Pengiriman Guru untuk Anak Indonesia di Malaysia

Pengiriman Guru untuk Anak Indonesia di Malaysia

Mendikbud Muhadjir Effendy pada saat taklimat media, beberapa waktu yang lalu. [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Negara berkewajiban melaksanakan penyelenggaraan pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun untuk setiap warga negara, baik yang tinggal di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maupun yang di luar negeri. Pernyataan tersebut termuat dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).

Namun, kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia, khususnya yang bekerja di sektor perkebunan, masih mengalami kesulitan dalam memperoleh akses pendidikan.

Industri kelapa sawit di Malaysia memiliki daya tarik bagi sebagian Tenaga Kerja asal Indonesia (TKI) untuk mendulang rezeki. Karena alasan tertentu, tak sedikit dari para TKI yang bekerja di sektor perkebunan di Malaysia ini yang membawa keluarganya. Padahal, Undang-Undang di Malaysia menyebutkan bahwa pekerja migran yang memiliki gaji di bawah RM 5000 tidak diperbolehkan membawa keluarga mereka.

Faktanya para pekerja migran tetap memaksakan untuk membawa keluarganya. Seiring perjalanan waktu, banyak anak yang dilahirkan di Malaysia dan statusnya menjadi ilegal karena tidak memilki dokumen yang sah. Persoalaan di atas menjadi kompleks ketika anak-anak tersebut memasuki usia sekolah. Anak-anak tidak dapat mendaftar pada pendidikan formal karena tidak memilki dokumen resmi.

Mendikbud Muhadjir Effendy pada saat taklimat media, beberapa waktu yang lalu. [SHNet/Ist]

Community Learning Center (CLC)
Menyikapi kondisi tersebut di atas, pemerintah Indonesia dan Malaysia telah sepakat menyediakan wadah belajar anak Indonesia melalui Community Learning Center (CLC). Pendirian CLC ini menurut Kemendikbud sebagai upaya memenuhi hak asasi anak Indonesia untuk mendapatkan pendidikan dasar.

Sejalan dengan itu, sejak tahun 2006, sebagai bagian dari upaya dan kewajiban pemerintah untuk mencerdaskan warga negaranya, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setiap tahun mengirimkan guru-guru untuk bertugas mendidik anak-anak Indonesia, terutama yang berada di Sabah dan Sarawak, Malaysia.

Jumlah guru yang mendaftar tahun 2019, untuk mengajar anak-anak Indonesia di Malaysia, berjumlah 2.932 orang. Setelah melalui seleksi administrasi dan substansi, telah ditetapkan 94 orang yang memenuhi kriteria dan akan berangkat untuk bertugas mengajar anak-anak Indonesia di Malaysia selama 2 tahun. (whm/sp)