Setiap Tahun Ada 43.000 Bayi Lahir dengan Kelainan Jantung Bawaan

Setiap Tahun Ada 43.000 Bayi Lahir dengan Kelainan Jantung Bawaan

SHNet, Tangerang– Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan masalah yang menjadi perhatian di ASEAN Federation Cardiology Congress (AFCC) yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, 19-22 September 2019.

Ketua terpilih Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr Radityo Prakoso mengatakan, PJB merupakan kelainan pada struktur jantung yang dialami sejak lahir.

“Setiap tahun di Indonesia ada 43.000 bayi lahir dengan Kelainan jantung bawaan. Jumlah ini banyak karena tidak terdeteksi sejak dini,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (20/9).

Menurutnya, PJB dapat terjadi pada dinding jantung, katup jantung maupun pembuluh darah yang ada di dekat jantung. Akibatnya, dapat terjadi gangguan aliran darah di dalam tubuh pasien, misalnya terjadi sumbatan aliran darah, atau darah mengalir ke jalur yang tidak semestinya.

Angka kejadian PJB di seluruh dunia diperkirakan mencapai 1,2 juta kasus dari 135 kasus hidup setiap tahunnya.

Radityo menambahkan, PJB memang masih menjadi tantangan di Indonesia, selain jumlah penderitanya yang masih besar, juga tata laksana dari penyakit ini memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Namun, biaya tata laksana PJB sudah ditanggung oleh BPJS.

Ahli jantung bawaan di Indonesia juga masih sedikit. Menurutnya, ahli jantung di Indonesia ada 1350, namun jumlah ahli jantung bawaan, tidak sampai 100.

“Antrian untuk operasi jantung bawaan di RS Harapan Kita bisa sampai 3 tahun,” ungkap Radityo.

Dengan kemajuan teknologi, anak-anak yang menderita PJB tidak perlu lagi menjalani operasi atau pembedahan terbuka.

“Metode pilihan utama untuk menangani kasus PJB tertentu adalah prosedur intervensi menggunakan kateter,” ujarnya.

Intervensi kateter tersebut memiliki keunggulan antara lain risiko/komplikasi operasi lebih rendah, masa rawat di rumah sakit dan waktu pemulihan lebih singkat, biaya lebih murah dan waktu pengerjaan lebih singkat.

Sementara itu, Wakil Sekjen I PERKI dr BRM Ario Soeryo Kuncoro mengatakan, PJB dapat dideteksi sejak dini bahkan sejak dalam kandungan.

Kunci pencegahan PJB adalah pemeriksaan sebelum kehamilan dan selama kehamilan yang baik. (Stevani Elisabeth)