Udan Liris Ciri Khas Batik Gumelem dari Banjarnegara

Udan Liris Ciri Khas Batik Gumelem dari Banjarnegara

SHNet, Jakarta – Memakai batik bukan hanya sebagai kelengkapan sandang dan fashion, namun juga memakai sebuah karya seni. Begitulah seharusnya agar kita menjadi lebih bangga memakai karya warisan nenek moyang bangsa ini.

Kita mengenal berbagai macam batik dan mungkin Anda juga sudah mengoleksinya. Ada batik Solo, Jogja, Pekalongan atau bahkan Madura yang sudah sangat familiar. Tapi pernahkah Anda mendengar batik Gumelem?.

DSC_0216

Di Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon Kecamatan Susukan terdapat sentra kerajinan batik. Inilah kenapa dikenal dengan nama Batik Gumelem.

Gumelem berjarak sekitar 40 KM ke arah barat daya dari ibukota Kabupaten Banjarnegara. Di sini terdapat puluhan industri rumahan yang tergabung dalam komunitas Usaha Kecil dan Menengah (UKM) produk kerajinan batik tulis Banjarnegara atau Batik Gumelem.

Untuk mencapai kawasan sentra batik ini bisa juga ditempuh lewat Kabupaten Banyumas, tepatnya di pinggir jalan raya Susukan. Di situ terpampang gapura besar bertuliskan Sentra Batik Gumelem Banjarnegara.

Anda bisa mengunjungi gerai-gerai kecil yang menyatu dengan rumah warga. Di ruang tamu biasanya para pengrajin memajang koleksi kain batiknya maupun yang sudah berbentuk pakaian jadi. Selain berburu batik, tentunya Anda juga bisa melihat proses pembuatan batik secara langsung. Hitung-hitung bisa sekaligus berwisata di samping berburu batik.

Di daerah lain di Jawa yaitu Jogja, Solo dan Pekalongan, batik tulis memiliki corak khasnya masing-masing, yang kurang bisa dibedakan oleh orang awam.

Batik Gumelem memiliki corak khas yaitu udan liris dan rujak senthe yang diproduksi secara turun temurun oleh warga setempat. Ciri khas lainnya dari Batik Gumelem adalah warnanya yang didominasi oleh warna coklat, hitam dan kuning serta bermotif bunga-bunga.

Meskipun dengan berkembangnya industri tekstil, kini lebih memiliki bermacam-macam warna.

Proses pembuatan Batik Gumelem melalui beberapa tahapan. Dengan menggunakan kain katun maupun sunforis, pertama-tama dibuat desain sesuai corak yang diinginkan. Kemudian dibatik mengikuti corak dengan menggunakan malam yang sudah dipanaskan.

Selanjutnya, kain dicolet menggunakan warna merah, kuning atau warna lainnya. Setelah kering, kemudian warna hasil coletan tadi ditutup menggunakan malam untuk menyimpan warna pada saat proses pencelupan.

Proses pencelupan ini bertujuan untuk mendapatkan warna lain pada satu kain. Setelah itu didiamkan, untuk kemudian dilorod dengan air mendidih yang dicampur aci atau tapioka untuk menghilangkan malam yang menempel pada kain. Kemudian batik dijemur dan setelah  kering baru disetrika atau dipress.

Gumelem ini memang belum seluas batik lainnya, masih sebatas untuk konsumsi masyarakat lokal. Namun bukan berarti tidak ada upaya untuk terus mengembangkan dan mendukung industri kecil rumahan sekaligus melestarikan warisan budaya lokal.

Seperti halnya Pemerintah Kabupaten Banjarnegara yang mewajibkan pemakaian batik pada hari-hari tertentu. Termasuk dalam acara-acara budaya di Kabupaten Banjarnegara.

Salah satunya adalah Ibu Mirah yang memulai usahanya dari tahun 2007, pernah mendapat pesanan seragam batik untuk acara Festival Sungai Serayu beberapa waktu yang lalu.

Dengan mempekerjakan beberapa pembatik yang juga merupakan tetangganya, dia berusaha memenuhi pesanan para pelanggannya. Mulai dari seragam sekolah, seragam kantor maupun seragam acara-acara khusus.

Untuk satu kain batik kombinasi (proses cetak dan tulis) dibanderol dengan harga berkisar 70 ribu sampai 90 ribu rupiah , sedangkan untuk yang 100 persen tulis harganya bisa mencapai 200 ribu rupiah. Tentunya bukan harga yang mahal untuk sebuah karya seni. (Maya)