Bertemu Sapi Putih di Desa Wisata Taro

Bertemu Sapi Putih di Desa Wisata Taro

Sapi putih, hewan yang disakralkan oleh masyarakat Desa Taro, Bali. (Dok.www.kintamani.id)

SHNet, Jakarta– Sapi putih, hewan ini tergolong langka karena warnanya yang berbeda dengan warna sapi pada umumnya. Sapi putih ini sebenanya merupakan sapi albino.

Bagi masyarakat Desa Taro, Bali, sapi putih ini dianggap sakral. Umumnya hewan ini menjadi sarana pelengkap ketika dilaksanakan upacara keagamaan di desa wisata tersebut.

Para wisatawan yang berkunjung ke Desa Taro juga dilarang untuk menyakiti sapi putih dan tidak boleh berkata kasar.

Desa Wisata Taro ini merupakan desa tua di Bali yang kaya akan kisah dan peninggalan budaya masa lampau. Keberadaan desa ini berkaitan erat dengan lawatan seorang yang sakti di masa lalu dari Jawa Timur ke Bali sekitar abad ke 8.

Letaknya 6 km utara Pujung, memiliki pesona alam yang indah karena teras-teras sawah hijau dan udaranya yang sejuk. Selain persawahan ada pula areal perkebunan yang ditanami buah-buahan serta sayuran. Dan ada hutan adat yang memiliki jalur tracking yang cukup menantang.

Desa ini secara geografis menjadi bagian dari kawasan Munduk Gunung Lebah. Kawasan ini dikenal sebagai dataran tinggi yang membujur dari utara ke selatan dan terdapat 2 aliran sungai yang mengapitnya. Dua sungai tersebut adalah sungai Oos Ulu Luh di sebelah Barat dan sungai Oos Ulu Muami di sebelah timur.

Desa Wisata Taro ini memiliki alam yang hijau dan asri. Udara yang sejuk serta pepohonan membuat suasana menjadi rindang. Serta rumah penduduk dengan ciri khas rumah tradisional Bali. Selain menikmati suasana alam, para pengunjung juga dapat belajar banyak hal dari desa ini.

Menunggag gajah, salah satu kegiatan wisata di Desa Taro, Bali. (Dok.triptus.com)

Tidak hanya bertemu dengan sapi putih dan menikmati pesona alam di sana, wisatawan juga bisa melakukan tracking dengan menunggang gajah. Bahkan menunggang gajah juga merupakan kegiatan yang menarik dan tidak boleh dilewatkan selama kita berada di Desa Taro.

Awal pekan ini, Ditjen Kemendesa RI akhirnya mengumumkan pemenang lomba Desa Wisata Nusantara Tahun 2019. Salah satunya adalah Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Bali yang sebelumnya berada di posisi 10 besar nasional, akhirnya meraih posisi empat nasional.

Dikutip dari www.kintamani.id, Ketua Pokdarwis Desa Taro Wayan Wardika mengaku sangat bersyukur dengan capaian tersebut. “Walaupun belum masuk tiga besar nasional, kami menduduki empat besar dari 158 desa di Indonesia. Kami sangat bangga karena bisa mewakili Bali di tingkat nasional,” ungkapnya, Kamis (28/11).

Lomba Desa Wisata Nusantara tahun ini diselenggarakan oleh Kemendes untuk mengetahui serapan Alokasi Dana Desa yang digunakan untuk menunjang pengembangan desa wisata. Hasil pengembangan tersebut diukur melalui peningkatan PAD desa yang bersumber dari Bumdes. “Karena perkembangan pariwisata di Desa Taro pada umumnya sudah ada, dan berjalan sebelum dana desa digelontorkan,” imbuhnya.

Meski demikian, ia menjelaskan, Pokdarwis Desa Taro dan segenap masyarakat Desa Taro sangat bersyukur bisa mengikuti lomba desa dan meraih posisi harapan. Bahkan hal itu merupakan kebanggaan karena menjadi momentum untuk mensinergikan usaha-usaha wisata yang ada di Desa Taro untuk berperan lebih aktif guna meningkatkan PAD desa.

Ia juga berharap Pemdes Taro bisa meningkatkan alokasi dana desa untuk pengembangan SDM pariwisata di Desa Taro. Kemudian dana tersebut juga digunakan untuk menggali potensi-potensi yang baru di bidang pariwisata. Salah satunya adalah wisata alam, seperti tracking, wisata hutan Desa Taro dan penginapan. (Stevani Elisabeth)