Perlu Program Pembinaan Terpadu Bagi Atlet Gulat

Perlu Program Pembinaan Terpadu Bagi Atlet Gulat

TERSEBAR - Bibit-bibit bertalenta dari cabang Olahraga gulat yang tersebar di hampir seluruh provinsi, termasuk daerah tingkat II berupa kabupaten dan kota. (Dok/SHNet)

SHNet, JAKARTA – Jangan khawatir dengan potensi atlet gulat. Bibit-bibit bertalenta dari salah satu cabang olahraga tertua di muka bumi ini, untuk Indonesia, tersebar di hampir seluruh provinsi, termasuk daerah tingkat II berupa kabupaten dan kota.

Itu tercermin dari Kejuaraan Nasional Gulat Antar PPLP/PPLPD/PPOP dan SKO, yang diselenggarakan di GOR.Patriot, Kompleks Kodam Diponegoro, Semarang, Jumat hingga Minggu, 29 November-1 Desember 2019.

Ratusan pegulat belia dan remaja pelajar SMP dan SMA berkompetisi selama tiga hari di 15 kelas dari kategori gaya bebas putra dan putri dan grego. Mereka adalah para pegulat masa depan yang terhimpun di sejumlah Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP), Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD), Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP), dan Sekolah Khusus Olahraga (SKO) yang tersebar di berbagai daerah.

“Ini membuktikan bahwa sesungguhnya kita tidak kekurangan bibit-bibit pegulat. Potensi kita sangat luar biasa. Sayang kalau kecintaan mereka pada olahraga gulat ini tidak dibarengi dengan perhatian dan kepedulian kita,” ungkap Steven Setiabudi Musa, Ketua Pengprov PGSI DKI Jakarta, Senin (2/12).

Ia kemudian juga mencontohkan tentang antusiasme luar biasa dari para pegulat belia yang dibina  berbagai klub gulat di Jakarta. Mereka datang ke GOR Otista, Jakarta Timur, menyaksikan senior-seniornya ‘mengadu nasib’ di ajang Pra PON, awal November 2019 lalu. “Saya sendiri kaget, mereka begitu banyak. Para pegulat putrinya juga cantik-cantik. Semuanya masih sekolah,” cerita Steven Setiabudi Musa.

Steven, anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, pada Jumat dan Sabtu (20-30/11) berada di Semarang dan sempat menyaksikan gelaran gulat antar pelajar yang tergabung di PPLP/PPLPD/PPOP dan SKO tersebut. Bersama Andreas Budi Wirohardjo, Ketua Pengprov PGSI Jateng, Bambang Rahardjo Munadjat, Sekum Pengprov PGSI Jateng, dan Agus Pebrianto, Sekum Pengprov PGSI Kalsel, Steven Setiabudi Musa secara langsung melihat kegairahan yang tinggi dari ratusan peserta untuk menjadi yang terbaik dari event tersebut.

Peserta event ini juga demikian membludak karena dianggap sebagai ‘pengganti’ dari kompetisi gulat Popnas 2019. Multievent yang digelar oleh Kemenpora tersebut tidak memasukkan gulat sebagai salah satu cabor yang dipertandingkan. Jateng, yang selama ini berperan besar dalam menggelar berbagai event gulat kategori yunior, belakangan berhasil ‘membawa’ kejuaraan antar PPLP/PPLPD/PPOP dan SKO ke Semarang.

Andreas BW menjelaskan, cabor gulat tidak akan pernah kehilangan pesonanya seiring dengan dinamika yang dialami oleh jenis olahraga tertua di dunia ini. Oleh karena itu dia menegaskan pentingnya dibuat program pembinaan yang terpadu dan berkesinambungan.

“Jangan sampai aspek pembinaan untuk para pegulat belia dan remaja ini terputus di tengah jalan. Kegairahan dari para pegulat belia dan remaja ini harus diperhatikan secara seksama dan serius,” tegas Andreas BW.

Soal pembinaan yang terpadu dan berkesinambungan itu pula yang diingatkan sejumlah perwakilan Pengprov PGSI, Sabtu (30/11) lalu di Semarang. Mereka menjelaskan penting dan sekaligus beratnya tugas bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) di PP PGSI sebagai induk organisasi gulat nasional.

“Kabid Binpres PP) PGSI mestinya tidak sekadar mengurusi atlet menjelang Asian Games dan SEA Games saja, akan tetapi secara keseluruhan, nasional. Binpres wajib menggelar kejuaraan-kejuaraan dari berbagai kategori, baik kadet, yunior dan senior,” ujar Munir Rochmat dari Pengprov PGSI Jabar.

Ratusan pegulat belia dan remaja yang bertarung di Semarang pada Kejuaraan Antar-PPLP/PPLPD, PPOP dan SKO berasal dari 28 tempat penggemblengan. Yakni, PPLP Sumbar, PPLP Jateng, SKO Ragunan, SMANOR Jatim, PPOP DKI Jakarta, PPLP Jambi, PPLP Jatim, PPLP Kaltim, PPLP Bengkulu, PPLP Kalteng, PPLP Jabar, PPLP Kaltara, PPLPD Jatim, PPLPD Surabaya Jatim, PPLPD Kalsel, PPLP Riau, PPLP Sumut, PPLP Lampung, PPLPD Demak, PPLP Kalsel, PPLPD Kendal, PPLP Banten, PPLPD Kota Tangerang, PPLPD Kukar, PPLPD Pemalang, PPLPD Medan, PPLPD Kabupaten Tangerang, dan PPLPD Grobogan

Hasil kejuaraan ditentukan berdasarkan perolehan poin dan penilain peringkat dari atlet. Satu medali emas serupa dengan nilai 25, satu perak 20, sementara satu perunggu 15. Dengan parameter itu, tim gulat PPLP Sumbar yang memperoleh 1-2-4 set medali membukukan nilai tertinggi 157 dan berada di peringkat pertama dalam klasemen umum. Tim gulat PPLP Jateng yang merebut 1-1-3 set medali berada di peringkat kedua dengan nilai 116.

Peringkat berikutnya dalam klasemen umum berturut-turut ditempati oleh tim SKO Ragunan (2-1-1) dengan nilai 115, tim SMANOR Jatim (3-1-1) dengan nilai 112, dan tim PPOP DKI Jakarta (2-0-3) dengan nilai 109.

Dari perhitungan perolehan medali, tim SMANOR Jatim berada di posisi teratas dengan perolehan tiga medali emas, satu perak dan satu perunggu itu. Disusul oleh tim PPLP Jatim dengan perolehan tiga emas dan satu perunggu (3-0-1). Berikutnya, tim SKO Ragunan (2-1-1), dan tim PPLP DKI Jakarta (2-0-3).

Dari total 15 kelas yang dipertandingkan, Jatim masih mendapat satu medali emas, untuk tim PPLPD Jatim. Dengan demikian, secara total tim pegulat belia dan remaja Jatim membawa pulang tujuh medali emas, ditambah dua perak dan dua perunggu (3-2-2). Tim lainnya yang berhasil membawa pulang medali emas adalah PPLP Kaltim dan PPLP Jabar, masing-masing satu medali emas.  (Nonnie Rering)