Soal Mobil Listrik, Gaikindo : Belajarlah Dari China

Soal Mobil Listrik, Gaikindo : Belajarlah Dari China

SHNet, Jakarta – Dukungan terhadap kehadiran mobil listrik di Indonesia tidak hanya diberikan oleh pemerintah tetapi juga para pengusaha otomotif. Salah satunya berasal dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonenesia (GAIKINDO).

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Komara mengatakan, mobil listrik merupakan salah satu alternatif energi masa depan. Oleh karena itu harus didukung semua pihak. Namun dalam realitasnya, kehadiran mobil listrik masih memiliki kendala, bukan dari sisi pembuatannya, tetapi harganya. “Harganya mahal. Buat pengusaha masih susah mendapatkan skala ekonominya,” ujarnya kepada SH, Selasa (14/1), di ruang kerjanya.

Dia menyebutkan, Indonesia merupakan pangsa besar pasar penjualan mobil roda empat. Setiap tahunnya, sekitar 1,2 juta mobil roda empat terjual di Indonesia. Namun, 90 persen konsumen di negeri ini adalah kelas menengah ke bawah yang mampu membeli mobil dengan kisaran harga Rp 300 juta ke bawah.

“Mobil listrik memang salah satu alternatif energi masa depan. Tapi apakah itu jadi tren dunia?,” katanya. Kukuh menjelaskan, China memproduksi 28 juta mobil setiap tahunnya, 1 juta di antaranya adalah mobil listrik. China melalui pemerintah pusat dan daerah memberikan subsidi sekitar 50 persen dari harga mobil.

Namun, mulai tahun lalu, pemerintah daerah melepas subsidinya, sementara pemerintah pusat masih memberikan. “Sehingga pembelinya turun,” ujarnya. Sampai sejauh ini, perusahaan pembuat mobil listrik belum bisa menemukan harga yang terjangkau dari masyarakat. “Beri subsidi terus tidak mungkin. Di sana (China) 20 jalan tol ada stasiun pengisian bahan bakar, tapi juga tidak banyak digunakan, sehingga ada pertanyaan apakah akan diteruskan?,” kata Kukuh. Oleh karena itu, apa yang terjadi di China sebaiknya menjadi pelajar bagi Indonesia.

Menurut Kukuh, di Eropa, terutama di Inggris, kebijakan penggunaan mobil listrik secara menyeluruh baru bisa dilaksanakan sekitar 15-20 tahun lagi. Inggris memiliki GDP US$ 40.000, sementara GDP Indonesia hanya US$ 3.900. “Pasar yang akan menentukan. Di Indonesia BYD (mobil listrik dari China), tanpa pajak harganya Rp 800 juta, sebesar vios. Harga baterainya 40-60 persen dari harga mobil,” katanya.

Berkaca dari kondisi yang ada, Kukuh menilai, untuk saat ini motor roda dua bertenaga listrik sangat mungkin diterima pasar karena harganya lebih terjangkau oleh masyarakat.

Ia berharap, sambil merealisasikan kebijakan mobil listrik, sebaiknya perlu juga dibuka kesempatan penggunaan energi alternatif terbarukan lainnya. Misalnya saja, energi terbarukan B20-B30 yang bisa menurunkan emisi dan mengurangi impor. Sedangkan bensin bisa digantikan dengan etanol. “Banyak bahan yang bisa digunakan untuk energi terbarukan tetapi kebanyakan berhenti di penelitian,” ujarnya. (Tutut Herlina)