Literasi Pertanian Bantu Petani Tingkatkan Kesejahteraan dan Kualitas Hidup

Literasi Pertanian Bantu Petani Tingkatkan Kesejahteraan dan Kualitas Hidup

Lierasi pertanian bantu petani meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup. (Ist)

SHNet, Jakarta-Paradigma masyarakat terhadap perpustakaan sebagai gudang buku harus diubah. Perpustakaan jika diibaratkan adalah matahari yang selalu menerangi dan memancarkan sinar ilmu pengetahuan bagi semua orang.

Perpustakaan juga dilaksanakan sebagai sumber mata air pengetahuan yang dapat menyuburkan semua tanaman. Pun di bidang pertanian. Segala jenis teknologi pertanian, varietas tanaman, budi daya bibit unggul bisa dipelajari dan diciptakan dengan membaca. Literasi menjadi kata kunci.

“Di dunia ini tidak ada ilmu yang jatuh dari langit, melainkan dari membaca buku. Contohnya, jika petani buah mangga ingin mendapatkan hasil panen dengan rasa yang berbeda dari satu pohon yang sama, maka mereka perlu mempelajari tentang rekayasa genetika melalui buku-buku ilmu terapan yang sesuai. Untuk itu, Kementerian Pertanian harus menjadi pembina dan guru yang baik agar para petani tersebut bisa bertransformasi dari petani tradisional menjadi petani modern,” terang Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando saat menjadi keynote speech pada Temu Teknis Pengelolaan dan Pengembangan Perpustakaan Lingkup Kementerian Pertanian bertemakan “Transformasi Perpustakaan Pertanian Berbasis Inklusi Sosial” di Jakarta, pada Kamis (13/2).

Di samping itu, Kepala Perpusnas juga mengimbau kepada Kementerian Pertanian untuk membantu para petani agar bisa dengan mudah memahami pengetahuan tentang pertanian. “Saya pastikan, mulai tahun ini Perpustakaan Nasional akan fokus membantu Kementan dalam mendefinisikan informasi apa saja tentang pertanian. Karena, siapa lagi yang akan memikirkan pertanian dan petani di Indonesia kalau bukan kita,” jelas Syarif Bando.

Berbicara tentang literasi, itu bisa dimaknai dengan kedalaman pengetahuan seseorang. Ada empat tingkatan literasi, yakni kemampuan untuk mengumpulkan sumber bacaan, kemampuan untuk memahami apa yang tersirat dan tersurat, kemampuan untuk mengemukakan ide dan gagasan, dan kemampuan untuk menciptakan barang dan jasa yang bermutu.

“Kesejahteraan akan lebih mudah diraih dengan tingkat literasi yang memadai dan perpustakaan berbasis inklusi sosial bertujuan untuk memberikan efek langsung bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup mereka,” beber Kepala Perpusnas.

Terkesan dengan yang disampaikan Kepala Perpusnas, Kepala Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (P3TP), Retno Sri Hartati Mulyandari, mengaku hal tersebut sangat menginspirasi. “Perekonomian Indonesia bergantung pada pertanian. Jelas, paradigma lama harus diubah agar para petani dapat meningkatkan produksi mereka. Dan tugas Kementan saat ini adalah mentransformasi konten-konten pertanian agar mudah dimengerti oleh para petani,” imbuh Retno. (Stevani Elisabeth)