Komunitas Plastik untuk Kebaikan : Industri Sampah Plastik Mampu Pekerjakan Jutaan Masyarakat...

Komunitas Plastik untuk Kebaikan : Industri Sampah Plastik Mampu Pekerjakan Jutaan Masyarakat Indonesia

SHNet, JAKARTA – Sampah plastik adalah sampah yang paling dominan ditemukan di destinasi wisata taman nasional manapun saat ini. Baik destinasi wisata di gunung maupun di laut, dan ia adalah sampah yang paling sulit terurai. Data Sustainable Waste Indonesia (SWI) menyebutkkan kurang dari 10% sampah plastik yang terdaur ulang dan sisanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Namun demikian, hal itu sudah bisa memberi pekerjaan kepada ratusan ribu masyarakat Indonesia dan mengamankan ratusan hektar lahan pertahun untuk jadi TPA.

Bisa dibayangkan berapa banyak masyarakat Indonesia yang bisa dihidupi dari daur ulang sampah plastik ini jika bisa dikelola lebih baik lagi. Begitu juga dengan TPA-TPA, tidak akan lebih banyak lagi bertumbuh.

Jiki dilihat dari kondisi saat ini, dari 380 TPA di Indonesia setidaknya 8.200 hektar yang sebagian akan atau sudah penuh. Ini menunjukkan pengelolaan sampah di Indonesia masih sangat buruk.

Perlu diketahui bahwa dalam mengelola sampah ini, yang seharusnya dikendalikan adalah sampahnya, bukan plastik yang menjadi wadahnya. Untuk itu diperlukan infrasruktur persampahan yang baik. Sebab, terjadi jika infrastrukturnya tidak siap. Sistem pengelolaan sampah/limbah (waste management system) harus siap. Rumah tangga juga harus diedukasi untuk memilah sampah yang benar, seperti yang ajan dilakukan sejumlah pecinta lingkungan pendiri komunitas plastik untuk kebaikan.

Komunitas Plastik untuk Kebaikan, bertujuan untuk membangun budaya memilah dan membuang sampah plastik pada tempatnya. Hal itu dilakukan karena komunitas ini menyadari bahwa plastik bukan untuk dihindari tetapi digunakan secara bijak. Sekitar 50 orang yang terdiri dari anggota dan volunteer Komunitas Sampah untuk Kebaikan hadir dalam acara Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Bundaran Hotel Indonesia Minggu (10/11).

Enni Saeni, Koordinator Komunitas Plastik untuk Kebaikan, mengatakan sembari menunggu pemerintah memiliki kebijakan yang solutif untuk mengatasi persoalan sampah plastik, Komunitas Plastik untuk Kebaikan akan membangun budaya memperlakukan sampah plastik dengan bijak. “Hal itu dilakukan melalui kesadaran untuk mengumpulkan sampah plastik dan menjualnya kepada kami. Sampah plastik itu akan kami tukarkan dengan sembako murah,” ujar Enni di acara Car Free day hari ini. Komunitas berhasil mengumpulkan 5 kantong sampah plastik dan menyerahkannya pada pemulung dan petugas kebersihan di DKI.

Eni mengatakan, ke depan akan ada mobil komunitas yang akan berkeliling Jakarta, untuk membeli sampah-sampah plastik dari pemulung dan warga untuk ditukar dengan sembako murah. “Jadi, sambil membersihkan lingkungan kita bersedekah,” ucapnya.

Langkah ini dilakukan dengan kesadaran bahwa plastik memiliki nilai ekonomi. Melalui kegiatan ini, diharapkan akan makin banyak orang yang akan mengumpulkan sampah plastiknya. “Saat ini yang baru bisa kami terima adalah sampah botol pet. Untuk sampah jenis lain seperti kantong plastik, kemasan sachet dan kemasan produk lainnya belum karena kami masih susah untuk menjualnya kembali. Tapi kami berharap ke depan sampah plastik jenis lain bisa dibangun demand-nya melalui tempat-tempat pembelian sampah plastik,” kata Eni.

Dari sisi ekonomi, plastik memiliki nilai ekonomi sirkular mulai dari produksi, konsumsi dan daur ulang. Ekonomi sirkular ini juga akan mengurangi ekstraksi sumber daya alam, menambah lapangan kerja, meningkatkan ekonomi langsung dan tak langsung, mengurangi sampah ke TPA, dan meningkatkan kualitas lingkungan.

Simulasi yang dibuat oleh WSI menunjukkan, kalau sebuah kota dengan penduduk 200.000 orang dan menghasilkan sampah 100 ton perhari, akan memberi nilai daur ulang Rp 3.000 per kilogram plastik. Lalu, Rp 500 untuk plastik nilai rendah, ditambah Rp1.000 perkilogram masing-masing untuk kertas dan logam.

Jadi, dengan ekonomi sirkular untuk sampah plastik, analisa SWI, dari 1,67 juta ton impor bahan baku plastik untuk industri plastik, dapat daur ulang yang akan menghentikan 40% sampah plastik berakhir di TPA. Juga memberi pekerjaan kepada lebih dari 400.000 orang. Ini juga akan mengamankan lebih dari 200 hektar lahan pertahun untuk jadi TPA.

Di sisi lain, perkembangan industri, produksi, perdagangan komoditas, dan konsumsi, juga terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan populasi. Data Kementerian Perindustrian 2019 menunjukkan, dalam 5 tahun konsumsi plastik naik dari 17-23 kg menjadi 25-49 kg perkapita pertahun. Kondisi itu menunjukkan bahwa komoditas plastik ini sangat berperan juga dalam meningkatkan perekonomian di Indonesia.

Selain mengumpulkan botol plastik, Komunitas Plastik untuk Kebaikan juga memberikan hasil pengumpulan selama acara kepada salah satu pemulung. (Rasno)