Agnes Mo, I feel you

Agnes Mo, I feel you

Henny Dwi Vidiarina (ist)

Oleh : Henny Dwi Vidiarina

Aku memahami pernyataan Agnes Mo! Aku pernah mengalami dilema itu, dan pernah mengatakan hal-hal serupa dia (Aku mungkin berdarah campuran Cina, Persia, dan Jawa, dan anak-anakku juga mungkin sedikit terbawa Caucasian. Mungkin itu yang membuat kami memiliki proses berpikir dan cara hidup yang sedikit berbeda dari kebanyakan, dan sering merasa sebagai outsider terhadap kelompok-kelompok manapun).

Terlepas dari semua pujian dan pencapaian negara ini, banyak orang seperti Agnes Mo, menghadapi dilema sebagai manusia yang harus di asosiasikan dengan negaranya, Indonesia, yang banyak kekurangan dan mendapatkan stigma buruk sebagai negara yang masyarakatnya banyak intoleran dan terbelakang (dengan daftar panjang pembuktiannya)

Tapi merasa berbeda bukan berarti menyangkal apalagi membenci, pada akhirnya kami tetap warga Indonesia, ibu pertiwi kami tetap Indonesia dan membela mati-matian apa yang kami anggap baik untuk bangsa, dan menentang dengan berani apa yang kami anggap membahayakan keberlangsungan hidup suatu bangsa.

Sampai Sekarang, jika aku ke Luar Negri, apalagi saat sebelum berjilbab, hampir semua orang tidak percaya aku orang Indonesia, mereka akan mengira aku orang Pilipina, atau Thailand, atau manapun asal bukan Indonesia, “Why are you so different?”. Alasannya sederhana, karena fisikku dan karena cara berpikirku, “berbeda dari umumnya Indonesia yang pernah mereka temui”. Itu artinya, mereka sudah punya “label” atau “stigma” tertentu bahwa seharusnya orang Indonesia itu begini dan begitu (yang kurang baik). Keputusan harus di ambil, apakah menerima stigma begitu saja atau meluruskan dengan berani. Pilihanku adalah yang terakhir (look Indonesia is a great country, and i am a show case of a good Indonesian and there are many more people like me)

Dulu, kuputuskan untuk mengakhiri hubungan dengan pacar dari Filipina karena aku tidak mau tinggal di sana, dan dia tidak mau tinggal di sini. Masing-masing begitu cinta mati kepada tanah airnya. (Meskipun sehari-hari juga melawan kekuasaan terus)

Dulu menolak tawaran sekolah di Belanda karena tidak ingin menghabiskan waktu di kampus apalagi di negara orang, dan kehilangan kesempatan untuk “membela negara”. (Meskipun sering merasa kehilangan komunitas sepemikiran)

Dulu, aku menolak pekerjaan di Thailand, karena tidak ingin kehilangan kesempatan membesarkan anak-anak di Indonesia, tanah tumpah darah mereka.

Bos ku dari Jerman sejak dari hari kedatangannya sampai kepulangannya, tujuh tahun kemudian, berkali-kali mengatakan sulit percaya aku dari Indonesia, mengingat cara hidupku, dan caraku menyelesaikan suatu masalah, tapi selalu kutegaskan, bahwa caraku adalah cara seharusnya Indonesia.

Aku yakin, Agnes Mo, juga sudah memilih keputusan yang benar, tetap menjadi warga negara yang membanggakan dan kritis terhadap ketidakadilan. Simaklah dengan baik pernyataan terkahirnya yang banyak di potong (demi menabur kebencian ngga berguna)

“Sebenarnya, aku tidak punya darah Indonesia atau apapun itu. Aku (berdarah) Jerman, Jepang, China, dan aku hanya lahir di Indonesia,” “Aku juga (beragama) Kristen dan mayoritas di sana (Indonesia) Muslim. Jadi, aku tidak akan bilang aku tidak pantas berada di sana karena orang-orang menerimaku apa adanya. Tapi, selalu ada perasaan kalau, aku tidak seperti orang-orang lainnya,” “Tentu saja. Itu mengajariku untuk merangkul perbedaan itu, merangkul kerentananku, perbedaan yang ada, keunikanku, dan lain-lain,” ujarnya”.(sp)

Penulis, Henny Dwi Vidiarina, aktivis perempuan 80’an yang saat ini menggeluti isu keberagaman.