Kepala BIG: Ibu Kota Baru Aman dari Bencana Alam

Kepala BIG: Ibu Kota Baru Aman dari Bencana Alam

Kepala Badan Informasi Geospasial Nassarudin Z Abidin memotong tumpeng pada peringatan HUT ke-50 Badan Infprmasi Geospasial (BIG), di Cibinong, Bogor. (SHNet/stevani elisabeth)

 

SHNet, Bogor- Kepala Badan Informasi Geospasial Hassanudi Z Abidin mengatakan wilayah yang bakal dijadikan Ibu Kota Negara Indonesia yang baru aman dari bencana alam seperti gempa, kebakaran hutan dan banjir.

“Tidak ada masalah terkait dengan bencana alam di sana, karena tanahnya bukan tanah gambut dan jauh dari potensi gempa.BIG juga sudah lama terlibat dalam pemetaan ibu kota baru,” ujarnya usai peringatan HUT ke-50 Badan Informasi Geospasial, di Cibinong, Bogor, kemarin.

Ia menjelaskan, sampai saat ini, untuk sesi pemotretan sudah rampung, sehingga pihaknya sedang menyiapkan peta 3D delapan layer yang akan dijadikan patokan bagi kelompok kerja (pokja) pembangunan ibu kota.

Peta yang akan memberikan gambaran soal potensi bencana, jenis tanah, potensi wilayah dan tata ruang itu akan rampung pada akhir 2019, sehingga diharapkan sudah bisa digunakan tahun depan setelah dikaji pokja pembangunan ibu kota baru.

Ia menambahkan, untuk peta kebencanaan harus detail dan diintegrasikan dengan data-data statistik. Semuanya dalam satu sistem.

Sayangnya, di daerah belum ada dinas informasi geospasial, sehingga informasi geospasial masih ditempelkan di Dinas Tata Ruang, Informasi dan Teknologi dan sebagainya. “Kasihan kalau ada masalah di daerah tersebut, tidak terpantau,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah siap mendukung BIG dari sektor pendanaan. Walaupun hanya Rp19 miliar yang akan digelontorkan dari Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) menurutnya itu sudah menjadi gambaran keseriusan pemerintah.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia itu melakukan perencanaan yang baik untuk sebuah pembangunan sebuah negara membutuhkan banyak data dan peta adalah salah satunya. “Karena itu dari waktu ke waktu, kita terus berkoordinasi dengan BIG untuk memastikan apakah peta-peta yang dibuat itu sudah sesuai dengan semua perencanaan. Apalagi dalam konteks bahwa negara kita, negara yang terdesentralisasi, otomatis perencanaan itu harus benar-benar jelas lokasinya dimana,” tegasnya. (Stevani Elisabeth)
.