Tradisi Pukul Sapu di Desa Mamala dan Morella

Tradisi Pukul Sapu di Desa Mamala dan Morella

Tradisi pukul sapu di Desa Mamala dan Morella, Maluku. (Dok. Shendy Watulingas)

 

SHNet, Jakarta- Desa Mamala dan Desa Morella, Maluku Tengah memiliki tradisi yang unik. Namanya, tadisi pukul sapu.

Orang awam mungkin menganggap tradisi pukul sapu merupakan tradisi yang ekstrim. Karena mereka yang ikut dalam tradisi ini, saling memukul badan lawan dengan sapu lidi. Bahkan sampai badan mereka luka.

Pukul sapu merupakan cara masyarakat Desa Mamala dan Morella mewaiskan budaya leluhur sekaligus mewariskan semangat perjuangan Kapitan Telukabessy yang dengan gigih berjuang mempertahankan Benteng Kapahaha. Untuk menandai kekalahannya, Kapitan Telukabessy beserta pasukannya saling cambuk hingga berdarah-darah.

Untuk menjangkau wilayah ini, wisatawan dapat menggunakan kendaraan roda empat, atau dengan mencari terlebih dahulu jasa sewa mobil di Kota Ambon karena letaknya cukup jauh dari pusat Kota Ambon dan medan jalan yang berliku dan menanjak pegunungan Salahatu. Jarak dari Kota Ambon menuju negeri ini sekitar 45-50 km atau sekitar 1,5 jam perjalanan.

Jangan heran ketika anda berada ketika tradisi ini berlangsung, ribuan orang mulai dari masyarakat sekitar, wisatawan lokal maupun asing berkumpul menjadi satu menyaksikan ritual bersejarah ini.

Sebelum atraksi ini dimulai kedua kelompok pemuda dari 2 negeri yang bertetangga ini akan dikumpulkan di rumah adat masing-masing, mereka akan berdoa kepada yang Maha Kuasa dan meminta restu kepada leluhur mereka agar dilindungi dan selamat dari marabahaya apapun.

Setelah selesai melaksanakan ritual adat di rumah adat masing-masing, kedua kelompok pemuda ini berdiri berhadap-hadapan sambil memegang dua ikat lidi, dan menunggu aba-aba berupa bunyi peluit yang ditiup oleh pimpinan adat. Ketika seruling berbunyi kelompok bercelana merah lebih dulu memukul kelompok bercelana kuning.

Begitu pun sebaliknya saat seruling dibunyikan, maka kelompok bercelana kuning yang mendapat giliran untuk menyerang dan memukul kelompok bercelana merah dengan batang lidi yang panjangnya 1,5 hingga dua meter dan diameter pangkalnya mencapai 1-3 cm

Walaupun terjadi aksi pukul yang menyebabkan kulit di sekujur badan kedua kelompok pemuda ini terluka, mereka satupun tidak merasa kesakitan, justru yang mereka rasakan adalah rasa gatal sehingga mereka justru merasa senang dan berusaha untuk mendapat cambukan dari lawannya dan membalas cambukan kembali kepada lawannya.

Sering kali penonton pun terkena cambukan lidi dari pemain, dan yang penonton rasakan tidaklah sama dengan yang dirasakan oleh pemain atau kedua kelompok pemuda tersebut, merka justru akan berteriak kesakitan. Hal ini menurut warga setempat disebabkan karena para pemain sudah didoakan oleh ketua adat masing-masing negeri.

Tradisi Pukul Sapu Mamala Morella ini memang sedikit “ekstrim” namun menyimpan pesan sosial yang terkandung didalamnya yaitu walaupun dalam kehidupan ini kita sering disakiti bahkan oleh saudara sendiri, tetapi kita harus menjalin persatuan dan tidak boleh menyimpan iri atau dendam.

Tradisi Pukul Sapu antar pemuda di Desa Mamala-Morella bisa disaksikan secara umum oleh masyarakat setiap 7 Syawal. Event budaya ini telah menjadi ritual adat tahunan yang menarik perhatian banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Lubang buaya

Selain memiliki tradisi yang unik dan ekstrim, Desa Morella juga memiliki spot diving dan snorkling yang indah. Namanya,Lubang Buaya . Di tempat ini, para wisatawan dapat menikmati udara yang segar dan jernihnya air laut.

Dinamakan lubang buaya karena konon dahulunya di daerah ini ada lubang atau gua yang menjadi sarang buaya putih. Lubang buaya memiliki nama lain Pantai Namanalu, sejak 2016 semakin dikenal oleh pecinta snorkeling dan diving.

Buktinya, sosial media seperti instagram banyak dihiasai dengan foto-foto penyelam di kedalaman Lubang Buaya. Sebagai taman laut, objek wisata Maluku Tengah ini menjanjikan pengalaman yang tidak akan pernah kamu lupakan.

Palung-palung hinga gua yang menganga ada di bawah permukaan laut. Kemudian masih ada terumbu karang hingga ikan-ikan yang bernenang menyebarkan keindahan. (Stevani Elisabeth)