Desa Kismoyoso Penghasil Tauge Terbaik

Desa Kismoyoso Penghasil Tauge Terbaik

SHNet, Jakarta – Warga Solo yang gemar berbelanja ke pasar-pasar tradisional seperti Pasar Gede dan Pasar Legi pasti tidak asing dengan sayuran mungil berwarna putih satu ini. Ya, tauge merupakan sayuran favorit masyarakat karena dapat diolah dalam berbagai masakan. Tauge juga berkhasiat untuk kesuburan.

Siapa sangka, pemasok ratusan kuintal tauge di Pasar Gede adalah paguyuban pembuat tauge dari Desa Kismoyoso, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Warga Rt 01 Rw 04 setiap hari memproduksi tauge kedelai dan tauge kacang hijau untuk dipasok ke berbagai pasar tradisional di Solo.

Salah satu pembuat tauge di paguyuban tersebut adalah Dwi. Dwi dan para pembuat tauge lain mengolah setidaknya 30 hingga 35 kilogram kacang hijau dan kacang kedelai.

Dwi mencuci bersih seluruh bahan baku untuk kemudian direndam selama kurang lebih delapan jam. Proses perendaman tersebut juga bertujuan untuk memisahkan antara bahan baku yang baik dan yang tidak.

“Kacang yang tidak baik pasti akan muncul ke permukaan, Mbak,”, ungkap Sarinah, ibu Dwi yang setiap hari membantu anaknya memproduksi tauge.

Bahan baku yang tidak baik tersebut langsung diangkat dan dijemur di bawah terik matahari untuk dijual sebagai makanan ternak. Biji kecambah yang baik selanjutnya dipindah ke wadah baru yang telah dilubangi untuk disiram dengan air setiap tiga jam sekali selama 24 jam penuh.

Tauge baru dapat dipanen setelah tiga hari sejak perendaman. Dwi mengemas tauge yang siap dijual dalam kemasan satu kilogram.

Dwi mengakui proses produksi memang sangat rumit. Dwi tidak jarang mengalami kegagalan panen oleh karena berbagai faktor, seperti kualitas kacang yang ternyata sudah jelek dari pabriknya, atau tidak cocoknya air yang digunakan untuk menyiram.

Dwi dan pembuat tauge lainnya saling bekerjasama dalam menggunakan air siraman taoge, agar sama-sama menghasilkan produk.

Harga tauge yang dijual memiliki harga yang bervariatif, tergantung pada wilayah pemasarannya. Dwi memasang harga untuk tauge dari kacang hijau sebesar duapuluh ribu per kilogramnya, sedangkan untuk tauge dari kedelai dipatok dengan harga sepuluh hingga dua belas ribu rupiah setiap kilogram untuk harga ritel.

Dwi memasang harga lebih murah untuk penjual yang akan menjual kembali dagangannya. Biasanya Dwi menjual delapan ribu hingga Sembilan ribu rupiah setiap kilogram untuk tauge kacang hijau dan kedelai.

Kendala lain yang sering dihadapi oleh Dwi dan pembuat tauge lainnya adalah banyaknya saingan di pasar induk sehingga tidak jarang mereka saling menjatuhkan harga tauge.

Para produsen tauge bisa bernafas lega karena setiap bulan Ramadan dan lebaran.Tauge menjadi primadona yang senantiasa dicari konsumen untuk diolah berbagai kudapan lebaran. (maya)