ASN di Kementerian Sosial Harus Berkarakter Pancasila

ASN di Kementerian Sosial Harus Berkarakter Pancasila

SHNet, Jakarta– Menteri Sosial RI Juliari P Batubara menegaskan, Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Sosial harus berkarakter Pancasila.

“ASN saat ini dituntut untuk meningkatkan kualitas dan berkarakter Pancasila,” ujarnya di sela-sela Workshop Wawasan Kebangsaan bertajuk Internalisasi dan Pembumian Pancasila & Penguatan Wawasan Kebangsaan, di Gedung Konvensi Utama TMPN Jakarta, Senin (9/12)

Menurutnya, acara tersebut mengingatkan kembali ASN di lingkungan Kemensos berkarakter Pancasila sepeti gotong royong, kesetiakawanan sosial dan anti radikal.

Mensos menambahkan, Pancasila harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap produk yang keluar dari Kemensos harus senafas dan senada dengan ideologi Pancasila.

“Tidak boleh ada satu orang pun di Kemensos yang perilakunya, sikapnya bertentangan dengan Pancasila,” tegas Mensos Juliari.

Ia menambahkan, program-program dan kebijakan-kebijakan Kemensos mencerminkan Pancasila khususnya sila kedua yakni kemanusiaan yang adil dan beradab.

Presiden RI ke-5 dan Ketua Dewan Pengarah Pembinaan Ideologi Pancasila, Megawati Soekarnoputri mengatakan, Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia telah diakui oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

“Jadi jangan rusak bangsa Indonesia dengan ideologi lain. Khilafah sudah tidak ada sejak 1924.Kita sudah punya tata kenegaraan dengan ideologi Pancasila,” ujarnya Ketua Umum PDI Perjuangan ini.

Menurutnya, Pancasila memang ada 5 sila, namun intinya adalah Eka sila yang merupakan akar kehidupan bangsa Indonesia. Akar kehidupan bangsa Indonesia adalah gotong royong.

Sementara itu, Mayjen Juwondo, Tenaga Ahli Pengkaji bidang Kepemimpinan Lemhanas mengatakan, kepemimpinan adalah ilmu dan seni. Ilmu bisa dipelajari sedangkan seninya tergantung dari orang per orang, situasi dan orang yang dipimpin.

“Kepemimpinan tidak mengenal salah dan tidak salah tapi tepat atau tidak tepat. Ujung dari kepemimpinan adalah mencapai tujuan,” ujarnya.

Ia menambahkan, manusia itu fitrahnya seorang pemimpin. Paling tidak memimpin diri sendiri.

Kondisi riil saat ini, intoleran, kemiskinan, narkoba, hoax bertebaran dimana-mana. Esensi seorang pemimpin nasional adalah moral dan etika, integritas, karakter, komitmen dan kompetensi dan kemampuan.

“Pemimpin Nasional bukan hanya Presiden dan menteri, tetapi semua kita yang dipercayakan menjalankan tugas untuk mencap.ai tujuan nasional,”ujarnya.

Kepemimpinanyang berwawasan kebangsaan tidak lepas dari nilai konsensus dasar bangsa yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD NRI THN 1945 dan NKRI. (Stevani Elisabeth)