Lima Tahun Kembangkan Pariwisata, Desa Bantaragung Tuai Hasilnya

Lima Tahun Kembangkan Pariwisata, Desa Bantaragung Tuai Hasilnya

Desa wisata Bantaragung, Majalengka, Jawa Barat. (Dok.Andi Yuwono/Asosiasi Desa Wisata Indonesia)

SHNet, Jakarta- Mengembangan pariwisata yang ada di desa, ternyata dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakatnya. Hal inilah yang dialami oleh msyarakat di Desa Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat.

Dengan memanfaatkan potensi alam yang ada, masyarakat Desa Bantaragung mengembangkan menjadi destinasi wisata yang menarik.

Selama 5 tahun masyarakat bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Bantararung mengembangkan potensi pariwisata, mereka pun kini memetik hasilnya

Objek yang menjadi andalan desa ini adalah Curug Cipeuteuy, Bumi Perkemahan Awi Lega, Batu Asahan, Bukit Batu Semar, Puncak Pasir Cariu, dan Terasering Sawah Ciboer Pass. Kabarnya masih ada dua obyek wisata lainnya yang tengah dalam pengembangan. Dua obyek wisata baru itu bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor.

Curug Cipeuteuy merupakan air terjun dengan air yang masih jenih dan segar yang bersumber dari Gunung Ciremay.

Ciboer Pass yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari balai desa Bantaragung. Di Ciboer Pass ini wisatawan dimanjakan dengan hijau padi yang ditanam dengan pola terasering yang dibelah oleh Sungai Ciwaru. Keindahannya tidak kalah dengan sawah terasering Ubud, Bali. Ciboer Pass menjadi tempat yang asyik kala menikmati jingga di ujung hari.

Ciboer Pass, terasering di Desa Bantaragung, Majalengka, Jawa Barat. (Dok. Andi Yuwono/Asosiasi Desa Wisata Indonesia)

Dari sektor pariwisata ini pemasukan desa mencapai Rp2 miliar setahun. Bahkan mampu menyerap tenaga kerja yang bekerja di sektor pariwisata tersebut. Menurut catatan Pokdarwis Agung Mandiri, jumlah wisatawan yang datang mencapai 300 ribu orang per tahunnya.

“Apabila diakumulasikan, pendapatan desa dari delapan objek wisata alam ini sudah mencapai di atas Rp2 miliar. Semuanya itu kita kembalikan lagi kepada masyarakat, karena ini dibangun permodalannya dari masyarakat,” kata Kepala Desa Bantaragung Maman Surahman seperti yang dikutip dari www.merahputih.com.

Menurut Maman, dengan banyaknya wisatawan, pihaknya pun memberdayakan keluarga tidak mampu untuk menjadi homestay.. “Sampai saat ini sudah ada 370 homestay dengan tarif Rp 20 ribu-100 ribu per malam, ucapnya. Selain objek wisata alam, desa dengan 1.227 kepala keluarga dan luas wilayah 478 hektare juga memiliki potensi di bidang pertanian.

Maman mengatakan, Desa Bantaragung menjadi produsen durian terbesar di Kecamatan Sindangwangi. Tak hanya itu, ada kebun bawang merah seluas 113 hektare yang bisa menghasilkan 500-600 ton setiap kali panen.

Melalui berbagai upaya tersebut, diharapkan masyarakat desa Bantaragung bisa mandiri secara ekonomi tanpa harus urbanisasi ke kota.

“Harapan kami, karena Desa Bantaragung ini jauh dari perkotaan, sedikit sarana untuk menunjang kesejahteraan, diharapkan masyarakat dengan adanya objek wisata ini masyarakat bisa hidup di kampung sendiri, katanya. Warga bisa berjualan, lapangan perkerjaan terbuka, potensi alam yang ada bisa dimanfaatkan baik ternak hewan ataupun tanaman-tanaman endemik, kata Maman seperti yang dikutip dari www.ayobandung.com. (Stevani Elisabeth)