Tusuk Sate Desa Wonoanti Terkenal Bagus dan Rapih

Tusuk Sate Desa Wonoanti Terkenal Bagus dan Rapih

SHNet,  Jakarta – Gendhing berjudul “Kutho Trenggalek” mengalun sedikit keras dari tape recorder “lawas”, menemani lima perempuan Dusun Kedekan, Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek.

Lesehan di teras rumah milik Makrus Ali, 40 tahun, sebagian dari perempuan ini menghitung dan memasukkan ratusan tusuk sate ke dalam wadah plastik. Sebagian lagi memotong bambu, lantas memasukkan dalam mesin mencacah otomatis untuk membuat ratusan tusuk sate.

Rumah Makrus Ali, adalah satu dari belasan rumah sentra kerajinan tusuk sate di RW 08 Desa Wonoanti. Bagi para perempuan ini, membuat tusuk sate tak sekadar rutinitas turun-temurun, melainkan sebuah pekerjaan yang menghasilkan.

Warga Trenggalek lebih mengenal dusun ini sebagai kampung tusuk sate. Dari dusun inilah, para penjual sate di Trenggalek menggantungkan pasokan tusuk sate baik ayam maupun kambing. Tusuk sate dari kampung ini, juga menjadi langganan para pedagang hingga ke Tulungagung, Ponorogo bahkan Solo, Yogyakarta dan daerah lainnya.

Meneruskan usaha pembuatan tusuk sate dari sang ayah, Makrus memproduksi 2-2,5 kwintal tusuk sate per bulan dan bisa sampai 4 kwintal pada musim-musim tertentu seperti Lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha.

Harga tusuk sate di dusun ini seragam Rp12.000 perkilogram (kg) untuk tusuk sate ayam dan Rp13.500 per kg untuk tusuk sate kambing. “Murah tapi alhamdulillah, kehidupan kami berkah. Hasil dari tusuk sate bisa menghidupi kami,” kata Makrus.

Agar untung terjaga, pengiriman ke luar kota bisanya dengan menyewa sebuah pick-up dan membebankan ongkos kirim pada pembeli. Makrus mencontohkan, untuk pengiriman ke Yogyakarta dikenakan biaya pengiriman Rp800 per kg tusuk sate.

Tusuk sate buatan warga Wonoanti, rata-rata memiliki panjang 20 sentimeter (cm) sampai 22 cm. Ketebalan diameternya dibedakan antara tusuk sate kambing dan tusuk sate ayam. Tusuk sate kambing memiliki diameter 3 milimeter (mm), sedangkan ayam 2,5 mm.

“Tusuk sate ayam sama dengan sate kelinci, kami bikin lebih tipis karena daging satenya lebih kecil,” ujar Makrus.

Membuat tusuk sate memang menguntungkan, satu bambu seberat 1,5 kwintal bisa menghasilkan 1 kwintal tusuk sate. Kadang limbah sisanya juga bisa diproduksi lagi menjadi tusuk sate mini dengan panjang 15 cm. Biasanya tusuk sate ini dijual ke pedagang jajanan sekolah dasar (SD).

Pria tiga anak ini mengaku omset yang dihasilkan dalam sebulan mencapai Rp15-30 juta dengan laba bersih antara 15-20 persennya.

“Kalau mau omset besar sebenarnya bisa bermain di tusuk gigi. Tapi sekarang tusuk gigi banyak dari Tiongkok, bahkan tusuk sate dari Tiongkok juga mulai beredar di pasaran,” ujarnya.

Pada tahun 2000an, tusuk sate Trenggalek pernah mengalami kejayaan. Namun hadirnya tusuk sate Tiongkok membuat produksi mereka kini tidak mungkin lagi bisa ditambah.

“Kami juga tidak bisa lagi menaikkan harga sembarangan karena tidak akan laku di pasaran,” ujarnya.

Beruntung, para perajin saat ini sudah mampu menggunakan peralatan mekanik sederhana yang menghasilkan tusuk sate berkualitas halus setara dengan tusuk sate dari Tiongkok.

Untuk melawan dominasi Tiongkok, Makrus pernah berfikir minta label halal ke Majelis Ulama Indonesia. Sayangnya, label halal tidak disediakan untuk tusuk sate.

“Kami punya akal, melawannya dengan menampakkan brand lokal dan bahan baku lokal. Alhamdulillah, penjual sate rata-rata orang beragama jadi tusuk sate bikinan kami tetap diutamakan karena kesuciannya terjamin,” ujarnya sambil tersenyum. (maya)