“Cath Lab” Bisa Mengurangi Angka Kematian Pasien Serangan Jantung

“Cath Lab” Bisa Mengurangi Angka Kematian Pasien Serangan Jantung

Para pembicara dalam Diskusi mengenai pentingnya teknologi kardiovaskular , di Hotel Shangrila Jakarta, Kamis (28/11). (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Jakarta- Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi penyakit penyebab kematian,

Kardiolog Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dr Siska Suridanda Danny mengatakan, penyakit jantung koroner yang paling banyak diderita akibat dipengaruhi gaya hidup (lifestyle), selain diabetes dan gangguan kadar kolesterol.

“Merokok salah satu penyebabnya. Selain itu pola makan yag tinggi garam,lemak dan kurang olahraga merupakan penyebab tejadinya jantung koroner,” ujarnya dalam Diskusi Mendalam mengenai Pentingnya Teknologi Kardiovaskular, di Jakarta, Kamis (28/11).

Menurutnya, jumlah kasus penyakit jantung yang terus meningkat di Indoneisa dapat dikaitkan dengan peningkatan faktor risiko vaskular yang sebenarnya dapat dicegah, misalnya seperti perubahan kebiasaan makan, peningkatan obesitas dan konsumsi tembakau.

Dokter, lanjut Siska, semakin membutuhkan teknologi terbaru untuk mengatasi kasus penyakit jantung yang kompleks dan meningkatkan hasil klinis yang lebih baik.

Salah satu teknologi yang dibutuhkan oleh dokter untuk menangani kasus kompleks adalah cath lab yang dapat memfasilitasi tindakan katerisasi jantung hingga revaskularisasi.

Kateterisasi jantung adalah prosedur medis yang dilakukan oleh ahli jantung untuk mengevaluasi fungsi jantung dan mendiagnosis kondisi kardiovaskular. Selama kateterisasi jantung, selang sempit panjang atau kateter dimasukkan ke dalam pembuluh darah pada lipat paha, leher atau lengan.

Setelah kateter terpasang di jantung pasien, dokter dapat melakukan tes diagnostik, melihat kondisi pasien secara real-time dan merencanakan jalannya perawatan dengan lebih cepat

“Khusus untuk kasus serangan jantung akut, tindakan revaskularisasi memberikan hasil paling baik pada pasien yang datang ke rumah sakit dalam waktu kurang dari 12 jam sejak awal terjadi serangan,” ujarnya.

Teknologi cath lab dapat membantu dokter mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mendiagnosis, dan memungkinkan dokter untuk memberikan pasien sejumlah pilihan perawatan dengan segera untuk menangani kasus yang kompleks dan mengancam jiwa

Siska mengatakan,”Berdasarkan data Pusat Jantung Nasional harapan Kita Jakarta, pasien serangan jantung akut yang menjalani tindakan revaskularisasi memiliki potensi pemulihan yang jauh lebih baik. Pengamatan di RS harapan Kita selama 2018-2019 menunjukan angka kematian pasien serangan jantung akut yang menjalani revaskularisasi adalah 7,4% dibandingkan 15,3% pada pasien yang tidak menjalani revaskularisasi, Sebagian besar tindakan yang dikerjakan adalah tidakan PCI yakni pemasangan cincin atau stent di Cath lab. Ini berarti tindakan revakularisasi yang dikerjakan dengan menggunakan teknologi Cath Lab dapat mengurangi angka kematian akibat serangan jantung akut hingga setengahnya.”

Berdasarkan data Perhimpunan Intervensi Kardiovaskular Indonesia (PIKI), saat ini terdapat 250 cath lab di Indonesia, dan 40% dari jumlah tersebut memanfaatkan sistem GE Healthcare.

Untuk memberikan pelanggan akses teknologi pelengkap melalui perusahaan perangkap medis lainnya, seperti alat pencitraan medis ultrasonografi intra-vaskular dan aplikasi pasca kardiovaskular, GE Healthcare menjalin kemitraan dengan penyedia tekologi pelengkap dan solusi aplikasi dalam rangka menghadirkan solusi cath lab yang holistik.

Coutry Director GE Healthcare Indonesia Putty Chandra mengatakan, “GE Healthcare bangga telah berkontribusi dalam meningkatkan perawatan kardiovaskular di Indonesia. Sebagai penyedia cath lab untuk layanan kesehatan publik dan swasta, kami menyadari bahwa teknologi saja tidak cukup. Kami terus bermitra dengan pelanggan kami untuk melatih para pengguna sistem cath lab, dan menawarkan layanan bernilai tambah bersama dengan mitra kami untuk memastikan dokter mampu menangani kasus-kasus yang rumit dan kompleks dengan percaya diri,” GE Cath lab sendiri sudah ada di 108 rumah sakit di Indonesia. (Stevani Elisabeth)