Wisata ke Kawah Ijen, Menikmati Keindahan Alam dan Memacu Adrenalin

Wisata ke Kawah Ijen, Menikmati Keindahan Alam dan Memacu Adrenalin

SHNet, Banyuwangi – Pukul 08.00 pagi aku beserta rombonganku memutuskan meninggalkan homestay di lereng Gunung Ijen, pada hari kedua tahun baru 2020. Niatan kami adalah melihat kawah Ijen yang keindahannya sering kubaca di situs-situs online dan kulihat di televisi ataupun Youtube.

Kawah Ijen sebenarnya paling bagus dikunjungi pada malam hari, atau sebelum matahari terbit. Pada saat itu, kalian bisa menyaksikan api biru memancar dari dalam kawah “menjulang” ke angkasa, menari-nari. Tapi aku tak ke sana malam hari seperti kebanyakan orang karena dalam rombonganku ada beberapa anak kecil yang ikut serta.

Jalan menuju ke gunung Ijen sudah bagus, beraspal mulus. Tapi ada beberapa bagian yang kalian kudu hati-hati kalau melewatinya karena meliuk-liuk dan turun naik tinggi. Di sekitar jalan itu diberi rambu-rambu lalu lintas dan nasehat supaya pengemudi menggunakan gigi satu.

Karena kami berangkat dari homestay di lereng Gunung Ijen, kami hanya membutuhkan waktu 30 menit berkendara ke sana. Tapi jika kalian berangkat dari Kota Banyuwangi membutuhkan waktu sekitar 1 – 1,5 jam perjalanan menggunakan mobil. Menggunakan motor bisa lebih cepat.

Kita hanya bisa mengendarai mobil atau motor sampai lapangan parkir yang telah disediakan. Sementara itu untuk mencapai ke kawahnya, kita harus berjalan kaki sekitar 1,5 jam mendaki. Tapi ini sangat tergantung dengan kecepatan kita. Jika terlalu banyak istirahat, kita bisa-bisa sampai kawah Ijen dalam waktu 2,5 sampai 3 jam.

Jalan ke kawah Ijen meskipun setapak tapi sangat luas. Tentu saja menanjak. Namanya saja juga naik gunung, jadi gak mungkin datar kan?? Dari sinilah adrenalin kita dipacu. Jika matamu menatap ke depan, kalian akan melihat puncak gunung yang hijau, berselimut kabut, begitu juga saat kalian menenggok ke belakang. Di kanan kiri perjalanan kalian bisa melihat pohon-pohon pinus yang tumbuh di tebing dan lembah.

Saat kami ke sana, pohon-pohon di sana merangas, kering, batangnya hitam legam. Pohon-pohon itu bekas dilalap api akibat kebakaran hutan beberapa bulan lalu. Kata penduduk setempat, kebakaran itu terjadi karena ada petani yang buka lahan dengan cara membakar ladangnya dan apinya merembet hingga ke hutan Ijen.

Ada beberapa pos yang bisa kalian gunakan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Ada 6 pos di sana, dan juga sebuah warung – tapi orang-orang menyebutkan kantin. Warung ini menjual mie instan, goreng-gorengan, kue-kue kering, dan minuman. Orang-orang biasanya akan mampir ke warung itu setelah turum dari pendakian untuk sekedar ngaso atau ke toilet.

Dari warung ini ke kawah Ijen sudah tak lama lagi. Masih ada sedikit jalan yang mendaki, tapi setelah itu datar dan berliuk-liuk. Dari sini kamu bisa melihat lembah-lembah hijau dan gunung-gunung lain di sekitaran Ijen.

Untuk sampai ke kawah Ijen kami harus bersiasat dengan asap belerang. Saat itu, meski mendung, cuaca sedikit tidak ramah dengan para pendaki. Angin saat itu membuat asap belerang berhembus ke sisi timur, sehingga agak menyulitkan mendekati kawah dari radius yang paling dekat. Biasanya, kata orang-orang penambang belerang, angin berhembus ke barat sehingga kita bisa menikmati pemandangan yang utuh dan bersih.

Tapi apapun itu, kami berhasil melalui rintangan. Kami sampai juga di kawah Ijen berwarna hijau yang berkali-kali menghembuskan asap putih pekat bagai kabut dan bau belerang. Kami tak bisa berlama-lama di sana. Hanya mengambil sedikit foto dan turun karena khawatir sesak nafas. (Tutut Herlina)