Berkat Pisang Nipah, Perekonomian Warga Desa Pungkur Menjadi Maju

Berkat Pisang Nipah, Perekonomian Warga Desa Pungkur Menjadi Maju

SHNet, PONTIANAK – Desa Punggur Besar Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, dikenal sebagai desa penghasil pisang nipah atau tepatnya pisang kepok. Namun desa yang sarat akan sumber alam ini juga menghasilkan buah melon yang baik.

Kabid UMKM BI Pontianak Djoko Junuarto mengatakan, Desa Punggur Besar merupakan desa yang sangat strategis daerah yang tidak jauh dari Kota Pontianak.

“Selain listrik dari beberapa daerah yang kami survey, premium merupakan barang langka yang sangat mahal dan menjadi motivasi kami untuk membantu para petani yang sangat memerlukan kedua hal tersebut agar memudahkan masyarakat melakukan aktifitas perekoniman di daerah ini,” ungkap Djoko saat melakukan pertemuan di Kantor Kepala Desa Punggur.

Menurut dia, dalam satu hari dapat memproduksi 60 bungkus pisang Nipah, dengan potensi laba dengan Rp3 juta didapatkan oleh para petani pisang Nipah, yang dianggap dapat membantu para usaha kecil dan menengah dalam memajukan roda perekonomian daerah Dusun Punggur Besar ini.

“Keuntungan laba Bruto senilah Rp3 juta kalau dijual per onsnya Rp5 ribu, sementara kalau dijual di Kota, peronsnya bisa capai Rp6 ribu hingga Rp7 ribu,” tuturnya.

Selain pisang Nipah, Dusun Punggur besar juga memiliki potensi untuk perkembangan buah melon, semangka dan lainnya.

Kasi Kantor Desa Punggur Besar, Anwar mengaku saat ini warga masyarakat Desa Punggur Besar kepada kemajuan terutama pembinaan atas memperoduksi hasil pertanian yang diolah oleh masyarakat setempat.

“Masyarakat Desa Punggur Besar semakin lama semakin memahami terhadap hasil pertanian,” kata Anwar.

Kepala Dusun IV Kasih, frans Karadi mengaku banyak hal positif yang diberikan BI terhadap masyarakat Dusun Punggur atas usaha pertanian agar usaha kecil menengah mengalami kemajuan yang signifikan.

“Kami memiliki berbagai macam potensi yang dimiliki terutama atas SDA sehingga memerlukan pembinaan atas hasil, pengelolaan serta pemasaran hasil pertanian,” kata Frans.

Meski demikian, diakuinya, para petani dalam mengelola hasil pertanian masih memerlukan pengawas pertanian dilapangan yang dirasa diperlukan bagi pembinaan para petani agar memahami kondisi di lapangan agar menciptakan hasil yang lebih menguntungkan dari sebelumnya.

“Selain pembinaan untuk petani, kendala yang kami rasakan adalah pemasaran yang belum maksimal kami lakukan,” jelasnya.

Atas kekurangan dan kendala dari masyarakat sendiri, ditambahkannya Kepala Dusun 1 Karya Bhakti, Iyus Hasan bahwa untuk daerah Dusun 1 Karya Bhakti, rendahnya kawasan yang tergenang akan air, menyusahkan petani pisang nipah menghasilkan produksi Pisang yang baik.

“Kami terkendala akan daerah rendah yang sejauh ini terdapat endapan air yang banyak sehingga berpengaruh akan kualitas dari pisang nipah sendiri,” urai Iyus.

Para petani juga memperlihatkan contoh hasil pisang olahan yang sudah dalam bentuk kemasan per-onsnya dijual Rp5.000 dengan olahan yang sudah dapat dinikmati dengan varian rasa seperti pisang rasa manis, rasa keju dan beberapa rasa lainnya. (maya)