Gula Aren Desa Khaiti Tidak Gunakan Bahan Pengawet

Gula Aren Desa Khaiti Tidak Gunakan Bahan Pengawet

SHNet, Riau – Produksi gula aren di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Provinsi Riau tidak menggunakan bahan pengawet yang membahayakan seperti formalin, sehingga dipastikan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

Seorang perajin gula aren di Desa Khaiti, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rohul, Candra Daulay (28) mengatakan, pihaknya dalam memproduksi gula itu hanya menggunakan bahan tradisional dari batu kapur untuk bahan campurannya dengan tujuan untuk mempercepat pengeringan saat pencetakan.

“Kita hanya gunakan gamping, itupun tujuannya bukan untuk mengawetkan, tapi hanya untuk mempercepat pengeringan saat dicetak,” katanya.

Menurut dia, pembuatan gula merah dari nira aren tersebut tidak memerlukan bahan pengawet apapun sehingga hasil produksinya lebih aman untuk dikonsumsi.

Ia menjelaskan usaha ini sudah berlangsug sekitar 35 tahun yang lalu, saat itu orang tua saya yang mengerjakannya, namun sekarang dilanjutkan oleh anak-anaknya,” katanya kepada Antara.

Menurut dia sejumlah petani aren didaerahnya mulai menekuni usaha pembuatan gula aren itu, meskipun hasilnya tidak maksimal.

Dia mengatakan produksi gula aren setiap harinya mampu mencapai 10 kilogram (kg), kemudian dijual kepada pedagang di Pasar tradisional, Kabupaten Rohul melalui agen dengan harga Rp17.000 per kg.

Hal senada juga dikatakan pembuat gula aren, Azriadi Siregar (31), bahwa kegiatan membuat gula merah dari aren telah dilakukan sejak lama karena usaha itu merupakan usaha turun temurun warga setempat selain usaha lainnya seperti bertani maupun berkebun karet.

“Usaha membuat gula merah itu sangat membantu petani untuk meningkatkan pendapatannya sehingga kami terus menekuni usaha itu,” katanya.

Untuk mendapatkan gula aren itu, menurut dia harus memanjat dan menoreh sekitar delapan batang aren dari pagi dan sore hari.

“Pagi hari pohon aren itu kita toreh, kemudian sore diambil hasilnya, setelah itu kita toreh lagi tapi hasilnya besok paginya baru bisa diambil”, kata Azriadi.

Ia menyebutkan, perajin gula aren tradisional didaerahnya terdapat sekitar 25 orang, namun semua itu masih terkendala pada modal untuk pengolahan dan pengemasan.

Kelemahan pengolahan gula aren yang sifatnya masih tradisional, antara lain pada cara pengemasan yang hanya menggunakan daun pisang, sehingga gula tidak bertahan lama.

“Meskipun demikian, kami tetap tidak menggunakan bahan pengawet berbahaya seperti formalin, sebab setiap hari gula itu sudah laku terjual,” katanya. (maya)