Mendikbud Pastikan Kegiatan Belajar di Wamena Kembali Normal

Mendikbud Pastikan Kegiatan Belajar di Wamena Kembali Normal

Mendikbud Muhadjir Effendy bertemu para siswa saat mengunjungi SMPN 2 Wamena, Selasa (15/10). [SHNet/Ist]

Wamena – Pascakonflik sosial di Wamena, Papua, sebagaimana pemberitaan sejumlah media, kegiatan belajar mengajar di Wamena sempat terhenti karena banyaknya bangunan sekolah yang rusak. Selain itu, kegiatan belajar mengajar di Wamena sempat terhenti karena para guru dan siswa mengungsi keluar Wamena.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy memastikan kegiatan belajar mengajar kembali normal setelah peristiwa tersebut. Mendikbud mengapresiasi beberapa sekolah yang dikunjunginya yang menyelenggarakan kembali kegiatan belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan instruksi Bupati Jayawijaya, Jhon Robert Banoa, yang menginstruksikan bahwa mulai 7 Oktober kegiatan belajar mengajar di Kota Wamena harus sudah dimulai.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bupati atas kerja kerasnya, kerusuhan pada 23 September sudah bisa diatasi, dan lebih khusus, anak-anak sudah bisa bersekolah seperti biasa,” kata Mendikbud di tengah-tengah masyarakat Wamena yang hadir di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Wamena, pada Selasa (15/10).

Mendikbud menekankan bahwa pelayanan pendidikan tidak boleh terhenti di tengah situasi konflik yang terjadi di Wamena dan Nduga, Papua. Dengan demikian hak anak-anak Papua terhadap layanan pendidikan tetap terpenuhi demi masa depan mereka.

Mendikbud Muhadjir Effendy bertemu para siswa saat mengunjungi SMPN 2 Wamena, Selasa (15/10). [SHNet/Ist]

“Saya minta kalau ada teman-temannya yang belum masuk sekolah harus diajak kembali, terutama dari luar yang masih mengungsi, yang belum tertampung supaya ditampung. Kemudian kalau ada anak dari Wamena yang sekarang keluar juga bersama orang tuanya supaya diajak, diminta balik ke Wamena,” ajak Mendikbud.

Untuk itu, Mendikbud telah berkoordinasi dengan Panglima TNI dan Kapolri untuk menjamin keselamatan dan keamanan guru, tenaga kependidikan, dan siswa di daerah konflik di Papua.

“Insyaallah sudah aman. Kapolres sudah menjamin keadaan di Wamena sudah membaik,” katanya.

Rehabilitasi Jadi Prioritas
Mendikbud berkomitmen merehabilitasi sekolah-sekolah yang rusak akibat kerusuhan di Wamena untuk menjamin terselenggaranya proses belajar mengajar di sekolah.

Di Kota Wamena, dari 50 satuan pendidikan yang ada, 23 di antaranya rusak. Sebanyak lima Sekolah Dasar (SD), sepuluh Sekolah Menengah Pertama (SMP), lima Sekolah Menengah Atas (SMA), dan tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) rusak ringan dan sedang. Kerusakan terjadi pada kaca jendela ruang kelas, pintu, dan papan nama sekolah. Selain itu, satu ruangan Kepala SMP YPPK St Thomas dilaporkan habis dibakar.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengunjungi SMPN 2 Wamena, Selasa (15/10). [SHNet/Ist]

Kepala SMPN 2 Wamena, Kornae Paragaje mengatakan, pada saat konflik, para guru dan siswa merasa ketakutan hingga mengungsi keluar Kota Wamena, seperti ke Jayapura, Merauke hingga luar Papua.

“Kejadian pada 23 September itu, membuat kami, semua guru dan siswa lari. Dari 30 guru yang ada di sekolah kami, saat ini hanya 10 guru yang tersisa. Sekolah kita dirusak, semua kaca dikasih hancur,” kata Kepala Sekolah Kornae. Saat ini, sebanyak 5 guru SD, 60 guru SMP, 59 guru SMA, dan 30 guru SMK yang masih mengungsi, lanjutnya.

Selain sarana dan prasarana pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan World Vision Indonesia (WVI), Kementerian Sosial, TNI, Polda, dan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) akan melakukan konseling dan ‘trauma healing’ bagi guru dan siswa korban konflik sosial. Kegiatan akan terus dilakukan hingga waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan tercukupi. (whm/sp)