PFN Promosi Film Indonesia ke Luar Negeri

PFN Promosi Film Indonesia ke Luar Negeri

SHNet, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam berbagai kesempatan meminta kepada para duta besar (dubes) agar lebih gencar mempromosikan tentang Indonesia di wilayah tugasnya. Negara-negara lain harus lebih banyak mengenal Indonesia dari berbagai segi, baik budaya, kerajinan, pariwisata dan potensi-potensi ekonomi lainnya.

Sekarang tugas dubes lebih banyak pada diplomasi ekonomi, meski tidak mengabaikan diplomasi politik. Kerja sama ekonomi yang baik akan sangat membantu hubungan politik yang baik pula.

Perum Produksi Film Negara (PFN) bekerja sama dengan Kedubes Polandia akan menggelar festival film Indonesia di negara tersebut pada 10-11 Desember 2019 mendatang.  Ini bagian dari Film Festival of Indonesia Overseas (FIFO) yang telah dirancang untuk jangka panjang oleh Perum PFN.

“Ini yang pertama. Tahun depan, kita akan lakukan setidaknya di 12 negara. Negara-negara itu sudah mau,” kata Drektur Utama Perum PFN, Judith J.N. Dipodiputro di Jakarta, Kamis (21/11). Ia menjelaskan, potensi film yang bisa digarap untuk dipromosikan PFN ke luar negeri sangat banyak. Tinggal saja nanti, mencari partner di negara yang dituju untuk berkolaborasi.

“Ada banyak keuntungan yang didapat kalau kita lakukan FIFO ini. Kita ingin BUMN menjangkau pasar luar negeri. Kita kolaborasi. Kita bisa cari partner, putar film sambil promisi BUMN-BUMN kita ke luar negeri,” jelas Judith.

Direktur Komersial dan Pemasaran Perum PFN, Elprisdat, mengatakan selain melakukan promisi film Indonesia ke luar negeri, di dalam negeri pihaknya akan memperbanyak Bioskop Rakyat” di berbagai daerah. Bioskop Rakyat adalah bioskop dengan harga tiket murah yang akan dibangun di asset-aset milik BUMN di berbagai daerah. Di bioskop ini akan diputar film-film yang diproduksi oleh Perum PFN dengan harga tiket sekitar Rp 15.000.

Dengan bioskop rakyat ini, masyarakat di daerah, pedalaman dan tidak mampu terlayani secara sama oleh negara untuk menonton film yang berkualitas. Saat ini layar bioskop di Indonesia mencapai 1.861 buah. Dari jumlah itu, sekitar 75 persennya ada di Jabodetabek. Sebanyak 25 persen lainnya tersebar di kota-kota propinsi. Hanya segelintir dari 500-an kota/kabupaten yang memiliki bioskop.

“Nah, itu yang kita layani, masyarakat di pedesaan itu,” kata Elprisdat. Hal itu sebagai wujud dari negara hadir untuk semua pihak, tanpa membeda-bedakan.

Vital Voices Festival

Perum PFN juga bersama PT Asuransi Jiwa Indonesia (Persero)  dan PT Pesonna Indonesia Jaya akan mengadakan Festival Perempuan Dalam Film, Seni dan Budaya atau Vital Voices Festival di Gedoeng Jasindo, Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta. Festival tersebut akan berlangsung 8-14 Desember 2019. Menurut Judith, Vital Voices Festival itu bertujuan untuk mengoptimalkan gedung cagar budaya yang selama ini tak termanfaatkan dengan baik.

“Kita akan rapikan dan buat studio rakyat, studio massif di situ. Selain juga ada co-working space untuk kalangan milenial yang mau memproduksi film,” katanya.

Direktur SDM dan Umum PT Asuransi Jasa Indonesia, Linggarsari Suharso, mengatakan pada Vita Voices Festival kali ini pihaknya akan lebih banyak mengisi kegiatan literasi dan edukasi keuangan. “Ada 15 klas bissnis di Jasindo. Kita bisa berbagai tentang berbagai macam hal itu untuk yang mau belajar,” kata Linggarsari.

Ia mengatakan, kesempatan ini adalah peluang bagi generasi milenial yang mau belajar tentang berbagai peluang usaha yang bisa dilakukan. Mulai dari pemanfaatan sampah (waste manajemen) hingga kerajinan tenun.

Hal serupa juga diungkapkan Direktur Utama PT Pesonna Indonesia Jaya,  Renny Soviahani. Selama Vita Voices Festival, pihaknya akan melakukan coffee cupping oleh The Gada Coffee & Gold. Menurutnya, kopi adalah salah satu komoditi yang peminatnya sangat tinggi saat ini.

Renny mengaku sangat senang dengan konsep Perum PFN dalam mengoptimalkan fungsi bangunan cagar budaya milik sejumlah BUMN. Pesonna Indonesia Jaya sendiri adalah anak usaha PT Pegadaian (Persero) yang bergerak di bisnis hospitality (hotel, restoran, akomodasi pariwisata). “Kalau orang nonton film kan pasti erat dengan cemilan, orang ngopi sebelum atau setelah nonton,” katanya.

The Gada Coffee & Gold saat ini sudah memiliki setidaknya 350 cabang di seluruh Indonesia. Namun, kebanyakan di luar Jakarta. “Kalau sudah ada gedung da nada kerja sama seperti ini, tentu bisa kurang biaya operasional. Harga juga bisa ditekan dan cocok dengan kelas bioskop rakyat. Tapi, kualitas tetap istimewa,” kata Renny. Cocok kan? (inno jemabut)