Nasib East Point Apartemen Terkatung-katung, Perumnas Harus Tanggung Jawab

Nasib East Point Apartemen Terkatung-katung, Perumnas Harus Tanggung Jawab

East Point Apartemen

SHNet, JAKARTA – Kekisruhan antara penghuni dan pengelola rumah susun milik dan apartemen di Jakarta masih marak terjadi. Para konsumen kerap kali tidak menemui kejelasan. Entah karena ulah pengembang dan pengelola yang tidak tuntas menjalankan kewajibannya, banyaknya pungutan yang tidak sesuai atau paling apes adalah bangunan tidak sesuai dengan promosi atau janji awal.

Kota metropolitan, seperti halnya Jakarta memang harus lebih banyak mengembangkan hunian vertikal. Bahkan untuk kawasan penyangga, seperti Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang juga demikian. Kota-kota lain, seperti Surabaya, Bandung, DI Yogyakarta, Medan, Makassar dan lain-lain juga sama. Rumah tapak bukan lagi pilihan. Selain karena keterbatasan lahan dan lebih mahal, juga karena jauh dengan tempat kerja.

Namun, saat bersamaan, pengelola hunian vertikal harus lebih professional. Banyaknya kisruh yang terjadi antara pengembang, pengelola dan konsumen hunian vertikal bisa jadi salah satu penyebab terbesar mengapa masyarakat masih banyak yang enggan menguhuni hunian vertikal. Itu misalnya yang terjadi dengan East Point Apartemen, Cakung, Jakarta Timur.

Beda Nasib

East Point Apartemen adalah salah satu bagian dari proyek 1.000 tower hunian yang digagas pemerintah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Apartemen ini adalah kerja sama operasi antara Perum Perumahan Nasional (Perumnas), PT Bank BTN dan swasta yang mulai dikerjakan tahun 2007. Namun, rupanya dikerjakan oleh pengembang nakal, sehingga proyek pembangunannya sempat terhenti beberapa kali.

“Dulu pengembangnya namanya Prima-1. Tapi, ditinggal begitu saja. Diambil sama kontraktornya, PT Tridaya Mandiri. Sekarang Tridaya ini yang jadi pengelola. Megap-megap juga,” kata seorang penghuni East Pont Apartemen kepada SHNet beberapa waktu lalu.

Penghuni itu menceritakan, pada awalnya East Point adalah rusunami biasa. Namun, kemudian ada peningkatan fasilitas menjadi apartemen. Di samping lokasinya terdapat Central Timur Residence yang dikelola oleh Bakrieland Development. Keduanya berada dalam satu lahan kawasan milik Perum Perumnas.  Namun, keduanya berbeda nasib.

Semula, Central Timur Residence dan East Point Apartemen memiliki pintu masuk yang sama. Namun, tersendatnya proyek pengerjaan menimbulkan Central Timur bereaksi. Akses menunju East Point Apartemen diblokir dan dipaksa membuat akses sendiri menuju jalan utama seukuran jalan gang.

Ricky, yang mewakili pengelola East Point Apartemen ketika ditemui mengungkapkan, akses jalan kecil itu hanya untuk sementara saja. “Kalau nanti sudah selesai semua pembangunannya, aksesnya tetap menyatu dengan Central Timur,” katanya.

Apartemen itu memiliki 16 lantai yang berisi 416 unit dengan dua type, yakni studio dan two bedroom. Masing-masing lantai terdapat 26 unit apartemen. Menurut Manager Marketing East Point, Iskandar, sebanyak 200 unit apartemen telah laku dijual dan 60 di antaranya telh dihuni. “Kalau yang lainnya mungkin mau investasi,” Iskandar.

Ia mengatakan, meski telah mulai dibangun tahun 2007, fakta bahwa proyek itu pernah mangkrak selama 10 tahun sangat mengganggu proses penjualan. Pada tahun 2010, ketika pembangunan berhenti, pemilik sempat mengajukan penundaan cicilan ke Bank BTN. Namun, hal itu tidak menyelesaikan masalah.

Tahun 2014, sebagian dari pemilik mendapat pemberitahuan untuk menandatangani penghapusan bunga dan denda dari Bank BTN. Namun, beberapa di antaranya tidak mengetahui kebijakan penghapusan bunga dan denda tersebut. Baru tahun 2018, apartemen itu bisa melakukan serah terima kunci. Namun, hingga saat ini konsumen belum menerima sertifikat layak fungsi dan IMB.

“Bayangkan yaa, dari tahun 2007 sampai sekarang. Tadinya mau cepat-cepat tempati, tapi tertunda sampai belasan tahun baru bisa,” kata Sisca, seorang peghuni lainnya. Ia berharap Perum Perumnas bertanggung jawab atas kekisruhan yang terjadi di East Point Apartemen itu. Menurutnya, karena lahan yang adalah milik Perum Permnas, mengapa tidak bisa mengatur akses masuk dengan baik, sehingga  East Point tidak diasingkan dari kompleks yang sama dengan Central Timur Residence, yang dikelola oleh Bakrieland? (ij)