Dua Desa Penghasil Topeng, Bentuk Kecintaan Kepada Budaya

Dua Desa Penghasil Topeng, Bentuk Kecintaan Kepada Budaya

SHNet, Jakarta – Kisah Dua Desa Penghasil Kerajinan Topeng. Dimana kerajinan topeng dihidupkan kembali sebagai bentuk kecintaan pada budaya lokal. Seiring dengan perkembangan ini, roda ekonomi desa pun kembali bergulir.

Wujud kecintaan pada budaya lokal bisa tercipta melalui berbagai media, salah satunya melalui kerajinan tangan termasuk seni kerajinan topeng. Di beberapa daerah, kerajinan topeng bukan hanya menjadi karya seni, tetapi juga dijadikan mata pencaharian warganya. Berikut dua desa yang dikenal sebagai sentra penghasil topeng.

Desa Ngandong, Wonogiri
Di masa lalu, mayoritas warga Desa Ngandong, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri bekerja sebagai perajin topeng. Namun, dalam perjalanannya jumlah perajin topeng terus menyusut hingga tinggal menyisakan dua keluarga yang menjadikan kerajinan topeng sebagai mata pencaharian utama.

Didorong untuk melestarikan budaya ini, maka regenerasi perajin topeng pun dilakukan. Tetua desa sepakat untuk mengembangkan wisata edukasi pembuatan topeng di desanya. Pelatihan membuat topeng pun dihelat untuk generasi muda.

Seiring menguatnya tekad warga untuk memantapkan diri menjadi sentra kerajinan topeng, roda ekonomi Desa Ngandong kembali menggeliat. Ketrampilan membuat topeng dengan ditularkan kepada generasi muda.

Salah satu keluarga yang konsisten menjadi perajin topeng adalah keluarga Suwardi. Suwardi yang juga merupakan dalang itu terkenal mahir membuat topeng seribu wajah. Keterampilan itu diturunkan kepada anggota keluarganya.

Dalam sehari, seorang perajin mampu memproduksi 3-5 topeng, tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya. Topeng-topeng tersebut dipasarkan ke berbagai daerah melalui pedagang di Yogyakarta dan Ponorogo.

Harga topeng yang masih mentah atau belum dicat dari tangan perajin berkisar Rp12.500 per unit, adapun harga topeng yang sudah jadi berkisar Rp50.000 per unit.

Desa Wisata Bobung, Yogyakarta
Di Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya di Kecamatan Patuk, terdapat sebuah desa yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai perajin topeng. Desa Wisata Bobung kini terkenal di seantero Nusantara sebagai desa penghasil topeng.

Apabila berkunjung ke sana, Sobat Pesona akan menyaksikan para muda-mudi dan orangtua sedang membuat topeng di rumah-rumah mereka. Berbagai alat kerajinan seperti kapak, pahat, dan cungkil menjadi teman setia bagi mereka. Sebuah pemandangan yang langka ditemukan di desa lain.

Salah satu keluarga perajin topeng bernama Sugiman. Menurut Sugiman, proses pembuatan topeng tidak terlalu rumit, pertama, bahan baku yang berasal dari batang pohon Albasia dipotong sesuai ukuran topeng yang akan dibuat.

Selanjutnya potongan tersebut dibagi menjadi dua untuk kemudian dipoles. Setelah dipoles, batang tersebut dipahat sesuai bentuk topeng yang diinginkan. Setelah topeng mulai terbentuk, topeng diamplas  hingga halus dan diberi ornamen batik agar tampak cantik dan menarik. (maya)