Desa Duwet, Sentra Pembuatan Nasi Liwet

Desa Duwet, Sentra Pembuatan Nasi Liwet

Nasi liwet (Dok.Dhanang Sukmana)

SHNet, Solo- Nasi liwet, kuliner yang satu ini memang sudah tidak asing di lidah orang Indonesia. Apalagi bila kita berkunjung ke Solo, Jawa Tengah.

Nasi gurih yang dimasak dengan santan, dipadukan dengan sayur labu siam, tempe dan tahun bacem, ayam maupun telur ini, salah satu kuliner yang selalu dicari orang ketika berkunjung ke Solo.

Taukah Anda bahwa nasi liwet itu bukan berasal dari Solo. Dikutip dari www.pesona.travel.com , nasi liwet sendiri dibuat tidak di kota Solo, melainkan di salah satu desa sentra industri yang hampir semua masyarakatnya adalah pembuat nasi liwet, desa tersebut adalah Desa Duwet yang terletak di Baki, Sukoharjo.

Desa Baki Sukoharjo memang salah satu desa wisata atau desa yang dijadikan sebagai sentra industri pembuatan nasi liwet. Desa ini terletak berbatasan langsung dengan kota Solo. Rata rata masyarakat Desa Duwet, setelah memasak nasi liwet menjual nasi liwet tersebut di setiap sudut kota Solo, baik kota Solo maupun kawasan Solo Baru.

Lalu kenapa lebih dikenal di Solo? Konon nasi liwet ini merupakan makanan favorit lingkungan Keraton. Pembuat nasi liwet yang terkenal di kalangan keraton dulu adalah Nyai Lenggi, yang merupakan warga Desa Duwet. Nyai Lenggi dimakamkan di Desa Duwet dan masih ada petilasannya. Untuk itu hingga saat ini Desa Duwet yang berada di Sukoharjo menjadi sentra industri nasi liwet tersebut.

Ciri khas memasak nasi liwet adalah menggunakan tungku. (Dok. Dhanang Sukmana)

Nasi liwet tak sekadar makanan favorit di lingkungan Keraton, ada makna terpendam yang berkaitan erat dengan kultur Jawa. Sepincuk nasi liwet yang dihidangkan menggambarkan kedekatan masyarakat Jawa dengan nasi atau sego. Nasi liwet inilah yang biasanya menjadi santapan para abdi dalem keraton dengan duduk bersila sebagai simbol kesederhanaan.

Wisatawan yang ingin melihat secara langsung bisa saja berkunjung ke Desa Duwet tersebut, di sana kita bisa melihat proses pembuatan nasi liwet yang rata-rata dibagi menjadi dua shift oleh warganya. Pembuatan nasi liwet shift sore untuk dijual malam hari, dan pembuatan nasi liwet shift dini hari untuk dijual dipagi hari.

Bahan utama pembuatan nasi liwet adalah beras, kebanyakan warga Duwet memilih beras dari Delanggu Klaten, karena termasuk penghasil beras terbaik di Jawa. Setelah beras dibersihkan dengan air, kemudian beras dimasak selama satu jam setelah beras sudah menjadi nasi kemudian nasi tersebut dimasak bersama santan, daun salam daun pandan, lengkuas dan garam.

Sambil menunggu nasi liwet matang, sayuran dari labu siam juga dibuat, termasuk ayam, tahu bacem, tempe bacem dan telur bacem. Yang menjadi khas dari nasi liwet adalah Kumut. Kumut adalah olahan santan yang dimasak dengan putihan telur dan garam. Cara memasaknya adalah dengan memisahkan perasan santan yang dipanaskan dengan daun salam hingga mengeluarkan uap, setelah itu dimasukan putih telur bersama garam dan aduk hingga merata dan tunggu hingga menjadi kental dan mengeluarkan gumpalan atau endapan putih.

Untuk mendapatkan cita rasa khas, cara memasak nasi liwet di Desa Duwet ini selalu menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu bakar. Cara inilah yang jarang ditemukan di tempat-tempat lain selain di Desa Duwet. (Stevani Elisabeth)