KPAI: Sekolah Keluarkan Siswa yang Ucapkan Selamat Ultah, Langgar Hak Anak

KPAI: Sekolah Keluarkan Siswa yang Ucapkan Selamat Ultah, Langgar Hak Anak

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti. [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan keputusan sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Solo, Jawa Tengah, yang menyerahkan kembali siswa berinisial AN kepada orang tua anak yang bersangkutan. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti menyampaikan hal ini dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Sabtu (11/1).

“Sebuah kabar viral di media sosial menyebut salah satu SMP di Solo mengeluarkan siswinya yang mengucapkan selamat ulang tahun (ultah) kepada teman laki-laki di sekolah yang sama. Sedangkan siswa yang diberi ucapan tidak dikeluarkan,” ujar Retno.

Kepada media, sekolah pun membenarkan telah menyerahkan kembali siswi berinisial AN kepada orang tuanya. Kepala Sekolah menegaskan sekolah telah melakukan penindakan sesuai prosedur. Sekolah menyebutkan telah melakukan pendampingan sebelum mengeluarkan siswi kelas VIII tersebut.

Retno menyatakan bahwa KPAI menyayangkan keputusan sekolah yang mengeluarkan AN karena dianggap melakukan pelanggaran berat, yaitu dianggap berlebihan bersikap terhadap lawan jenis. Puncaknya ketika AN mengucapkan selamat ulang tahun kepada anak laki-laki yang merupakan teman sekolahnya.

“Padahal secara normal dan masa tumbuh kembang seorang anak, mengucapkan selamat ulang tahun justru hal yang positif dalam sebuah pertemanan dan sosialisasi anak dengan kawan-kawannya,” ujar Retno.

Sekolah Terlalu Berlebihan
KPAI menilai sekolah terlalu berlebihan menetapkan aturan sekolah dan menerapkan sanksi, walaupun sekolah menyatakan sudah mengetahui anak dan orang tua di awal saat mendaftar atau masuk ke sekolah tersebut, dan mengaku sudah melakukan pembinaan terhadap AN.

“Sekolah melanggar hak atas pendidikan AN karena mengeluarkan secara tidak adil dan berpotensi menimbulkan stigma negatif bagi AN ketika dia bersekolah di tempat lain. Ini juga bisa dikatakan sebagai kekerasan psikis terhadap AN,” kata Retno.

Baca juga: KPAI : Stop Sebarkan Video Kekerasan terhadap Anak!

KPAI menilai sekolah tidak pernah melibatkan anak dan tidak pernah mendengarkan suara anak dalam menetapkan aturan tersebut. Seoalah itu meruapakan bagian pendidikan dan mendisiplinkan anak, seolah itu merupakan kebutuhan anak dan untuk melindungi anak-anak. Padahal, aturan sekolah seharusnya tidak boleh bertentangan dengan aturan di atasnya.

Berteman (atau mungkin saling suka pada lawan jenis) dan mengucapkan selamat ulang tahun terhadap siapa pun adalah merupakan hak anak dan bagian dari proses tumbuh kembangnya sebagai remaja.

Sekolah Tidak Paham Psikologi Perkembangan Anak
KPAI juga menilai sekolah tidak memahami psikologi anak dan psikologi perkembangan anak. Anak usia remaja 13-15 tahun (SMP/sederajat) memang dalam fase mulai memperhatikan lawan jenis. Bukan harus dikekang, melainkan seharusnya dikontrol dan diedukasi.

“Kalau kita sebagai orang dewasa khawatir karena pada masa ini remaja sangat rentan melakukan hal-hal negatif terhadap seksualitas yang mulai berkembang, maka yang harus dilakukan adalah melakukan pendampingan dan memberikan pendidikan kesehatan reproduksi.

Retno mencontohkan, seringkali kita lihat remaja tidak ingin diatur dengan peraturan yang ketat. Penyebabnya, mereka lebih sering menuntut kebebasan individu karena mereka mulai belajar berpikir bebas dan kritis.

Seiring dengan perkembangan tersebut, suasana hati seorang remaja seusia ini sering berubah-ubah. Tidak jarang, dalam suatu waktu ia merasakan suasana yang menyenangkan, kemudian tiba-tiba sangat sedih. Kadang mereka menjadi anak baik, tapi kemudian mereka menjadi anak yang susah diatur.

Retno mengingatkan, pada masa ini remaja sibuk mencari jati diri. Mereka sudah mulai berpikir bagaimana kehidupan mereka kelak. Kemana mereka melanjutkan sekolahnya. Pada fase inilah mereka menemukan segala macam keterbatasan.

“Pada masa remaja ini biasanya banyak konflik terjadi karena proses perkembangan psikologi remaja itu. Di sinilah pentingnya komunikasi, bukan melulu melarang dan mengekang, tapi dampingi dan jadilah teman bagi mereka,” pesan Retno.

Dinas Pendidikan Harus Evaluasi Aturan SMP Bersangkutan
KPAI mendorong Dinas Pendidikan Kota Solo mengevaluasi aturan di SMP IT tempat AN bersekolah. Jika aturan sekolah tersebut tidak sejalan dengan prisip kepentingan terbaik bagi anak, maka sudah seharusnya Dinas Pendidikan Kota Solo mendorong revisi aturan tersebut.

“Sekolah harus didorong untuk menerapkan program Sekolah Ramah Anak, SRA,” ujar Retno.

KPAI mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mensosialisasikan kepada Dinas Pendidikan dan sekolah terkait serta mengedukasi tentang Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Sekolah.

“Kekerasan di sekolah tidak hanya fisik dan seksual, tetapi juga kekerasan psikis,” ujar Retno mengingatkan. (whm/sp)