat penting, dan kami sangat senang karena berhasil menggandeng PERUM PFN dengan kekayaan sejarahnya dan tempatnya yang memukau di Jakarta Timur – performa ini benar-benar menyatu dengan ruang yang ada dan mengajak penonton berpindah-pindah tempat,” ucap Anna.

Claudia Bosse mengungkapkan, perjalanan menyusuri ruang-ruang berbeda yang dilakukan oleh setiap penonton saat menyaksikan the last IDEAL PARADISE sekaligus merupakan perjalanan melalui berbagai format artistik yang saling berbaur. “Karya ini dimulai sebagai instalasi yang dilalui sendiri- sendiri sebagai pengamat, selanjutnya menjelma sebagai koreografi yang ditonton, lalu prosesi yang diikuti, dan kemudian menjadi karya paduan suara dan akhirnya arsip hidup dari orang-orang yang terlibat, yang dijumpai hampir seperti di sebuah museum. Posisi bebas penonton berikut pilihan sudut pandang masing-masing itu penting bagi saya dalam pemahaman saya mengenai teater sebagai ruang negosiasi kolektif, tempat aspek puitis dan politis bertaut di dalam ruang,” kata Claudia Bosse. (ij/pr)