IGI: Guru Produktif di Sulbar Keluhkan Minim Pelatihan

IGI: Guru Produktif di Sulbar Keluhkan Minim Pelatihan

Ketua Umum IGI, Mohammad Ramli Rahim (kanan). [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim menyampaikan keluhan sejawatnya soal minimnya pelatihan bagi guru produktif untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ramli mengatakan, sejawatnya yang menyampaikan aspirasi melalui IGI tersebut adalah guru produktif SMK di Sulawesi Barat (Sulbar).

“Saya ingin menyampaikan fakta skaligus sebagai aspirasi teman guru produktif di Sulawesi Barat,” demikian pesan Ramli kepada SHNet, Sabtu (8/2) lalu.

Ramli menyampaikan keluhan sejawatnya yang menyatakan bahwa guru produktif SMK sangat minim diberi pelatihan untuk pengembangan kompetensi profesional, baik oleh Pemerintah Provinsi maupun oleh Kementerian.
“Akibatnya, kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari solusi ketika gagal bereksperimen saat belajar otodidak,” kata seorang guru asal Sulbar kepada Ramli.

Baca juga:
IGI: Perjuangan Mengakomodasi “Seluruh” Guru Honorer, Lebih Bersifat Politis
IGI: Diklat Guru Berpotensi Mubazir
IGI Dukung Seluruh Sekolah Bertahap “Bebas Guru Honorer”

“Akhirnya, pengembangan kompetensi profesional kami jadi lambat, sedang di sisi lain perkembangan teknologi begitu cepat,” kata sejawat Ramli di Sulbar tersebut.

“Akibatnya, tak banyak hal yang dapat kami lalukan untuk membuat siswa kompeten,” lanjut sejawat Ramli lagi.

Kebanyakan Pelatihan Pedagogik
Guru asal Sulbar tersebut menyampaikan keinginannya yang sangat besar untuk meningkatkan kompetensi mereka. Tapi, dirinya menyayangkan kebanyakan yang tersedia adalah pelatihan pedagogik.

“Sungguh, keinginan kami untuk meningkatkan kompetensi amatlah besar. Namun, kebanyakan pelatihan yang diselenggarakan adalah pelatihan pedagogik, yang anggaran pelatihannya sampai ratusan miliar/tahun, yang diselengaraakan LPMP,” kata guru di Sulbar tersebut.

LPMP sendiri merupakan kependekan dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, yang umumnya berada di setiap provinsi.

Menurut guru asal Sulbar tersebut, soal pelatihan pedagogik, tanpa pelatihan pun sebenarnya para guru bisa menguasai materinya.

“Sebetulnya, tanpa pelatihan pun kami bisa mengaksesnya lalu menguasai materinya,” kutip Ramli dari pernyataan sejawatnya asal Sulbar tersebut.

“Oleh karena itu sangat besar harapan kami PP IGI dapat meneruskan usulan kami ke Kementerian, sebab kami tak punya akses untuk menyampaikannya,” lanjut sejawat Ramli.

Harapkan Pelatihan Kompetensi Profesional
Guru asal Sulbar tersebut menyampaikan harapannya ada program pelatihan kompetensi profesional bagi guru-guru produktif, di mana setiap sekolah diwakili dua atau tiga guru produktif.

Baca juga:
IGI: Penghapusan Sistem Honorer Akan Berkontribusi Besar pada Kualitas Pendidikan
Mendikbud: Mekanisme BOS Diubah untuk Sejahterakan Guru Honorer
Rakor Penyelesaian Masalah Guru Honorer Digelar

“Kami berharap ada program pelatihan kompetensi profesional bagi guru-guru produktif, di mana setiap sekolah diwakili dua atau tiga guru produktif, untuk mendapatkan pelatihan pengusaan kompetensi profesional secara maksimal,” kata guru asal Sulbar tersebut.

Menurutnya, guru yang telah mendapatkan pelatihan bertugas melatih guru di sekolah dan jurusannya masing-masing sebagai bentuk “sharing and growing” untuk meningkatkan kompetensi profesional guru produktif di sekolah masing-masing.

MGMP dan KKG Mayoritas seperti Arisan
Ramli menanggapi keluhan sejawatnya tersebut dengan pernyataan senada. Ia berpendapat bahwa kondisi guru produktif sangat menyedihkan.

“Guru produktif kita memang sangat menyedihkan kondisinya sejak dari hulu sampai hilir,” kata Ramli kepada SHNet, Minggu (9/2).

Menurutnya, pelatihan guru produktif lebih baik diserahkan kepada IGI ketimbang ke Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Kelompok Kerja Guru (KKG).

“Berulang kali saya minta sama Pak Ono, tapi beliau bersikukuh ke MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) dan KKG (Kelompok Kerja Guru),” kata Ramli.

“Prediksi hasilnya sebenarnya sudah saya sampaikan sebelumnya, bahwa MGMP dan KKG memang ada yang bagus, tapi mayoritas seperti arisan, bukan peningkatan kompetensi. Lebih penting konsumsi dibanding materi,” ujar Ramli. (whm/sp)