Malam Itu, Saat Anak-anak Muda Mengenang Aristides Katoppo

Malam Itu, Saat Anak-anak Muda Mengenang Aristides Katoppo

Dari kanan ke kiri, Cherie Nursalim, Sasmiyarsi Sasmoyo, Shobi, dan Kang Yoto (paling kiri)/Tutut Herlina

SHNet, Jakarta – Diskusi informal penuh kehangatan dan idealisme itu terjadi di halaman belakang rumah almarhum Aristides Katoppo, di Ragunan, Jakarta Selatan, Jumat (4/10/2019) malam. Ada sekitar 20 anak muda dari berbagai latar belakang hadir di sana.

Ada yang berlatar belakang LSM lingkungan hidup, bisnis, dan Aparatur Sipil Negara (ASN). Mereka didampingi para senior, yakni Kang Yoto (mantan Bupati Bojonegoro), Cherie Nursalim (salah satu pendiri Yayasan Upaya Indonesia Damai/UID), dan Shobi dari UID.

Mereka datang ke sana untuk bertemu istri Tides, Sasmiyarsi Sasmoyo, dan menyampaikan ungkap duka cita, sekaligus mengenang Tides. Anak-anak muda itu pernah mendapatkan “kursus singkat” dari Tides, demikian ia akrab disapa.

“Bagaimana dengan hari ini,” tanya Cherie Nursalim kepada beberapa anak muda yang tengah asyik diskusi, sambil tersenyum. Cherie mendirikan yayasan tersebut bersama Aristides Katoppo lebih dari satu dekade lalu untuk menyebarluaskan kolaborasi atau gotong royong dari berbagai kalangan.

“Kami belajar kepemimpinan,” jawab Janes, seorang aktivis lingkungan dari Riau. “Kami banyak dapat pengetahuan,” Yusran, aktivis dari Makasar menambahkan.

“Good,” ujar Cherie. Ia kemudian berpindah dan berdiskusi dengan pemuda lainnya. Sementara itu, Janes dan Yusran tetap melanjutkan diskusi yang temanya mungkin menggelisahkan hati mereka. “Apa mungkin bagi aktivis berjuang setelah dia masuk dan jadi karyawan perusahaan? Pasti kepentingannya berubah,” kata Janes.

Yusran menanggapi hal itu dengan memberikan keyakinannya, bahwa para aktivis lingkungan yang kini telah berpindah ke perusahaan tetap bisa memberikan kontribusi kecil. Diskusi itu juga diisi dengan pandangan mereka terhadap sosok Tides, demikian Aristides Katoppo akrab disapa. Soal Tides ini mereka punya pandangan yang sama.

“Pak Tides memberi pelajar pada kami bahwa berjuang itu ternyata harus sabar, harus dilakukan sampai tua,” ujar Janes. Contoh kesabaran paling kecil yang ditunjukkan oleh Tides adalah hadir mendampingi mereka saat work shop di Kali Urang, Yogyakarta. “Dengan beliau datang di sana, bersama-sama dengan kami saja itu sudah menunjukkan sebuah perjuangan,” Janes menambahkan.

Tides di mata anak-anak muda itu banyak memberikan pengetahuannya tentang sejarah bangsa Indonesia ini didirikan. Tides juga menekankan pentingnya kolaborasi atau gotong royong untuk membangun dunia yang lebih baik dan merawat Indonesia.

Kini, Tides sudah pergi meninggalkan anak-anak muda itu. Tak sempat melihatnya “diwisuda”. Tapi buat anak-anak itu, Pak Tides tetap selalu ada, dengan segala warisan ilmu, pengetahuan, dan kebijaksanaannya. (Tutut Herlina)