Begini Cara Berikan Pendidikan Seks Bagi Anak Autis

Begini Cara Berikan Pendidikan Seks Bagi Anak Autis

SHNet,Jakarta – Seperti yang sudah diketahui, anak dan remaja yang didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme memiliki tahap perkembangan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Namun, anak dengan autisme juga bisa menjalani hidup layaknya orang-orang biasa. Kelak mereka akan mampu bekerja, menjalin hubungan dengan orang lain, serta berkeluarga.

Pentingnya pendidikan seks bagi anak dengan autisme

Penting bagi orangtua anak dengan autisme untuk menyiapkan putra dan putrinya dalam setiap aspek kehidupan, termasuk kehidupan seksual anak. Pasalnya, anak dengan autisme punya tantangan yang berbeda. Tidak seperti remaja seusianya, mereka mungkin tidak banyak tahu soal seks dari lingkungan pergaulannya. Karena itu, kalau tidak dibekali dengan pendidikan seks dari orangtua, anak bisa jadi tidak tahu apa-apa soal seksualitas. Hal ini membuatnya lebih rentan dimanfaatkan atau hal-hal lainnya yang tidak diinginkan.

Selain itu, anak dengan autisme kadang kesulitan mengutarakan pikirannya, termasuk soal seksualitas. Jadi anak mungkin punya masalah tertentu, misalnya bingung kenapa dia mengalami mimpi basah. Namun, karena tidak bisa mengungkapkannya, ia bisa jadi frustrasi sendiri. Itulah mengapa orangtua yang harus mengambil peran aktif dalam memberikan pendidikan seks yang mudah dimengerti seorang anak atau remaja dalam spektrum autisme.

Beragam tantangan seputar seksualitas yang dihadapi orang dengan autisme
Seperti manusia lainnya, orang dengan autisme juga memiliki hasrat seksual. Libido mereka berfungsi normal. Ketika mereka sudah pubertas, mereka akan terdorong untuk melakukan berbagai kegiatan seksual. Misalnya seperti tertarik kepada lekukan tubuh orang lain, keinginan untuk menyentuh bagian tubuh orang lain, hingga melakukan masturbasi untuk memenuhi hasrat seksualnya.

Hasrat seksual pada manusia adalah normal. Kepekaan dan perasaan untuk melakukan seks dimiliki oleh setiap orang, termasuk orang dengan autisme. Namun, ada berbagai cara yang dilakukan untuk mengekspresikan hasrat tersebut. Tentu, orang dengan autisme memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan hasrat mereka.

Akan tetapi, orang dengan autisme dalam beberapa hal tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka perlu diajarkan dengan baik untuk bisa membedakan mana yang boleh serta tidak boleh untuk dilakukan.

Misalnya, mereka bisa jadi tidak paham bahwa memegang dada perempuan, apalagi yang baru saja mereka temui, adalah hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Perempuan tersebut tentu saja akan merasa jengkel. Masalahnya, pemahaman akan emosi orang lain tidak dapat dengan mudahnya dicerna oleh anak dengan autisme.

Jika tidak diajarkan dengan baik, mereka juga tidak memiliki pemahaman yang baik mengenai waktu dan tempat yang tepat untuk melakukan sesuatu. Misalnya, anak tiba-tiba menyentuh area intimnya di tempat umum ketika timbul hasrat seksual. Anak akan kesulitan memahami apakah melakukan hal tersebut sesuai dengan norma sosial di tempat itu atau tidak.

kalimat yang tidak boleh diucapkan pada anak

Tips memberikan pendidikan seks bagi anak dengan autisme

Bagi orangtua dari anak dengan autisme, Anda perlu usaha ekstra untuk mengajari mereka mengenai konsep seksualitas. Masa kanak-kanak adalah masa yang sesuai untuk mengajari berbagai hal dan memberikan rambu-rambu peringatan dalam kehidupannya. Jadi, Anda bisa mulai pendidikan seks sedini mungkin .

Pertama, jelaskan padanya bahwa kegiatan seksual adalah sesuatu yang berharga dan luar biasa. Sehingga, kegiatan ini berbeda dengan kegiatan lain seperti misalnya makan dan tidur. Karena itu, aktivitas seksual hanya boleh dilakukan dengan pasangan sendiri ketika mereka hanya sedang berdua.

Kemudian, buat anak Anda paham bahwa tidak semua orang ingin melakukan kegiatan seksual. Ada yang namanya persetujuan atau dalam bahasa Inggris disebut “informed consent”. Untuk melakukan kegiatan seksual, membutuhkan persetujuan dari kedua belah pihak. Misalnya, jika seseorang berkata tidak, maka kegiatan tersebut tidak boleh dilakukan. Selain itu, jika orang yang sudah mengatakan tidak tetap diajak berkegiatan seksual oleh anak Anda, tentu orang tersebut akan bereaksi, seperti berteriak, menjauh, hingga menampar.

Selain itu, anak Anda juga diajari soal waktu dan tempat yang sesuai untuk melakukan kegiatan seksual. Ketika Anda menemukan anak Anda tiba-tibat masturbasi di hadapan orang lain, segera hentikan perilaku tersebut. Bukan hanya fokus pada aksinya, namun buatlah ia mengerti bahwa melakukan hal tersebut di depan orang lain tidak layak untuk dilakukan.

Arahkan ke tempat yang tertutup, misalnya kamar tidur atau kamar mandi. Jika anak Anda melakukan hal yang sama di lain waktu, lakukan ini terus. Anak dengan autisme akan belajar dari sesuatu yang rutin dilakukan. (maya)