Ditinggal Turis China karena Corona, Dunia Pariwisata Merana

Ditinggal Turis China karena Corona, Dunia Pariwisata Merana

SHNet, Jakarta – Epidemi virus corona yang mematikan akan menelan kerugian di dunia pariwisata secara global setidaknya US $ 22 miliar atau Rp 308 triliun (kurs Rp 14.000) perdollar). Kepala Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia pada Kamis (27/2/2020) menyebutkan, ini terjadi karena penurunan pengeluaran oleh wisatawan Tiongkok.

Epidemi COVID-19 telah menewaskan lebih dari 2.760 orang, sebagian besar di China – di mana ia pertama kali muncul pada bulan Desember – dan menginfeksi lebih dari 81.000 di lebih dari 45 negara.

“Ini terlalu dini untuk diketahui tetapi WTTC telah membuat perhitungan awal bekerja sama dengan (perusahaan riset) Oxford Economics yang memperkirakan bahwa krisis akan menelan biaya sekurang-kurangnya US $ 22 miliar,” kata Gloria Guevara kepada harian El Mundo.

“Perhitungan ini didasarkan pada pengalaman krisis sebelumnya, seperti SARS atau H1N1, dan didasarkan pada kerugian yang berasal dari wisatawan Tiongkok yang belum bepergian dalam beberapa pekan terakhir,” katanya.

“Orang China adalah turis yang menghabiskan uang paling banyak saat mereka bepergian.”

Dilansir Chanelnews Asia, angka kerugian adalah skenario paling optimis yang dibayangkan oleh studi yang diterbitkan pada 11 Februari oleh Oxford Economics. Studi ini mengambil hipotesis penurunan 7,0 persen dalam perjalanan ke luar negeri oleh warga negara China.

Tetapi kerugiannya bisa lebih dari dua kali lipat, mencapai US $ 49 miliar jika krisis itu berlangsung selama wabah SARS, yang meletus pada November 2002 dan dikendalikan pada Juli 2003.

Dan itu bisa meningkat menjadi US $ 73 miliar jika bertahan lebih lama dari itu, kata Oxford Economics.

Ekonomi yang paling mungkin menderita adalah mereka yang paling bergantung pada pariwisata China, seperti Hong Kong dan Makau, Thailand, Kamboja, dan Filipina, demikian temuan para peneliti.

Pada hari Rabu, WTO mendesak negara-negara untuk menghindari mengambil langkah-langkah kesehatan yang akan menyebabkan “gangguan yang tidak perlu atas lalu lintas dan perdagangan internasional”. WHO mengatakan, pembatasan perjalanan perlu dilakukan secara proporsional untuk memastikan mereka tidak memiliki “dampak negatif pada sektor pariwisata”. (Ina)