Euforia Revolusi Mental Sangat Perlu untuk Pengelolaan Sampah 

Euforia Revolusi Mental Sangat Perlu untuk Pengelolaan Sampah 

Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, Rosa Vivien Ratnawati, saat peluncurkan Program Gerakan Nasional Pilah Sampah dari Rumah pada tangal 15 September 2019 di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, yang diikuti oleh sekitar 1000 peserta yang berasal dari sejumlah Kementerian dan Lembaga, Organisasi Masyarakat, Komunitas, dan masyarakat umum

SHNet, JAKARTA – Harus ada tindakan atau perbuatan nyata untuk merubah pola pikir, gaya hidup dan budaya untuk mengelola sampah lebih baik untuk dapat menjaga keberlanjutan kehidupan. Mulai dari hal-hal sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Kita dapat memulai dengan hal-hal yang sederhana, untuk melindungi bumi dari kerusakan akibat pengelolaan sampah yang tidak benar dalam kehidupan kita sehari-hari, dengan memilah sampah mulai dari rumah masing-masing,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, Rosa Vivien Ratnawati, di Jakarta, Selasa (8/10)

Menurut Vivin, pengelolaan sampah di sumbernya menjadi sangat penting untuk mengurangi beban pengelolaan di hilir.  Karena itu, perlu ada euforia revolusi mental pengelolaan sampah  dengan merubah perilaku tidak menggantungkan kepada petugas kebersihan dan pemulung.

“Kita juga mengambil tanggung jawab untuk menjaga kebersihan mulai dari diri sendiri, mulai dari rumah sendiri dengan menerapkan prinsip mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur  ulang sampah (Prinsip 3R: reduce, reuse dan recycle) di tempat masing-masing,” katanya.

Selain itu, Vivin mengatakan, perlunya komitmen yang kuat baik dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan komunitas. Peran pemerintah daerah dan dunia usaha untuk mendukung gerakan ini menjadi sangat penting. “Pemerintah daerah diimbau dapat menyediakan pengangkutan terpilah atau terjadwal untuk sampah yang dapat dikompos, di daur ulang maupun residu. Dunia usaha perlu mulai mendesain kemasan yang dapat didaur ulang dan tidak terbuang ke TPA maupun lingkungan,” ujarnya.

Gerakan Minim Sampah

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah meluncurkan Program Gerakan Nasional Pilah Sampah dari Rumah pada tangal 15 September 2019 di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, yang diikuti oleh sekitar 1000 peserta yang berasal dari sejumlah kementerian dan lembaga, organisasi masyarakat, komunitas, dan masyarakat umum.

Gerakan pilah sampah dari rumah ini, kata Vivien, merupakan lanjutan dari gerakan minim sampah yang sudah terlihat masif di masyarakat guna memastikan sampah yang tidak terkurangi dapat dipilah, dikumpulkan dan diangkut ke tempat pengolahan dan pemrosesan akhir.

“Pemilahan sampah dari rumah juga merupakan langkah untuk menyediakan bahan baku daur ulang, sehingga jumlah sampah yang dikirim ke TPA semakin sedikit karena jumlah pemanfaatan sampah semakin meningkat,” katanya.

Dengan rerata tiap orang Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 0,7 kilogram per hari, jumlah timbulan sampah di Indonesia secara nasional menjadi sebesar 175.000 ton per hari atau setara kurang lebih 65 juta ton per tahun, dengan komposi organik (sisa makanan dan sisa tumbuhan) sebesar 50%, plastik sebesar 15%, dan kertas sebesar 10%. Sisanya terdiri dari logam, karet, kain, kaca, dan lain-lain.

Dari total timbulan sampah plastik, yang didaur ulang diperkirakan baru 10-15% saja, 60-70% ditimbun di TPA, dan 15-30% belum terkelola dan terbuang ke lingkungan, terutama ke lingkungan perairan seperti sungai, danau, pantai, dan laut. Persoalan lainnya timbul karena tercampurnya sampah organik dan sampah anorganik sehingga menimbulkan kesulitan baru untuk mengelolanya.

Dengan melihat profil pengelolaan sampah nasional, sumber sampah yang utama dihasilkan dari rumah tangga sebesar 36%. Pasar serta perniagaan memberikan kontribusi timbulan sampah sebesar 38%  dan sisanya 26% berasal dari kawasan, perkantoran dan fasilitas publik.

Kampanye Gerakan Nasional Pilah Sampah dari Rumah juga telah diselenggarakan di Bitung, Sulawesi Utara pada tanggal 21 September 2019. Acarea yang dihadiri oleh Walikota Bitung dan seluruh komponen masyarakat Kota Bitung yang antusias menyambut program ini serta berlangsung cukup meriah. Sekitar 2500 orang memenuhi areal car free day Kota Bitung.

Selanjutnya pada tanggal 6 Oktober 2019 giliran Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menjadi tuan rumah Kampanye Pilah Sampah Dari Rumah. Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, menyambut baik kampanye ini, sekaligus sebagai pendorong bagi suksesnya program Zero Waste NTB yang juga sedang gencar dilaksanakan sebagai bagian dari Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah Daerah yang akan mengkontribusi Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah yang mempunyai target pengurangan sampah dari sumber 30 persen dan penangangan sampah oleh pemerintah daerah sebesar 70 persen.

Diharapkan pada tahun 2025, semua sampah terkelola dengan baik dan tidak ada yang tercecer dan mencemari lingkungan.“Saya menghimbau gerakan bersama mengelola sampah dimulai dari diri kita sendiri, dimulai saat ini,  untuk menjaga keberlanjutan kehidupan di masa datang,” kata Vivien. (ij/pr)