Piring Lidi Yang Terkenal dari Desa Candinata

Piring Lidi Yang Terkenal dari Desa Candinata

SHNet, Jakarta – Beberapa waktu terakhir ini, piring lidi semakin populer. Tampilannya yang unik membuatnya kerap dijadikan pajangan, misalnya untuk menaruh buah di ruang tamu.

Kebutuhannya semakin besar setelah rumah makan juga mengandalkan piring lidi dalam jamuannya. Alhasil, permintaan piring lidi semakin besar. Pasar terbuka luas.

Desa Candinata, Kecamatan Kutasari, Purbalingga, merupakan salah satu sentra penghasil lidi. Lidi, secara tradisional dimanfaatkan untuk membuat sapu lidi. Namun, membuat sapu bukan pekerjaan yang sulit. Sebab itu, banyak warga yang dengan mudah membuatnya. Harga pun jatuh dan tak lagi menjadi usaha kerajinan yang cukup menggiurkan.

Potensi lidi di Candinata akhirnya tak banyak termanfaatkan. Melihat potensi ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermasdes) menggelar pelatihan pembuatan piring lidi.

Kepala Seksi Kerja-sama dan Kawasan Dinpermasdes Purbalingga, Yeyet Cahyono mengatakan pelatihan pembuatan piring lidi ini merupakan salah satu program Dinpemasdes Purbalingga yakni Program terpadu Pemberdayaan Masyarakat yang Berprespektif Gender (P2MBG). Sebanyak 30 warga Desa Candinata mengikuti pelatihan ini.

“Dan itu sangat dimungkinkan karena itu tidak begitu repot buatnya, bahan bakunya ada terus prakteknya juga gampang tidak makan pikiran hanya dibutuhkan keterampilan yang bisa dilakukan semua orang yang mantap dan berminat sekali untuk bisa,” ucap dia, Rabu (24/7).

Dia mengemukakan, pelatihan pembuatan piring lidi dilakukan karena kini sudah semakin populer. “Saat ini sudah banyak keluarga atau rumah makan menggunakan piring lidi ini, sehingga ke depan pasarannya tidak akan mengalami kerepotan,” ujarnya.

Desa Candinata ini dipilih sebagai percontohan, karena melihat potensi desa dimana ada banyak sekali lidi. Sehingga nanti ke depan tidak perlu repot mencari lidi meskipun bahan bakunya kurang akan dipasok dari daerah lain penghasil lidi.

“Kita tidak perlu repot-repot cari lidi karena di desa sini kan banyak lidi kalaupun kurang nanti sudah ada daerah lain yang menghasilkan lidi,” ujarnya.

Dia mengatakan, pelatihan  itu merupakan kerja sama Dinpermades dengan dengan Dinkop UKM Purbalingga. Dinkop UKM juga akan terlibat dalam pemasarannya.

Menurut dia, Dinpermasdes Purbalingga setelah pelatihan ini selesai pun akan terus memantau secara terjadwal  sejauh mana pembuatan piring lidi dan pemasarannya. Dinpermades akan mendampingi para pengrajin yang terfasilitasi pada pelatihan pertama ini.

“Selanjutnya mereka mengembangkan sendiri tapi mereka tetap dalam pantauan dari kita, pada saatnya nanti kita ada monitoring dan evaluasi kekurangannya apa nanti akan kita bina,” katanya. (maya)