Masyarakat Adat Kampung Naga Bertahan di Tengah Modernisasi

Masyarakat Adat Kampung Naga Bertahan di Tengah Modernisasi

Rumah-rumah penduduk beratapkan ijuk di Kampung Naga, Tasikmalaya. (Dok.www.travelblog.id)

SHNet, Jakarta- Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Letak kampung ini berada di daerah perlintasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. Kita harus menuruni sekitar 400 anak tangga agar bisa mencapai kampung tersebut.

Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Ci Wulan (Kali Wulan) yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.

Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (sengked) sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga.

Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektare setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.

Dikutip dari www.travelblog.id di atas undakan anak tangga, kita bisa melihat dari kejauhan atap rumah yang terbuat dari ijuk dengan gaya capit gunting, berderet rapi dengan menghadap ke arah yang sama. Kebun, sawah, dan sungai menjadi pemandangan yang sangat menyejukkan mata.

Dari hasil pengamatan tersebut, kita bisa membuat simpulan, bila bercocok tanam merupakan mata pencaharian utama masyarakat adat Kampung Naga. Pola hidup gemeinschaft sangat menonjol dari adanya saung-saung penumbukan padi dengan pola tempat tinggal yang rapat antara satu rumah dengan rumah lainnya.

Kala malam menjelang, cahaya lampu petromak menjadi alat penerang bagi masyarakat adat Kampung Naga. Meskipun sudah berada di tahun 2019, aliran listrik belum masuk ke kampung ini. Lebih tepatnya adalah aliran listrik tidak masuk ke Kampung Naga. Alasan paling mendasar adanya penolakan pemasangan aliran listrik ke kampung tersebut adalah kondisi rumah yang terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Rumah mereka berbentuk panggung dengan lantai papan sebagai alasnya. Anyaman bilik bambu sebagai dinding dan tumpukan alang-alang serta ijuk sebagai atapnya.

Mereka khawatir, bila terjadi korsleting aliran listrik, akan mengakibatkan rumah serta kampung habis terbakar. Selain alasan keamanan, masyarakat adat Kampung Naga berpikir tentang dampak sosial dari perubahan gaya hidup yang akan diterimanya apabila mereka menerima tawaran listrik tersebut.

Sebagai masyarakat yang mengagungkan paguyuban, maka sangat dihindari terjadinya persaingan kondisi ekonomi antara kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi mapan dengan kelompok masyarakat yang berada di tingkat ekonomi labil.

Fungsi pendidikan dalam keluarga di Kampung Naga berjalan dengan baik. Prinsip hidup “kami kumawula ka agama jeung darigama” (kami mengabdi kepada agama dan pemerintah)” diwariskan melalui proses enkulturasi yang dilakukan oleh orang tua melalui perilaku sehari-hari. Agama yang dianut oleh masyarakat adat Kampung Naga adalah Islam. Di dalam ajaran Islam pendidikan karakter sangat penting diterapkan oleh keluarga.

Sebagai masyarakat Sunda kearifan lokal tentang penghormatan kepada orang tua bisa kita lihat dari naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian (Kropak 630) yang menyatakan, “Nihan sinangguh dasa prebakti ngaranya. Anak bakti di bapa, ewe bakti di laki… (Ini yang disebut dasa prebakti. Anak tunduk kepada bapak; isteri tunduk kepada suami…)”, pola sikap inilah yang menjadi ciri dari kehidupan manusia Sunda khususnya masyarakat adat Kampung Naga. (Stevani Elisabeth)