Surat Dari Edinburgh

Surat Dari Edinburgh

Maria Pakpahan

Oleh: Maria Pakpahan

Hanya mereka yang buta atau mencoba cuci tangan melihat aksi-aksi yang terjadi seakan sendiri, terpisah. Padahal ini suatu yang kelanjutan. Mahasiswa tidak bisa secara unilateral cuci tangan dengan situasi yang dialami oleh para pelajar yang seakan ‘lost’ by anger, seperti kesetanan melempari pagar 2 jam lebih. Para pelajar dari STM, SMK dan SMA membakar motor, merusak lampu merah bahkan menggerogoti jalur kereta api, mengambili batu-batu dan tidak memikirkan keselamatan orang lain! Bagaimana jika jalur kereta apinya longsor? Tidak peduli kan! Atau EGP (Emang Gua Pikirin)! Sikap yang egois dan bodoh!

Saya memang ‘hanya’ melihat dari kejauhan seperti kebanyakan orang, tapi bukan berarti menjadi buta serta tidak bisa melihat live streaming media dan reportase para wartawan. Mahasiswa jangan cuci! Selain sikap ini amoral, juga akan memperlihatkan degradasi daya pikir kalian yang sudah saya lihat sendiri di acara ILC (Indonesian Lawyers Club).

Sangat mengkhawatirkan! Mahasiswa memprotes hal yang belum dibaca atau dikaji sendiri, alias kader kuping semata! Belum lagi, sudah tahunan itu Rancangan Undang-Undang (RUU KUHP) diproses, kemana saja diri kalian? Baru peduli hari gini? Bisa maklum kan jika saya kritis mempertanyakan integritas kalian! Saya tidak percaya hal-hal yang dadakan, instant. Lihat saja aktivis perubahan iklim yang masih anak itu, diapun membangun gerakan tidak dalam sehari, seperti kemarin mahasiswa, hari ini giliran pelajar demo.Bukan seperti itu. Itu jelas instant! Greta Thunberg berproses, dari aksi sendiri menjadi gerakan global tanggal 20 September lalu, diikuti sekitar 4 juta orang di mancanegara, di 150 negara, 4.500 lokasi aksi. Tanpa bakar-membakar!

Greta Thunberg dan anak-anak yang turun, juga orang dewasa boleh dan memang ikutan. Berdemonstrasi, gerakan aksi massa berjalan damai, fun serta,—ini yang paling penting, anak-anak ini tahu, mengerti mengapa mereka ikut climate strike. Beda ya dengan yang lempar batu, bakar motor, merusak pos di toll, pos polisi di Palmerah, Jalan Tentara Pelajar. Mari refleksi!

Juga  hal lain yang saya tidak bisa paham, kalian bicara mengawal reformasi 1998 tetapi tidak satupun dari seluruh aksi mahasiswa se Indonesia yang menyebut Cendana! Tidak ada! (Nah Ketahuan!-red)

Tuntutan pengembalian kekayaan rakyat yang saat ini masih banyak dikuasai clan Cendana,– iya ketua Clan Cendana, Soeharto yang ditumbangkan dan mundur oleh Reformasi 98. Aneh kan kalian meminjam nama reformasi tetapi tindakan kalian justru destructive dan amnesia terhadap Cendana!

Saya juga lihat kalian sexist dalam representasi mahasiswa. Saat kalian bertemu sekjen DPR hanya laki-laki semua! Dimana suara mahasiswi-mahasiswi? Saat di ILC, semua laki-laki! Juga di media lain, lagi-lagi batangan! Menuntut keadilan tetapi dari representasi diri kalian saja sudah tidak adil!

Saya percaya tindakan, bukan omongan. Talk is cheap atau meminjam slogan kelompok suffragette,– Deeds Not Words! Artinya,— buktikan dengan tindakan bahwa kalian berhak atas status mahasiswa. Maha…tahu kan artinya, act like one! Jangan cengeng, cuci tangan. Jangan seperti ‘spoilt brad’ alias anak manja. Menuntut didengarkan tetapi tidak mau mendengarkan orang lain. Menuntut membatalan, sementara tidak percaya dengan DPR. Makanya dari kemarin saya sudah bikin status di FB, kalian cepatlah lulus, ikut Pemilu 2024 jadi anggota DPR. Bikinlah Undang-Undang yang lebih progressive. Misalnya Undang-Undang Universal Income bagi rakyat Indonesia. Mahasiswa dan pelajar,– jadilah conscious subject, semoga paham !

Saya tersenyum saat ada representasi mahasiswa yang menyebut Habermas dalam panel diskusi di acara TV tapi setelah dicecar moderator ternyata tidak membaca RUU KUHP yang dikritiknya. Padahal Habermas bicara soal public sphere. Dari sini, ada yang disebut public opinion. Bagaimana public opinion terhadap mahasiswa yang membacapun tidak ! Sloppy bingits ya adik-adik…!

Terakhir,– tidak benar aksi mahasiswa 1998 yang membawa ke reformasi tuntutannya tunggal, tidak seperti aksi mahasiswa 2019. Justru coba lihat 7 tuntutan yang ada sekarang seperti shopping list! Jumbled them together dari RUU PRT yang terus terang selama lebih sepuluh tahun diabaikan DPR,— yang juga kalian mahasiswa abaikan. Mungkin malah tidak paham hingga tuntutan batalkan pimpinan KPK bermasalah. Bermasalah maksudnya apa? Definisikan! Menurut siapa ‘bermasalah’? Pengadilankah yang memutuskan seorang pimpinan bermasalah atau physicolog? Atau siapa? Hemat saya, tuntutan itu perlu tajam, lugas dan bisa dipahami bersama.

Sebelum saya dibilang julidlah, nyinyirlah..who’s care! Saatnya mahasiswa serious embracing revolution 4.0 ya ! Jangan melulu menyalahkan orang lain, apa-apa nanti salah Jokowi? Nilai semester jeblok, salah Jokowi?… Eh salah DPR ? Nggak lah!

Plus…ini juga sangat penting,– non violence. Tanpa kekerasan! Tahun 2019 ini kita memperingati 150 tahun lahirnya Mahatma Gandhi, sosok yang mempromosikan anti kekerasan dan menjalani prinsip tersebut. Seperti anjuran Gandhi, “Be the change that you want to see in the world.” Ingin perubahan? Ya hayo…! Jangan hanya menuntut, mulailah mahasiswa-mahasiswi dengan diri kita sendiri!

Secara sosial kita perlu menyiapkan dan sebagian sudah memasuki revolusi 5.0 ! Maksudnya apa tuh? Ya bacalah! Selamat beraksi dan jalankan prinsip anti kekerasan, termasuk ke polisi yang juga warga negara, rakyat Indonesia, punya keluarga dan rasa. Buat apa kalian meludahi polisi? Ingat kan the third law of Newton? “For every action, there is an equal and opposite reaction.” Camkanlah adik-adik mahasiswa-mahasiswi! Salam solidaritas dalam keadilan & democracy!

Penulis, Maria Pakpahan, aktivis mahasiswi 1990-an dan seorang feminis.