Jalan Panjang Mobil Listrik di Indonesia

Jalan Panjang Mobil Listrik di Indonesia

SHNet, Jakarta – Dunia tengah mengalami perubahan iklim dan pemanasan global. Salah satu yang dituding berkontribusi adalah manusia. Manusia terlalu banyak membuat polusi akibat industri rumah kaca hingga menggunakan bahan bakar fosil yang tidak terbarukan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

Salah satu usaha untuk mengurangi kerusakan lingkungan adalah mobil listrik. Mobil ini diciptakan karena dianggap menjadi alternatif untuk ramah lingkungan. Dengan mobil listrik, pencemaran udara akan berkurang dan bahan bakar fosil menjadi terlindungi. Mobil listrik disebutkan juga lebih efisien.

Perusahaan otomotif di beberapa negara telah membuat mobil listrik. Sebagian telah dipasarkan di berbagai negara. China menjadi negara yang memiliki konsumen paling banyak yang menggunakan mobil listrik. China merupakan produsen dan konsumen paling besar di dunia. China memprodukai 28 juta mobil pertahun dan 1 juta diantaranya adalah mobil listrik.

Seperti di negara lain, Presiden Joko Widodo juga ingin menghadirkan mobil listrik di Indonesia. Pada pertengahan tahun lalu, Presiden Joko Widodo mengeluarkan peraturan presiden (Perpres) No 15 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Baterry Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Sejumlah usaha dilakukan agar Indonesia tak hanya jadi konsumen, tetapi juga pemain dalam mobil listrik. Tapi bagaimana dan kapan mimpi mobil listrik bisa terealisasi di Indonesia?

Selain mengeluarkan perpres, Presiden Jokowi juga menyatakan bahwa hanya mobil listrik yang akan diizinkan mengaspal di Ibu Kota baru di Kalimantan Timur. Itu sebagai bagian dalam menciptakan ibu kota baru yang ramah lingkungan.

Namun, untuk merealisasikan mimpi mobil listrik di Indonesia tidak bisa dilakukan pemerintah saja. Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro meminta masyarakat turut mendukung pembangunan kendaraan listrik di Indonesia. Salah satunya dengan membeli kendaraan listrik dalam negeri. “Kita harus menciptakan rangkaian yang penuh untuk mendukung segala aspek pembangunan ekosistem kendaraan listrik Indonesia,” katanya dalam roadmap Ekosistem Kendaraan Listrik dalam Mendukung Solusi Transportasi Ramah Lingkungan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, untuk menyukseskan program mobil listrik perlu adanya pendidikan pada masyarakat. Masyarakat harus dididik bahwa mobil listrik lebih ramah lingkungan.

Wakil Direktur PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) Darmawan Prasojo mengatakan, mobil listrik hanya membutuhkan daya listrik sebesar 2 kilo watt (kWh) per 10 km, dimana tarif PLN sebesar Rp 1.467 per kWh. Artinya mobil listrik hanya butuh sekitar Rp 3000 untuk jarak 10 kilometer.

Ini berbeda jauh dengan penggunaan bahan bakar fosil yang ada di mobil saat ini. Mobil berbahan bakar bensin pertalite membutuhkan 1 liter per 10 km. Harga 1 liter bensin sekitar 9.500.

Dia menjelaskan, hasil pembakaran BBM untuk menggerakan mesin mobil cenderung tidak maksimal. Dari 1 liter BBM, hanya 80 persen diantaranya yang dapat diubah menjadi bahan bakar penggerak mobil. Kondisi ini berbeda dengan mobil listrik yang menggerakan mesin dengan jumlah pasikan sumber tenaga yang efisiensinya lebih dari 60 persen.

Harganya masih mahal

Namun, ada pertanyaan dari masyarakat umum, berapa harga mobil listrik? Yu Changkai, seorang bisnisman asal Indonesia yang pernah bertandang ke pabrik BYD Car di Shenzhen mengatakan, mobil listrik adalah mobil masa depan karena sangat efisien. Namun, persoalan yang dihadapi mobil listrik saat ini adalah harganya yang mahal. Harga mobil BYD saat ini masih di atas Rp 1 miliar. Tapi di China, mobil listrik disubsidi oleh pemerintah hingga 50 persen.

“Saya tanya waktu di sana. Apa yang membuat harganya mahal? Mereka bilang, karena biaya riset dan dan baterainya. Tapi kelak bisa lebih murah,” katanya. Menurutnya, kebijakan mobil listrik di Indonesia akan membutuhkan waktu panjang untuk bisa direalisasikan. Bagaimanapun juga, kesuksesan mobil listrik akan tergantung pasar dan kemampuan daya beli masyarakat Indonesia. “Untuk Indonesia harus tunggu sampai harga terjangkau oleh publik,” ujarnya.

Sementara itu, Udiawanto, seorang karyawan di perusahaan marmer mengatakan, ia punya mobil, tapi buatnya sangat kecil kemungkinan untuk membeli mobil listrik. “Sederhana saja, duitnya siapa yang buat beli? Harganya saja mahal. Daripada beli mobil listrik mending duitnya buat beli rumah dan kebutuhan lainnya,” katanya. Saat ini, katanya, banyak orang Indonesia punya mobil yang harganya murah tetapi bisa buat mengangkut satu keluarga. “Itupun juga kebanyakan kredit. Kreditnya masih terjangkau,” ia memaparkan. (Tutut Herlina)