Indahnya Aksesoris Kerang dari Papua

Indahnya Aksesoris Kerang dari Papua

 

SHNet, Jakarta – Papua dikenal luas dengan kekayaan dan keindahan alamnya yang memukau. Hasil alam tersebut salah satunya bisa kita nikmati dalam bentuk aksesori.

Di Manokwari, Papua Barat, misalnya, kita bisa menemukan kelompok industri rumahan yang memproduksi aksesori dengan bahan dasar kerang.

Kita bisa melihat kalung dengan liontin kerang, sirkam yang dihiasi kerang-kerang kecil, hingga bros kerang.

Kerang-kerang tersebut kemudian dipadukan dengan berbagai bahan tambahan seperti detail bulu, manik-manik, batu-batuan, hingga kain.

“Karena daerah penghasil kerang, kerangnya banyak, sehingga bahan bakunya banyak. Jadi ibu-ibu dengan keterampilan bisa melihat dari hasil limbah ini bagaimana bisa menjadi uang.”

Hal itu diungkapkan oleh Tirsa J. Ida Wader, Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan, Kualitas Keluarga, Data dan Informasi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Papua Barat ketika ditemui di pelatihan ibu-ibu pelaku industri rumahan (IR) Klasis Manokwari.

Kerang yang digunakan ada berbagai jenis. Mulai dari siput biasa, kerang bermodel piring atau mangkuk, hingga siput lola berukuran besar.

Tekstur kerang yang digunakan juga beragam. Kerang dengan cangkang yang tak terlalu keras bisa kembali diukir sehingga menghasilkan aksen yang menawan.

“Ada banyak sekali model kerang. Bagaimana dibentuk sampai cantik seperti itu,” tuturnya.

Dalam sehari, mereka bisa menghasilkan sekitar 50 aksesori, tergantung dari bahan dan tingkat kerumitannya.

Aksesori dijual masing-masing, mulai lewat pertokoan hingga toko online.

Para ibu yang menjual aksesori tersebut via online bisa menghasilkan sekitar 100 aksesori setiap harinya.

Namun, jika permintaan tinggi, produksi bisa melampaui angka tersebut.

Aksesoris kerang cantik khas Papua tersebut dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau. Mulai dari Rp 30 ribu hingga 300 ribu, tergantung bentuk kerang.

Namun, jika tingkat kerumitan tinggi, aksesori tersebut bisa pula dipatok hingga Rp 500 ribu.

“Kan ada kerang yang gampang sekali dibuat, ada yang sulit. Bagaimana kerang besar bisa dipotong dengan gerinda, bor, sehingga terbentuk,” tuturnya.

Namun, saat ini aksesori tersebut baru dijual di Manokwari dan sekitarnya, termasuk Biak, Sorong, dan Jayapura.

Meskipun beberapa ibu yang telh mengikuti pelatihan mulai menjualnya masing-masing secara online.

Tirsa mengungkapkan, pihaknya punya harapan agar aksesori kerang tersebut ke depannya bisa masuk pasar nasional.

Salah satu yang masih menjadi pekerjaan rumah mereka adalah dari sisi kemasan agar nilai jual barang lebih tinggi.

Untuk bisa menghasilkan kemasan yang menarik menurutnya diperlukan pelatihan lainnya.

Namun, pelatihan tersebut sebetulnya tak hanya didukung Dinas Pemberdayaan Perempuan, namun juga oleh Dinas Koperasi setempat.

“Kalau kalung sudah bagus, tapi kemasannya kurang menarik. Jadi perlu kemasan seperti plastik atau wadah-wadah yang bagus sehingga tampak lebih menarik,” kata Tirsa. (maya)