Desa Wisata Menghasilkan Produk dari Sampah

Desa Wisata Menghasilkan Produk dari Sampah

SHNet, Semarang – Kota yang memiliki wisata terbaik ini terkenal sebagai kota terbesar kelima di Indonesia sesudah Jakarta, Surabaya, Medan dan Surabaya. Wisata terbaik yang banyak dikunjungi yaitu Masjid Agnung Jawa Tengah, Lawang Sewu, Kelenteng Tay Kak Sie Tri Dharma dan masih banyak lagi. Namun selain itu, Ada desa wisata pengasil produk dari sampah yang harus Anda kunjungi.

Desa wisata ini menggunakan sampah sebagai bahan utamanya. Bahan sampah yang digunakan meliputi sisa bahan industri seperti botol, kantong plastic, kertas, air limbah dan masih banyak lagi. Ketekunan dan kreatifitas sangat dibutuhkan oleh warga Semarang untuk membangun desa wisata Semarang menghasilk produk dari sampah.

Kabar gembira bagi kota metropolitan di Jawa Tengah yang mewakili Indoensia untuk mengikuti lomba wisata bersih se-Asia Tenggara. Walaupun Semarang masih tergolong baru dalam bidang pariwisata, namun dapat berkompetisi di ASEAN clean tourist city. Tidak hanya Semarang, tapi juga enam kota besar lainnya ikut bersaing dala kompetisi tersebut seperti Banyuwangi,Surabaya, Solo, Bandung, Malang, dan Buleleng.

Masuk Semarang dalam ajang nominasi bergengsi ini tentunya tidak akan jauh dari pengolahan sampah yang tidak berguna menjadi barang yang dapat diproduksi. Bahkan dapat menarik investor luar negeri yaitu Denmark serta mampu mengonversi sampah menjadi tenaga listrik. Desa Wisata tersebut seperti:

Air Limbah menjadi Desa Wisata Buah
Pemerintah Kota Semarang dan salah satu perusahaan di sana mengadakan kerja sama untuk membangun desa wisata buah. Perusahaan pembayar pajak terbesar 2014 senilai Rp289 miliar ini membantu mengembangkan desa Diawak dan desa Bergas dengan membangun istalasi pengolahan limbah. Ipal ini akan mengolah air limbah pabrik yang kemudian digunakan untuk mengairi tanaman buah tersebut

Pemanfaatan air limbah ini menciptakan desa wisata pengasil produk berupa buah buahan berbasis pariwisata. Pada mulanya desa Diwak ditanami durian lokal berkualitas, sedangkan desa Bergas ditanami buah alpukat varietas wina. Kemudian pengembangan budidaya alpukat dilakukan di dusun Krajan, Sruwen, Kemloko, Kebon Kliwon, dan Srumbung.

Dataran tinggi akan selalu memberikan sensasi yang sangat menyenangkan untuk dikunjungi. Salah satunya kawasan wisata Basecamp Mawar Gunung Ungaran. Dulu tempat ini hanya terkenal untuk para pendaki gunung Unggaran, namun sekarang tempat ini sangat berbeda. Selain dapat menikmati udara sejuk, dengan pemandangan alam juga digunakan untuk bersepeda ekstrem downhill, dan juga paralayang.

Ada keunikan yang berbeda dari kawasan di Gunung Ungaran ini yaitu produk dari sampah botol air mineral yang dijadikan spot foto cantik. Masyarakat yang tergabung dalam komunitas Sakpala mendapatkan isinsiatif untuk membangun desa wisata penghasil produk dari sampah dengan membuat spot foto berbentuk hati, gua botol dan selanjutnya akan ditambah rumah joglo yang semuanya terbuat dari botol bekas minuman para pengunjung.

Desa Wisata Edukasi
Desa wisata ini terletak di Ngudi Kamulyan wilayah RT 3 RW II, Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur. Desa wisata penghasil produk kompos dari sampah organik. Kabarnya pembuatan pupuk kompos ini disebabkan karena keresahan sampah yang menumpuk di desa tersebut. Hal ini dapat menurunkan volume sampah di TPA tempat tersebut.

Pembuatan kompos di desa tersebut membuat sebagian masyarakat penasaran untuk berkunjung ke tempat tersebut. Banyak warga luar kota dan civitas akademik melakukan penelitian, skripsi dan tesis tentang kompos dari sampah organik.

Selain menjadi kompos organik, ada pula pemilihan sampah organik dan anorganik yang kemudian dapat menghasilkan energy listrik. Hal ini dilakukan oleh masyarakat yang hidup daerah TPA Jatibarang. Pengolahan sampah menjadi energy listrik ini membuat Denmark berani berinvestasi untuk mengonversi sampah menjadi tenaga listrik. (maya)