Asal Kota Cepu Yang Harus di Ketahui

Asal Kota Cepu Yang Harus di Ketahui

SHNet, Blora – Tahukah kamu bahwa salah satu kecamatan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bojonegoro di Jawa Timur dengan sungai Bengawan Solo sebagai pemisahnya. Cepu lebih dikenal sebagai salah satu penghasil minyak di Indonesia (Blok Cepu), juga sebagai wilayah Blora penghasil kayu Jati. Asal muasal nama kota Cepu sendiri tidak banyak diketahui.

Begitu juga kapan tepatnya kota ini didirikan. Keterangan asal muasal nama kota Cepu lebih banyak berdasarkan legenda rakyat yaitu berupa tradisi lisan. Ada beberapa cerita yang saya temui berdasar sumber yang dapat, mungkin masih ada cerita lainnya.

Nama Cepu sebelum ada Kadipaten Jipang Panolan, yaitu PLUNTURAN
Nama Plunturan konon diceritakan antara stasiun cepu kota/ngareng dan pertigaan Semangat dulu ada seorang laki-laki tua yang mata pencahariannya membuat tali/dadung, yang cara membuat nyadiplunturi (bahasa Jawa) yaitu membuat tali dengan menggulungnya di bagian kaki.

Akhirnya orang ini meninggal di pertigaan semangat dan orang menjulukinya Mbah Pluntur. Makam Mbah pluntur ini di percaya masyarakat sekitar ada di desa Menggung berdampingan dengan mbah Singoyudo. Nama Plunturan ini di tulis oleh Prof. Suripan dalam bukunya Tradisi dari Blora
Versi 2. Nama Cepu pada masa Kadipaten Jipang Panolan

Pada masa ini berhubungan dengan kemelut di Kerajaan Demak Bintoro sepeninggal SultanTrenggono yang gugur setelah berusaha menaklukan Pasuruan pada tahun 1546. Perebutan tatah antara anak Pangeran Sekar yaitu Haryo penangsang yang merasa berhak atas tahta Kerajaan Demak. Yang dilakukannya dengan membunuh Pangeran Prawoto anak Sultan Trenggono sebagai balas dendam akan dibunuhnya pangeran Sekar Sedo Lepen.

Arya Penangsang naik tahta sekitar tahun 1546-1568 sebagai Sultan yang ke – 4, kemudian Haryo Penangsang memindahkan pusat kerajaan Demak ke Kadipaten Jipang Panolan ( Cepu ). Pada masa inilah nama Cepu muncul yaitu peristiwa di seretnya Raden Romo oleh Pengeran Benowo dengan mengunakan Kuda, yang talinya terbuat dari bambu yang akhirnya di tolong oleh kakaknya yaitu Raden Ronggo.

Kejadian ini berakibat kaki atau paha/pupu ( bhs jawa ) dari Raden Romo penuh tertancap serpihan pecahan bambu, kemudian di berilah nama Cepu dari asal kata bahasa Jawa Mancep Neng Pupu.
Versi 3

Konon pernah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Adipati Cepu kepada Raden Brawijaya dari Majapahit. Penyerangan ini dilakukan setelah runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak, ini artinya sekitar abad ke-15 sampai dengan abad ke-16. Dalam penyerangan ini, Adipati Cepu berhasil memaksa Raden Brawijaya untuk melarikan diri ke Gunung Lawu.

Karena itulah ada kepercayaan masyarakat yang menyebutkan bahwa Raden Brawijaya mengucapkan kutukan , keturunan adipati Cepu “diharamkan” untuk mendaki ke Gunung Lawu. kalaupun ada yang nekat mendaki, maka ia tidak akan sampai puncak atau terkena sial.
Versi 4

Cerita rakyat yang satu ini, melegenda, mengisahkan asal-usul nama Cepu bermula dari peristiwa peperangan antara dua Adipati Tedjo Bendoro (Adipati Tuban) dengan Adipati Djati Koesoema (Adipati Bojonegoro). Tuban yang jaman merupakan pelabuhan dan salah satu kekuatan legenda pada masa Majapahit, tentu memiliki kekuatan Militer yang lebih kuat disbanding Bojonegoro yang posisinya agak di pedalaman.

Alkisah Bojonegoro kalah dalam perang ini, dan sudah menjadi adat terikat tempo dulu pihak yang kalah harus menyerahkan semua kekayaannya, ini sangat normal di jaman modern pun pihak yang kalah harus mengganti kerugian perang. Semua putri harus diserahkan termasuk putri tercantik, Retno Sari.

Tetapi, Retno Sari keberatan, dia melanggar janji dan kesapakatan adat, ia melarikan diri. Dari kisah pelarian putri rupawan ini, lahir nama-nama punden, dukuh, desa dan lokasi seperti Tuk Buntung dan lainnya. Dalam pelarian ini Sang Adipati Tuban terpaksa melepas senjata mirip panah kearah sang putri, pusakan andalannya itu tepat menancap (nancep) di paha (pupu) sang putri. Maka timbullah kata Cepu.,
Versi lain

Dan beberapa legenda yang lain seperti perebutan Putri Dumilah dari Madiun serta pertarungan antara Jipang Panolan dan Pajang. Juga koonon nama Cepu berasal dari kata CEPUK(bahasa jawa) yaitu tempat menyimpan uang atau barang kecil.

Sepertinya memang tidak atau belum ada literatur sejarah yang menyinggung tentang keberadaan kota ini, kecuali setelah masuknya penjajahan Belanda di Nusantara, yaitu dengan keberadaan sumur minyak pertama di negeri ini.

Pada masa kolonial Belanda, Cepu merupakan kota penting, karena kandungan minyak dan hutan jati . Di Cepu dapat ditemukan banyak bangunan peninggalan Belanda yang masih ada hingga sekarang. Antara lain : Rumah Pertemuan Sasono SOS, Suko Loji Klunthung dan Pemakaman Belanda terletak di Desa Wonorejo Kecamatan Cepu.

Nama Cepu semakin dikenal dengan eksplorasi Blok Cepu. Blok ini mencakup wilayah Cepu dan Bojonegoro dengan kandungan minyak diperkirakan akan mencapai jutaan barel. Ada dua operator besar yang terlibat dalam eksplorasi minyak, yakni Exxon Mobile dan Pertamina. Pihak lain yang terlibat adalah Pemerintah Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Blora, dan Pemerintah Bojonegoro.

Cepu juga memiliki potensi lainnya. Yakni, aset pariwisata yang dapat dipasarkan, baik dalam bentuk warisan dan keindahan alam. Selain wisata budaya, Cepu juga memiliki potensi wisata alam yang sangat menarik, unik, dan menawan. Berbagai tempat pariwisata menarik banyak wisatawan domestik dan luar negeri. Artinya, sumur minyak tua dan gas yang tersebar di wilayah sekitar Cepu, Nglobo, Ledok, dan Wonocolo.

Jumlah sumur tua yang telah mencapai 648 buah dengan 112 di antaranya masih aktif memproduksi minyak. Sumur minyak di Cepu ini pertama kali ditemukan pada tahun 1890 oleh Bataafsche Petroleum Maatchappij (BPM), sebuah perusahaan minyak dari Belanda, yang kemudian berganti nama menjadi Shell. Sebagian besar sumur-sumur tua secara tradisional ditambang oleh masyarakat setempat.

Mereka menggunakan tali dan ember ditarik oleh sekitar 15 orang atau menggunakan sapi untuk menderek.
Sumur tua umumnya terletak di daerah perbukitan dan di tengah-tengah hutan jati. Dengan demikian, upaya ekstra harus mampu untuk melihatnya. Agak seperti sedikit petualangannya. (maya)