Aristides Katoppo yang Saya Kenal

Aristides Katoppo yang Saya Kenal

David T. Hill
Profesor Emeritus Murdoch University, David T. Hill. (foto: muniroh)

Oleh : David T. Hill

Saya pertama kali bertemu dengan Pak Aristides Katoppo pada tahun 1981 ketika saya sedang mengadakan penelitian doktoral saya di Indonesia mengenai dunia pers, politik, dan peranan Pak Mochtar Lubis. Pada waktu itu Pak Tides dan Pak Mochtar merupakan tetangga, rumahnya berdampingan di Jl. Bonang, Menteng. Saya belum lama di Jakarta, barangkali pada wawancara kedua atau ketiga dengan Bung Mochtar, kami duduk berdua pada kamar duduk rumahnya yang adem dan bersuasana bercampur antara peninggalan kolonial, taman bunga anggrek, dan ruang pameran lukisan, ketika ada sepasang suami istri yang mampir dari sebelah.

Saya pernah membaca tentang nama Aristides Katoppo dengan koran Sinar Harapan, tetapi sebagai suatu perkenalan beberapa jam duduk menyaksikan percakapan antara kedua raksasa jurnalisme Indonesia itu bersama istrinya telah banyak memberi ilham dan insight pada saya mengenai perjuangan media di Indonesia secara historis dan secara kontemporer.

Dua-duanya menderita terputusnya hubungan mereka dengan dunia jurnalistik sehari-hari yang mereka cintai oleh karena mereka bersikap ksatria kepada yang berkuasa, tidak bersedia memudarkan ethos jurnalistik yang mereka anut cuma buat menjamin berlangsungnya kehidupan koran yang mereka nakhodai.

Bagi seorang mahasiswa doktoral muda dari Australia, menyaksikan diskusi serta penukar-fikiran antara mereka merupakan suatu pendidikan tersendiri. Tak lupa pula saya tambahkan bahwa saya menyadari betapa penting dukungan istri masing-masing pada daya tahan mereka dalam melawan yang berkuasa.

Tidak hanya banyak aspek dari sejarah jurnalisme di Indonesia yang saya pelajari dari mereka. Saya juga menyadari betapa mahir intelektual Indonesia generasi itu dalam penguasaan bahasa. Ketika saya coba hitung berapa bahasa yang dipakai pada percakapan empat orang sore itu di Jalan Bonang saya kira jumlahnya paling sedikit enam bahasa. Bagi saya, yang cuma bisa berbahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia sepatah-patah, saya betul-betul menyadari betapa kosmopolitan dan berbudaya kelompok tetangga itu.

Aristides Katoppo

Setelah pertemuan yang pertama itu, saya agak sering ketemu Pak Tides selama dua tahun saya di Jakarta.

Saya sudah pernah dengar tentang reputasi serta tindakan AK, khususnya keputusan yang sangat berani pada Juli tahun 1970 untuk membongkar laporan Komisi 4 yang mengadakan investigasi korupsi pemerintah. Sinar Harapan memuat isi laporan Komisi 4 sebelum dibacakan Presiden Suharto, karena takut laporan tersebut tidak akan ditindak-lanjuti oleh pemerintah kalau tidak ada peliputan media untuk menyorotinya.

Pemerintah malah menganggap Sinar Harapan telah melanggar kode etik pers karena mendahului Presiden, tetapi pada umumnya wartawan seprofesi salut karena scoop yang dimuat dalam public interest.

Selama karirnya, setahu saya, AK berkali-kali dipanggil pemerintah dan kena berbagai macam sanksi karena garis editorialnya. Sampai akhirnya dilarang bertindak sebagai pemimpin redaksi koran justru oleh karena dia memenuhi tugas seorang wartawan untuk mengumumkan kabar buat kepentingan umum, tanpa memandang risikonya.

Selama saya tinggal di Jakarta awal 80an AK tidak boleh berjabat sebagai editor koran. Sinar Harapan yang dicintainya itu dibredel dan diganti oleh Suara Pembaruan, tanpa Tides. Matinya (sementara) SH itu merupakan harga yang dibayar oleh AK serta mereka yang sependapatnya dalam staff SH, sebagai ongkos prinsip jurnalistik yang mereka anut: jurnalisme harus melayani masyarakatnya, bukan pemerintahnya, ataupun kepentingan-kepentingan sektoral ataupun kepentingan pengusaha yang memilikinya.

Di satu pihak prinsip tersebut sangat radikal pada era kapitalisme, dimana usaha media merupakan permainan pemiliknya, alat pengusahanya, atau alat partai politik buat memanipulasi dukungan elektorai.

Saya masih ingat, suatu ketika, di kantornya di perusahaan penerbitan buku Pustaka Sinar Harapan yang dikepalainya setelah dilarang memimpin SH, saya bertanya apakah dia menyesal situasinya. Setelah diam sejenak, AK menjawab bahwa menerbitkan buku juga media sebetulnya dan misi mencerdaskan rakyat juga dapat tercapai melalui buku selain melalui koran.

Saya dulu suka mampir ke kantor SH buat minta analisa AK tentang segala macam aspek politik dan media di Indonesia. Saya ingat bahasa Inggrisnya yang lancar dan cenderung poetis, dan perspektifnya yang tajam dan bijaksana. Walaupun orangnya tentu sangat sibuk, saya tidak pernah merasa tidak disambut dengan hangat, seakan-akan dia ingin ngobrol, walaupun dengan mahasiswa asing sekalipun.

Rasanya dari Pak Tides saya bisa dapat analisa yang matang dan mendalam, dari seorang pengamat dan penggerak yang berkepala dingin walaupun dikelilingi oleh situasi yang membakar semangat dan emosi. Rasanya analisanya dimotori oleh suatu ‘passion for the truth’, serta suatu intuisi politik yang subtil.

Bagi saya, dia seorang yang komplex. Kesan saya, dia tidak pernah kehilangan semangatnya. Dari tahun ke tahun dia kelihatan tetap sangat informed dan tetap suka membantu dalam menjawab semua pertanyaan saya.

Ketika dia mengajak saya ke kantor Sinar Harapan yang diluncurkan kembali setelah Reformasi untuk bertukar-pikiran dengan para wartawannya, saya selalu merasa pulang dengan pengertian yang lebih nyata mengenai dunia media di Indonesia

Dia seorang yang modest/tidak suka memuji-muji dirinya sendiri, atau mempromosikan dirinya. Namun, keberadaannya di tempat yang sentral pada kejadian-kejadian politik Indonesia sangat kelihatan.

Misalnya, pertemuan saya yang terakhir dengan AK adalah pada Festival Pengarang dan Pembaca di Ubud, tahun 2014. Saya hadir hanya sehari saja, dan sibuk mengikuti sesi yang sebanyak mungkin ketika saya melihat Pak Tides duduk dengan tenang di sebuah warung di luar salah satu sesi. Dia menyapa saya, dan kami mulai ngobrol. Seperti biasanya dia bertanya tentang penelitian saya. Saya menjawab bahwa saya mau menulis mengenai orang Indonesia yang berada di luar negeri pada tahun 1965 ketika terjadi coup militer di Indonesia. Dan oleh sebab itu terhalang pulang, dalam keadaan eksil sampai sekarang.

Pak Tides menganggukkan kepalanya. “David tahu, kan, ada sebuah rombongan resmi dari Indonesia yang hadir pada Hari Kebangsaan RRC 1 Oktober 1965 di Beijing yang akhirnya harus memilih atau pulang menghadapi masa depan yang sangat kurang jelas, atau tetap di RRC dalam keadaan eksil”, katanya.

“Bung Tides tahu ya, tentang delegasi itu?,” saya jawab. Dia senyum pada kedunguan saya dan dengan sederhana menjawab, “Saya salah satu anggotanya!”

Lantas, Bung Tides membeberkan pengalamannya dalam delegasi PWI di Lapangan Tienanmen tanggal 1 Oktober 1965. Bagaimana dia memonitor siaran berita radio guna mencari informasi mengenai apa sebetulnya yang terjadi di Jakarta pada pagi hari yang naas itu.

Antara lain, dia bercerita bagaimana dia menyampaikan kepada kepala Delegasi Parlemen Indonesia, Chaerul Saleh, di kamar hotelnya isi pengumuman yang disiarkan oleh Jenderal Suharto.

Ternyata Pak Tides salah satu dari hanya dua wartawan dari sekitar 25 jurnalis yang memilih untuk pulang. Yang lainnya, menjadi eksil politik.

Komunikasi saya yang terakhir dengan Pak Tides hanya beberapa bulan sebelum dia meninggal. Saya sedang menyusun sebuah artikel jurnal mengenai para eksil Indonesia di Tiongkok dan ada hal-hal yang ingin saya cek dengan dia. Seperti biasanya, dia membalas dengan memberi koreksi dan dorongan, yang sangat berarti bagi seorang peneliti asing.

Tantangan depan dan warisannya

Saya telah mendengar dari orang lain bahwa pada tahun2 terakhir ini Pak Tides menjadi makin pesimis serta prihatin akan keadaan media dan jurnalisme di Indonesia: maraknya berita palsu, ‘fake news’, dalam media sosial, serta makin banyaknya manipulasi media dan peliputan berita oleh kepentingan oligarki, dan partai politik, yang mengakibatkan lebih sulitnya masyarakat mengakses informasi yang dapat diandalkan, yang akurasi dan kebenarannya dapat dijamin.

Tidak hanya Pak Tides yang cenderung ragu akan kwalitet jurnalisme zaman sekarang, tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia, saya kira. Etika pers tampaknya tertantang dimana-mana. Tiada pembenaran dalam periklanan politik, dan beda antara periklanan dan pemberitaan semakin tipis. Pantas kalau kita meragukan masa depan bagi “public interest reporting”.

Perjuangan wartawan bagi kepentingan umum — suatu pergulatan yang begitu keras dilakukan oleh Pak Tides serta sesepuh-sesepuh seangkatannya seperti Mochtar Lubis, tetap perlu diperjuangkan. Melawan pembohongan dan pemiringan berita, dimanapun di dunia digital kita ini. Di Indonesia, di Australia, di Amerika Serikat.

Tetapi dalam perjuangan itu, Pak Tides telah meninggalkan sebuah legacy, sebuah warisan, yang akan diteruskan. Barangkali tantangan yang dihadapi oleh wartawan dan editor zaman digital ini lebih ruwet dan komplex dibandingkan dengan zaman media cetak tahun 1970an, misalnya, ketika wartawan cetaklah yang merupakan pejuang pada garis paling depan.

Sekarang inilah dunia multimedia. Pentingnya koran cetak, atau koran dalam bentuk apapun makin berkurang, dibandingkan dengan berbagai bentuk sosmed yang rasanya muncul dalam format yang baru setiap tahun.

Seperti media, Negara Bangsa pun menjadi makluk yang baru dan tetap diperbarui setiap saat. Masyarakat Indonesia sekarang lain daripada negara bangsa waktu Pak Tides mulai karir jurnalistiknya.

Para jurnalis dan pekerja media harus labil dan fleksibel kalau ingin terus survive. Kalau pasar buat media cetak semakin kecil, dan peminat membeli koran bahwa dalam bentuk online sekalipun ikut menurun, apa strategi yang dapat dilaksanakan guna mempertahankan media informasi yang independen? Apakah dari crowdfunding, didanai oleh donor non-profit (mirip Propublica di AS dan Correctiv di Jerman). Dengan menggabungkan sumber daya dari berbagai format media dalam melakukan suatu investigasi. Misalnya, koran online, majalah mingguan bersama TV atau radio bersatu dalam suatu investigasi secara kolaboratif buat menghemat dana liputan investigasi yg mahal.

Tetapi bentuk apapun media kita pada masa depan, para pegiatnya – mereka yang berpendidikan sebagai wartawan terlatih, citizen journalists, atau bloggers sekalipun – ada teladannya yang dapat mereka pandang. Ada sejumlah orang, termasuk Pak Aristides Katoppo yang menjadi tolak ukur etika dan moralitas bagi industri media, industri penyebaran informasi kalau kita pakai definisi yang paling luas.

Laki-laki dan perempuan yang bersikap Ksatria berani dalam melayani masyarakat dengan berita dan informasi yang dapat diandalkan, yang disusun tanpa pandang pada kepentingan yang berkuasa. Orang-orang seperti Pak Tides-lah, yang baginya kebenaran akan selalu menang di atas kebohongan, pelayanan kepentingan umum selalu lebih penting daripada penundukan pada kekuatan kapital, ataupun kepentingan sektoral politik. Semoga prinsip-prinsip yang dianut pada kehidupannya malah menjadi lebih nyata lagi bagi generasi yang menyusul.

Vale, Aristides Katoppo. Istirahat dengan damai.

Penulis, David T. Hill, Emeritus Professor, Murdoch University.

*) Materi ini disampaikan dalam acara “Mengenang Aristides Katoppo” di Jakarta, 8 November 2019